Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Dayat (Bukan) Anak Bodoh

Dayat (Bukan) Anak Bodoh

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Naia Athiyah)
(Naia Athiyah)

dakwatuna.com Setiap anak punya “mutiaranya” sendiri. Bukankah setiap anak memiliki potensi masing-masing? Sungguh tak adil ketika indikator kepandaian selalu dilekatkan pada sisi kognitif semata. Sedangkan sisi afektif dan psikomotorik lainnya menjadi terabaikan. Sayangnya, dua kemampuan ini cenderung masih (ter)diabaikan di sekolah-sekolah. Jika saja, sekolah dan guru mampu menghargai dua kemampuan itu maka setiap anak mampu tumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang unggul di bidangnya masing-masing. Sikap menghargai itu pulalah yang akan menimbulkan perasaan yakin diri bahwa si anak mampu dan harga dirinya akan meningkat.

Dayat, demikian teman-temannya selalu memanggil. Salah satu siswa kelas IV di SDN 29 Manggelewa; tempatku mengabdi. Seragam merah putih yang mulai kecoklatan setia membalut tubuh kurusnya. Kelambatannya dalam membaca membuatnya dicap sebagai anak yang bodoh. Hal itu pula yang membuatnya hampir tidak naik kelas.

Pagi-pagi, Dayat sudah muncul di depan sekolah. Berboncengan dengan kakak yang kini duduk di bangku SMP. Sekitar kurang lebih 2-3 km harus ia tempuh setiap harinya. Seringkali,  ia dan temannya berjalan kaki. Beberapa siswaku memang harus berjalan kaki lumayan jauh.  Akses kendaraan yang sulit. Jalanan tanpa aspal dan berdebu ketika musim kemarau juga tentu menjadi becek di musim penghujan. Membeli sepeda bukanlah kebutuhan utama bagi mereka karena masih banyak kebutuhan lainnya yang harus dan lebih mendesak untuk dipenuhi.

Bagi saya, Dayat adalah anak cerdas yang memiliki kemampuan afektif yang dahsyat;  kepekaannya pada sesama. Kejadian spesial yang selalu saya ingat adalah ketika salah satu teman kelasnya bernama Obi terluka. Siku dan lututnya lecet dan berdarah karena terjerembab waktu main bola. Daun golkar demikian anak-anakku menyebutnya. Dedaunan itu ditumbuk dengan batu dijadikan sebagai obat luka luar. Seperti sang tabib, Dayat mengolesi dan menempelkan daun-daun itu pada luka Obi. Waktu itu, banyak teman-temannya yang berkerumun dan hanya melihat. Hanya Dayatlah yang berlari mencari dedaunan itu lalu kembali lagi mengobati temannya.

Siswa kelas IV sebagian besar terdiri dari anak laki-laki. Hanya ada enam orang siswa perempuan dari 20 siswa di kelas itu. Sebelum memampang aturan kelas, dan mengajarkan beberapa tepukan aba-aba pengalihan kelas, mengondisikan dan mendisiplinkan kelas selalu membutuhkan tenaga ekstra. Saat itu, anak-anak agak kurang terkondisikan. Sebagian besar anak asyik dengan ‘kehebohannya’ masing-masing.

Tedduuukkk…lellah, bu guru! (diam, ibu guru capek!)” kata Dayat mendiamkan temannya yang sedang ribut. Saat itu kelas memang sedang ribut. Pasalnya, siswa laki-laki sedang asyik berkejaran.  Hanya Dayatlah yang peka dengan saya waktu itu, sementara yang lainnya asyik.

Pernah suatu hari, kejadian di waktu pagi. Biasanya kami melakukan Aksi Pagi Bersih Berpahala.  Pagi itu, kuarak siswa untuk memindahkan lokasi pembuangan sampah yang ada di antara dua kelas; tiga dan empat. Sampah beterbangan dan bertebaran. Pemandangan yang kurang nyaman terlihat. Mulailah kami mengumpulkan bebatuan di area lingkungan sekolah. Siswa berlomba mencari batu. Menutupi lubang sampah yang lumayan lebar. Saat sedang asyik mengumpulkan batu satu per satu. Tiba-tiba dari arah gerbang sekolah, Dayat datang dengan menyeret sebuah gerobak berisi bebatuan. Teman-temannya pun seketika bergerombol dan berkerumun mendorong gerobak. Dengan girang mereka mencari bebatuan di halaman sekolah. Inisiatif tingkat tinggi! Salut. Kagum dengan inisiatifnya. Bahkan anak yang selalu dicap bodoh ini pun mengajari gurunya. Tak ada seorang pun yang berpikir mencari gerobak untuk mengangkut batu-batu.

Pemberani dan penuh rasa ingin tahu hal yang melekat pada Dayat berikutnya. Masih teringat jelas, Saat itu, saya meminta anak-anak untuk maju memimpin doa. Hanya beberapa anak yang mau mengacungkan tangannya, salah satunya Dayat. Kami pun memberikan tepuk keren atas keberaniannya maju ke depan kelas memimpin doa. Sejak saat itulah ia pun selalu bersemangat mengacungkan tangan.   Ia juga termasuk siswa yang rajin dan bersemangat menuntut ilmu. Terbukti dari semangatnya hadir dalam pengajian di TPA ustadz Mi’ Jaya yang diadakan setelah Maghrib. Berjalan cukup jauh di malam hari tak menjadi halangan.

Buka mata, buka hati maka anak-anak akan mengajari kita dengan sangat bijak dan mendewasakan. Merekalah guru-guru cilik dan energiku di sini. Jauh dari keluarga, saudara dan kawan takkan membuatku sepi. Karena ada mereka yang selalu menjadikan hari-hariku penuh warna. Melihat senyuman mereka menjadi energi tersendiri setiap harinya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (17 votes, average: 9,12 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Naia Athiyah
Prakstisi pendidikan, guru bantu di sekolah pelosok SDN 29 Manggelewa, Dompu NTB (Sekolah Guru Indonesia angkatan 4, Dompet Dhuafa). Pembelajar. Ingin seperti padi. Makin berisi makin merunduk
  • Qowwasaqozah

    Masya Allah ^^d

  • Erma Maria

    Setuju…senyum mereka menjadi energi tersendiri buat kita, sayapun merasakannya walau hanya guru dimesjid, siapa lagi yang akan peduli dengan lingkungan kita…kalau hati kita tidak tergerak…pergerakan/perubahan hanya impian belaka…

  • naia athiyah

    iya…saat hati sy sdikit letih,biasax tinggal membuka file foto2 mreka. dan dgn sndirix energi smangat itu akan kmbeli mengaliri hati ^_^

Lihat Juga

Pesan Ibu untuk Sang Anak, Ikut Aksi 4 November