Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Jelajahi Kemampuan Anak

Jelajahi Kemampuan Anak

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Mata anak-anak adalah cahaya
Di tangannya, kardus menjelma laptop
Mata anak-anak adalah cahaya
Di tangannya, tanah liat berubah jadi kue brownies
Mata anak-anak adalah cahaya
Di tangannya, rerumputan & dedaunan pun jadi mahkota
Mata anak-anak adalah cahaya
Di tangan anak-anak, semuanya menjadi mungkin
Sesuatu yang tak dipercayai menjadi mungkin oleh orang dewasa

Ilustrasi. (islamicstyle.al-habib.info / nurelyana)
Ilustrasi. (islamicstyle.al-habib.info / nurelyana)

dakwatuna.comMata anak-anak adalah cahaya. Anak-anak punya segudang imajinasi dan ide-ide. Kemampuan anak tidak terbatas. Melampaui ruang-ruang ketidakmungkinan. Melihat segala kemungkinan. Menyelami palung-palung dan dasar lautan imajinasi. Mendaki tingginya gunung. Melesat ke atas langit. Menjelajah seluas angkasa. Anak-anak memiliki banyak ide yang ingin ditampilkannya dan dihargai.

Sayangnya, lingkungan lebih sering membunuh kreativitas dan bakat-bakat alami mereka daripada menumbuhkannya. Menurut Munif Chatib, sesungguhnya lingkunganlah yang banyak berperan membentuk konsep diri anak. Komponen lingkungan itu adalah orang tua, guru, teman, dan orang lain di sekitarnya. Jika orang tua atau lingkungan anak gemar melakukan discovering ability maka dalam diri anak akan terbangun konsep diri yang positif.

Sebaliknya, discovering disability atau fokus pada ketidakmampuan anak pun dapat kita lakukan. Bahkan amat mudah untuk dilakukan. Cukup dengan memberinya sederet label negatif yang mematikan potensinya. Seberapa seringkah kita sebagai guru atau orang tua memotret kemampuan daripada ketidakmampuan anak? Atau seberapa seringkah kita sebagai guru atau orang tua “menghadiahi” mereka? Dengan pelukan, ucapan semangat, atau apresiasi ketika sang anak melakukan hal-hal positif. Walaupun yang mereka lakukan itu adalah kebaikan sebesar biji sawi.

Anak berumur 6-12 tahun yang perkembangannya normal menunjukkan tingkah laku produktif tinggi (Erikson, 1960). Pada periode ini anak ingin berbuat sesuatu yang menunjukkan hasil. Oleh karena itu, guru atau orang tua hendaknya memberi kesempatan dan rangsangan agar anak dapat mengembangkan berbagai keterampilannya. Di samping itu, yang lebih penting lagi adalah sikap menghargai ide dan berbagai ciptaan anak dengan sengaja, bukan hanya secara sambil lalu. Jika guru dan orang tua dapat melakukan hal itu maka dalam diri anak akan timbul perasaan yakin diri bahwa ia mampu dan harga dirinya akan meningkat.

Membatasi kemampuan mereka. Memberi pelabelan negatif. Sering memotret sisi kesalahannya. Atau Sikap acuh tak acuh terhadap ide-ide dan karya mereka akan memunculkan konsep diri negatif. Dan hal itulah yang terjadi pada beberapa siswaku. Pernah suatu hari, ketika kami sedang asyik berkreasi. Anak-anakku memang sangat menyukai kreasi. Saking sukanya, terkadang mereka bisa lupa waktu dan enggan pulang ke rumah jika tidak diingatkan. Kejadian ini memberiku pelajaran berharga. Sebagai seorang guru harus belajar menghargai hasil dan jerih payah siswa sekecil apa pun.

Waktu itu, salah satu siswaku membuat karyanya, dengan bangga ia memamerkan hasil jerih payahnya. Tentu saja dengan sebuah harapan mendapatkan penghargaan berupa pujian atau apresiasi lainnya. Namun, yang kulakukan adalah dengan penghargaan sambil lalu. Dan lebih memotret kesalahannya. Satu sikap yang harus kubayar mahal untuk menumbuhkan kembali kepercayaandirinya. Karena ternyata sejak saat itu, beberapa anak yang hadir waktu itu pun menjadi tidak percaya diri dalam berkarya.

Pelabelan-pelabelan lambat laun menjadi konsep diri pada anak dan akan sangat memengaruhi cara berpikirnya. Melihat anak dari sisi kesalahannya saja, atau tidak pernah melihatnya melakukan hal-hal baik merupakan upaya menguatkan sisi negatif dan kelemahan anak. Dan hal ini berakibat buruk pada masa yang akan datang. Ia hanya akan menyebut dirinya “aku lemah”, aku bodoh,” aku malas,” dan “aku nakal”. Sebaliknya, upaya positif dalam menjelajahi kemampuan anak sangat bisa dilakukan oleh lingkungan, orang tua dan guru. Salah satunya dengan menyebut dirinya “kamu bisa”, anak baik”, atau “anak shalih”.

Semoga, kita selalu bisa belajar, melihat sisi-sisi yang tidak terlihat pada diri anak. Menjadikan mereka berdaya, percaya diri dan meyakinkan bahwa mereka bisa. Sikap dan penyampaian yang tidak tepat bisa berakibat fatal. Mematikan daya kemampuan anak yang luasnya bagai samudera tak bertepi. Dampaknya, bukan satu atau dua tahun saja, namun bisa  saja seumur hidup.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 8,38 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Naia Athiyah
Prakstisi pendidikan, guru bantu di sekolah pelosok SDN 29 Manggelewa, Dompu NTB (Sekolah Guru Indonesia angkatan 4, Dompet Dhuafa). Pembelajar. Ingin seperti padi. Makin berisi makin merunduk
  • Erma Maria

    Subhanalloh….membuat saya selalu merenung bila sudah membaca tentang anak “makhluk yang terunik” sungguh materi yang sederhana tetapi sangattttt mendalam buat saya sebagai ibu.

    • naia athiyah

      alhamdulillah, smga bermanfaat bu…^_^ sbgai pengingat buat sy yg sdg bljr mndidk. setiap anak mmg memiliki keistimewaanx masing-masing. siswa2ku yg kdg dianggap “badung” sj, ttp adlh anak2 yg bisa berbuat “manis” dimata sy. smga kita slalu bs mlhat hal2 baik dari mrk.

Lihat Juga

Pesan Ibu untuk Sang Anak, Ikut Aksi 4 November