Home / Berita / Internasional / Afrika / Konflik di Afrika Tengah, 54 Mayat ditemukan di Ruang Shalat

Konflik di Afrika Tengah, 54 Mayat ditemukan di Ruang Shalat

Pengungsi korban konflik di AfrikaTengah (inet)
Pengungsi korban konflik di AfrikaTengah (inet)

dakwatuna.com – Bangui.  Sekitar 80 mayat ditemukan tergeletak di sebuah masjid dan jalan-jalan sekitarnya di Bangui, ibu kota Republik Afrika Tengah, Kamis, setelah kekerasan semalam. Demikian dilaporkan wartawan AFP.

Di masjid PK 5, 54 mayat dengan luka-luka tikaman pisau dan tembakan tergeletak di ruang shalat dan halaman. Di jalan-jalan yang berdekatan, wartawan menghitung 25 mayat lain.

“Mayat-mayat itu dibawa ke sini pagi ini oleh orang-orang dari daerah sekitar,” kata seorang petugas masjid yang tidak mau disebutkan namanya kepada AFP.

Masjid itu dipenuhi pria dan wanita yang datang untuk mencari orang-orang yang mereka cintai. Dalam tanda ketegangan yang terus berlangsung, sejumlah orang mengitari masjid itu dengan membawa kapak Jalan-jalan di dekatnya ditinggalkan penduduk dan hanya terlihat mayat-mayat tergeletak..

Kelompok bantuan Dokter Tanpa Batas (MSF) menyebut jumlah korban tewas di salah satu rumah sakit sebanyak 10 orang dan 65 orang cedera. Semuanya akibat tembakan atau tikaman senjata tajam.

Diperkirakan sejumlah rumah sakit lain di kota itu juga menampung korban-korban yang tewas dan cedera dalam gelombang baru kekerasan itu.

Kamis diawali dengan suara tembakan sebelum fajar di daerah utara Bangui. Kekerasan itu segera menyebar ke daerah-daerah lain dengan tembakan senapan otomatis dan senjata berat, sebelum kemudian mereda dan hanya terdengar tembakan sporadis di sejumlah daerah.

Sekitar 250 prajurit Prancis ditempatkan di jalan-jalan kota itu beberapa jam sebelum Dewan Keamanan PBB mensahkan intervensi besar militer Prancis-Afrika untuk menghentikan kekerasan di Republik Afrika Tengah.

Negara itu dilanda kekacauan dan kekerasan sektarian antara komunitas Kristen dan Islam sejak gerakan pemberontak Seleka menggulingkan Presiden Francois Bozize pada Maret setelah perjanjian perdamaian gagal. (rol/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (32 votes, average: 7,34 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.
  • Muhamad Soleh

    Sangat Biadab.

  • Bahtiar Kelana

    Lakhnatulloh.

Lihat Juga

Gema Adzan Kembali Berkumandang dari Menara Hagia Sophia di Istanbul