Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Kejahatan Bisa Mendarah-Daging

Kejahatan Bisa Mendarah-Daging

ilustrasi
ilustrasi

dakwatuna.com – “Haa… Serigala itu shalat?! Lihat, dia tepekur diam. Tak lama kemudian melakukan ruku’, lalu sujud. Iya benar… serigala itu shalat.”Orang yang awam dengan semak belukar hutan itu berteriak heran. Beberapa saat mulutnya menganga dengan mata terbelalak. Selama ini yang dia tahu, serigala adalah makhluk yang sangat jahat, berotak licik, tidak ada setitik kebaikan pun di hatinya. Tapi kini ia melihat sendiri, ternyata makhluk itu tidak seburuk yang ia bayangkan. Bahkan serigala itu shalat.

Sepotong adegan tadi hampir menjungkirkan definisi baku serigala. Hal itu terjadi tak lain karena dia belum mengenal hutan. Dia tidak biasa melihat keseharian serigala. Dari bangun tidur hingga tidur lagi. A-Z hutan mungkin hanya didapatkan dari dongeng Si Kancil Anak Nakal. Kejahatan serigala pun hanya dia lihat dari kisah-kisah kartun Walt Disney; yang menvisualkan serigala dengan lidah selalu terjulur, tak hentinya meneteskan air liur tanda ketamakan yang tak berujung.

Rimba itu luas. Menyimpan beribu hewan dengan bermacam watak. Ada yang buas, jinak, manja, pemalu, penakut, jahat, kejam, juga licik. Kebuasan jenis pemangsa pun bertingkat. Dari cara mereka membunuh; ada yang menerkam, menggigit, meracuni, dan lainnya. Dari kebiasaan mereka; ada yang menerkam saat lapar saja; tapi ada juga yang setiap saat harus menerkam. Ada yang makan hasil buruan sendiri; tapi ada juga yang hanya bisa makan dari merampas yang lain. Pemangsa yang hanya buas jika lapar, akan terlihat sedikit kalem setelah makan. Bagi yang biasa makan dari keringat sendiri, takkan ngiler saat melihat yang lain melahap mangsanya.

Lalu, ada apa dengan serigala? Orang Arab berkata, “Jika ada orang memelihara serigala, berarti dia telah berbuat aniaya.” Benar, aniaya terhadap kambing-kambing yang ada di sekitar. Atau aniaya terhadap diri serigala sendiri. Karena dia ingin merubah serigala, padahal selamanya serigala tidak bisa dipaksa jinak layaknya hewan piara yang santun dan patut disayang. Pikirannya adalah membunuh dan merampas. Pernahkah kita melihat sirkus yang menampilkan serigala? Binatang sebuas singa, se-ngeri beruang, sebesar gajah, masih bisa menurut dan berlaku simpatik. Tapi tidak untuk serigala. Jadi, percayakah kita serigala itu sudah berubah? Sudah lembut? Atau bahkan mau shalat?

Pada kejadian aneh di atas, serigala itu ternyata bukan sedang shalat. Melainkan sedang lemah dan kelaparan. Dia hanya diam dan tepekur, karena untuk bertingkah seperti serigala lainnya diperlukan cukup energi. Kelamaan, tenaganya yang tak seberapa makin berkurang, posisinya pun berubah menjadi seperti sedang ruku’. Kian lama kian turun, hingga layaknya seorang yang sedang sujud. Moncongnya bergerak-gerak, bukan sedang berdoa. Tapi sedang mengesali nasibnya, “Kenapa sampai sesore ini tidak ada seekor mangsa pun kudapatkan?”

Dalam hidup ini, kita sudah terlalu akrab dengan kejahatan. Sehari-hari, kita dapati di kanan-kiri. Dengan berbagai model dan ukuran. Kita bahkan seperti hidup di rimba yang buas. Tak ada kejinakan dan kelembutan lagi. Ada yang mencuri karena lapar, atau hanya karena sedotan uang yang ditumpuk di kantornya; memperkosa karena kemolekan bersliweran; bengis dalam character assassination hanya karena politik; dan masih banyak lagi.

Seringnya, kejahatan muncul tak lebih karena sebuah sebab. Banyak sekali penyebabnya. Dari yang besar dan ideologis, hingga yang sangat remeh dan sepele. Tapi ada saatnya, kejahatan muncul spontan saja. Saat kejahatan telah mendarah daging; bersenyawa dengan otak dan hati. Seperti terjadi pada serigala. Padanya, kejahatan yang abstrak berhasil terjelma dalam sesuatu yang dimensional. Kejahatan adalah serigala, dan serigala adalah kejahatan. Jika demikian, tanpa sebab apa-apa, seseorang bisa berbuat sangat kejam. Kekerasan akan muncul sebagai aksi, bukan lagi reaksi. Bukankah mengherankan, orang yang beristri cantik, ternyata memperkosa? Seorang yang diakui berilmu, berintegritas moral, terpandang, berkecukupan harta, tapi ternyata tergiur dengan uang rakyat?

Kejahatan semacam sudah marak. Padahal di hutan saja, kawanan serigala hanya minoritas. Kenapa bisa terjadi? Mungkinkah kita terlalu toleran? Apalagi dengan kejahatan teri? Nyatanya kejahatan adalah hidup. Terus tumbuh dan berkembang. Dia bagai anak susuan yang harus cepat disapih. Kalau tidak, sampai besar pun dia akan tetap menggelayut di tubuh ibunya. Kejahatan bila telah menjadi sumber inspirasi seseorang, mustahil wataknya akan berubah. Dia akan ajeg jahat selamanya.

“Hati manusia, bila kerusakannya telah sampai pada tingkatan tertentu, takkan bisa diperbaiki. Kesesatan, bila telah mencapai titik tertentu, takkan bisa diterangi cahaya petunjuk.” Demikian seorang ahli tafsir menyimpulkan surat At-Taubah: 80. Rasulullah SAW selalu memintakan ampun bagi semua penjahat. Tapi ada satu kelas penjahat yang tak berhasil mendapatkan ampunan Allah. Istighfar beliau ditolak! Allah tahu bahwa mereka sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Kejahatan akan mereka bawa mati.

Tak ayal lagi, kejahatan mesti diperangi. Kecil bukan untuk diacuhkan; sepele bukan untuk diremehkan. Karena apapun bentuknya, semua kejahatan adalah saudara kandung. Terlahir dari satu ayah dan satu ibu; setan dan hawa nafsu. Wallahu A’lam. (msa/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,40 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

Hatiku Hanya Terpaut Untuk-Mu