Home / Berita / Opini / LHI, Pemilu dan Pencarian Keadilan

LHI, Pemilu dan Pencarian Keadilan

LHI dan pengacaradakwatuna.com – Jakarta.  Terkait vonis hakim tipikor kepada LHI, dan kaitannya dengan politik, PKS, dan pemilu 2014.

Berikut beberapa premise berfikir saya (sejak awal kasus ini mencuat):
– PKS, KPK, LHI, dan Hakim — adalah manusia yang bisa benar dan salah
– Setiap orang sama di depan hukum
– Proses peradilan harus tetap dihormati
– Parpol masih diperlukan dalam sistem demokrasi
– Jikapun ada orang jahat, saya yakin dunia masih lebih banyak dihuni oleh mereka yang baik

Karenanya, mari cermati keputusan hakim itu dengan beberapa premise berfikir di atas. Saya mengerti banyak kader dan simpatisan PKS yang terkejut dengan keputusan hakim, sampai kemudian membandingkan dengan beberapa vonis hakim tipikor kepada beberapa tersangka korupsi yang lain. Namun, melakukan pembelaan dengan mengatakan bahwa proses pengadilan pasti salah bisa menjadi kontra produktif dan blunder baru bagi PKS sendiri. Berhati-hatilah!

LHI dan kuasa hukumnya sudah melakukan yang benar, yakni dengan melakukan banding. Itulah cara yang elegant untuk menchallenge keputusan hakim yang dianggap tidak adil itu. Bahwa memang mungkin saja ada kekeliruan dalam keputusan hakim. Cukup banyak kasus yang bisa kita jadikan pelajaran bahwa keputusan hakim bisa salah.

Karenanya bagi anda yang ’senang’ dengan keputusan hakim kemarin, mari juga hormati hak LHI dalam mencari keadilan melalui mekanisme hukum kita. Dengan banding ini, kasus LHI belum memiliki kekuatan hukum tetap – dia bisa salah dan juga bisa benar. Jangan lupa, bahwa dulu Misbakhun juga divonis bersalah oleh pengadilan, namun kemudian MA memutusnya tidak bersalah.

Bagaimana kalau LHI pada akhirnya diputus bersalah dan memiliki kekuatan hukum tetap? Saya pikir semua kita harus menerima itu sebagai fakta hukum. Pada titik itu, saya pikir setiap orang harus menghormatinya. Dan saatnya LHI dan mungkin juga PKS untuk terus merefleksi dan introspeksi diri.

Apakah akan ada hubungannya keputusan hakim ini dengan elektabilitas PKS di 2014? Sangat mungkin ada. Dan ini sudah banyak dibahas. Namun, saya masih optimis bahwa jikapun LHI dipersepsikan bersalah (sampai ada keputusan hukum tetap), pengaruhnya tidak akan sampai ‘mengkiamatkan’ PKS. Dalam pandangan saya, PKS terlalu besar untuk dipersonalisasi dengan sosok LHI.

Apalagi, pada tahun 2014 persepsi masyarakat tentang parpol akan relatif sama. Dan banyak orang mungkin akan lebih memilih figur. Saya percaya bahwa masih banyak pribadi-pribadi yang baik yang ada di dalam PKS. Saya yakin bahwa jutaan kader PKS yang tersebar di seantero negeri dan bahkan di manca negara terus beramal kebaikan.

Karenanya, teruslah bekerja dan berbakti untuk masyarakat. Dengar dan resapi semua kritikan atau bahkan caci maki itu. Dan jawablah dengan kerja, kerja, dan kerja. Hanya dengan amal kebaikanlah anda bisa membuat para pengkritik itu diam dengan sendirinya.

Dengan pemikiran seperti itu, saya tetap akan memilih di 2014. Saya tidak akan golput, karena golput tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

Apakah saya akan memilih partai yang kadernya disangkakan korupsi? Jawaban saya, jika anda bisa memberikan alternatif ‘partai malaikat’, saya akan pilih itu. Jika tidak, saya akan memilih ‘pribadi terbaik di antara yang buruk’.

Apakah saya tidak akan memilih partai? Dari dulu saya memang tidak memilih partai an sich dalam pemilu. Saya memilih orang, dan partai bagi saya adalah kumpulan manusia. Tidak ada partai yang isinya ‘hantu blawu’ kan? Karenanya, saya akan memilih mereka yang ada dalam kumpulan ‘relatif baik’.

Itu pandangan pribadi saya. Kalian tentu boleh memiliki pandangan sendiri.  (ad/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (38 votes, average: 8,37 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Afrianto Daud
Penulis adalah pendidik dan pemerhati masalah sosial kemasyarakatan. Pernah menjadi sekjen KAMMI Sumbar 1998-2000 dan saat ini sedang menjalani studi doktoral di di Monash University Australia. Selain menempuh studi, penulis juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan di Victoria termasuk menjadi aktivis Monash Indonesian Islamic Society (MIIS)
  • komendanu

    hmmm…oke

Lihat Juga

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah.  (kompas.com)

Menyikapi Fenomena Fahri Hamzah: Sudahkah Kita Berlaku Adil?