Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Mengukur Keikhlasan dalam Berdakwah

Mengukur Keikhlasan dalam Berdakwah

ilustrasi
ilustrasi

dakwatuna.com – Mendakwahi orang lain agar taat kepada Allah swt, dan memperjuangkan agama Allah swt. agar tegak di atas bumi adalah amalan yang sangat berat. Namun demikian, amalan ini hanya akan berbobot di sisi Allah swt. jika dilaksanakan dengan cara yang ikhlas.

Seorang da’i hendaknya mengukur keikhlasannya dalam berdakwah. Hatinya harus selalu dalam pantauannya. Jangan sampai ada pergeseran orientasi dalam tugas-tugas dakwahnya. Perubahan orientasi dalam berdakwah juga bisa dilihat dan dirasakan dalam sikap dan tingkah laku seorang da’i. Berikut beberapa pertanyaan yang bisa digunakan seorang da’i dalam mengukur (muhasabah) apakah dirinya masih ikhlas kepada Allah swt. atau tidak.

  1. Apakah aku malu dengan amalanku yang jauh dari sempurna?
  2. Apakah aku khawatir amalanku diketahui orang lain sehingga bisa membuatnya rusak?
  3. Benarkah aku tidak mengharap pujian orang lain dan tidak peduli dengan celaan mereka?
  4. Apakah aku tidak menceritakan amalan yang kuperbuat?
  5. Sudahkah aku berusaha menutupi amalanku?
  6. Benarkah aku tidak peduli dengan posisiku dalam dakwahku?
  7. Sudahkah aku puas dan kecewa karena Allah, dan bukan demi diriku sendiri?
  8. Apakah aku tetap ingin beramal tanpa menghiraukan hambatan dan rintangan?
  9. Apakah aku turut berbahagia dengan keberhasilan temanku dalam berdakwah?
  10. Sudahkah aku membantu temanku mencapai kesuksesannya?
  11. Sudahkah aku berjerih-payah dalam melaksanakan tugasku?
  12. Sudahkah aku benar-benar dalam dalam berkata dan berbuat?
  13. Apakah aku tetap ridha kepada Allah swt. saat bahagia dan duka?
  14. Sudahkah aku mengakui kebaikan orang lain, dan berterimakasih kepadanya?
  15. Sudahkah aku melakukan introspeksi diri, lalu tak pernah  puas dengan keadaannya?
  16. Sudahkah aku menyebarkan dakwah ini kepada orang lain tanpa memandang siapa dia?
  17. Sudahkah aku menghormati ulama dan pendahulu dalam dakwah ini?
  18. Sudahkah aku berani menyampaikan dakwahku kepada orang lain, lalu berpegang teguh pada manhajnya?
  19. Apakah perilakuku sesuai dengan apa yang kudakwahkan?
  20. Benarkah aku tidak mengambil manfaat pribadi dari tugasku berdakwah?
  21. Benarkah aku tidak menghiraukan hadiah dan pemberian karena tugasku di dakwah?
  22. Apakah aku telah tawadhu dan tidak menyombongkan diri kepada rekan dakwah yang lain?
  23. Benarkah aku tidak mengikuti hawa nafsu dan berambisi mendapatkan posisi tertentu?
  24. Benarkah aku tidak berbasa-basi yang berakibat merugikan dakwah?
  25. Apakah aku berlapang dada dalam menerima nasihat?
  26. Benarkah aku tidak pamer, menonjolkan keistimewaanku agar dihormati?
  27. Benarkah aku tidak mengada-ada alasan saat kurang sempurna dalam melaksanakan tugas?
  28. Benarkah aku tidak keras kepala dengan pendapatku, dan mau mengalah?
  29. Sudahkah aku lebih senang dengan amalan yang tidak banyak diketahui orang?
  30. Benarkah aku beramal untuk memperjuangkan ridha Allah SWT, sehingga panjangnya jalan tidak membuatku malas dan futur?

Muhasabah ini hendaknya selalu dilakukan, karena hati sangatlah cepat berubah. Di pagi hari mungkin seseorang masih mukmin, di sore harinya telah berubah menjadi kafir. Seperti disabdakan Rasulullah saw. (msa/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,73 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

Ilustrasi - Aksi aktivis dakwah kampus dalam isu Timur Tengah. (Ary)

Kajian Core Competence Dakwah Kampus