Home / Berita / Silaturahim / Marbot yang Gigih Menuntut Ilmu

Marbot yang Gigih Menuntut Ilmu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Imam Fathurozy
Imam Fathurozy

dakwatuna.com – Jakarta. Bila sedang bekerja, Imam Fathurozy (24 tahun) nampak sama dengan marbot lainnya di Masjid Tanah Abang Blok A, Jakarta Pusat. Sigap membersihkan masjid, halaman, dan tempat wudhu. Namun ketika istirahat, nampak dirinya sedang membaca buku atau sedang menulis makalah sebagaimana layaknya mahasiswa.

Ya, disamping sebagai marbot, Imam  memang seorang mahasiswa. Sejak April 2012 terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Az-Zahra Jakarta Jurusan Ekonomi Islam. Sekarang sudah duduk di semester tiga.

Perjuangan anak penjual bakso keliling agar bisa kuliah tidaklah mudah. Berbekal tekad untuk merubah nasib keluarga, warga Desa Traju DK Kada RT 03/03 Kecamatan Bumi Jawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah tersebut pada 2011 merantau ke Jakarta.

Dengan modal ijazah SMP, Imam diterima bekerja sebagai penjaga gudang di Gajah Mada. Namun, waktunya tersita habis untuk bekerja, padahal Imam berharap dapat bekerja sembari meneruskan sekolah ke SMA.

Tiga bulan kemudian, Imam diajak mengantar barang ke Tanah Abang. Karena waktu Dzuhur sudah masuk, ia pun shalat di Masjid Tanah Abang Blok A. Di sana ia pun memberanikan diri untuk melamar jadi marbot dan diterima. Maka, di samping bekerja sebagai marbot ia bisa meneruskan sekolah Kejar Paket C (setara SMA) di PKBM 23 Kebon Melati, Tanah Abang.

Lulus Paket C pada 2012, ia pun langsung meneruskan kuliah. Tadinya, ia ingin mengambil kelas reguler. Namun, di samping  lebih mahal biayanya, ia pun tidak bisa membagi waktu dengan pekerjaannya karena harus masuk kuliah setiap hari. Sementara di kampusnya tersedia pula fasilitas kelas karyawan,  biayanya lebih murah dan kuliahnya hanya Sabtu dan Ahad.  Berdasarkan pertimbangan itu, ia pun masuk kelas karyawan.

Tapi ternyata uang tabungannya selama menjadi marbot hanya cukup untuk mendaftar  sebagai mahasiswa baru. Belum terbayang dibenaknya saat itu untuk membayar iuran kuliah persemesternya akan didapat dari mana, tapi ia tetap mendaftar. “Modal nekad, Mas, min haisu laa yahtashib ([semoga Allah memberikan rizki] dari arah yang tidak disangka-sangka),” tutur Iman mantap.

Dan benar saja, untuk semester pertama ada seorang dermawan yang mau menutupi biaya kuliahnya untuk satu semester. Namun untuk semester dua dan tiga ini, belum ada dana yang tersedia. Meski demikian Imam tetap rajin kuliah dan mengikuti ujian, toh selama ini pihak kampus tidak melarang mahasiswanya mengikuti kuliah dan ujian walau belum melunasi biaya perkuliahannya.

Namun, betapa sedihnya Imam, ketika pihak kampus mengeluarkan aturan baru. Setiap mahasiswa tidak diperkenankan mengikuti ujian, bila belum melunasi biaya kuliah.

Dia merasa sia-sia kalau kuliah tetapi tidak bisa ikut ujian. Dan ia kuatir ke depannya bukan cuma ujian saja yang tidak boleh diikuti, bisa jadi tidak diizinkan ikut kuliah. Tetapi apalah daya, gajinya sebagai marbot yang Rp 700 ribu per bulan itu, sudah habis hanya untuk ongkos, makan, dan perlengkapan kuliah.

Karena itu, melalui tangan-tangan dermawan yang membaca kisahnya ini, sudi menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu biaya kuliah Imam sebesar Rp 2.400.000,-  per semester tersebut. (ded/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Deddy S

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sejak kecil menggemari segala jenis masakan. Hingga kini senang membaca dan mengakrabi aksara.

Lihat Juga

Ilustrasi. (ridwansyahyusufachmad.wordpress.com)

Medan Perang Intelektual Dakwah Kampus