Home / Pemuda / Cerpen / Renungan Dalam Canda

Renungan Dalam Canda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Malam hari selepas Isya merupakan waktu khusus bagi Ihsan dan Amir untuk bercengkerama dengan Al-Quran. Yup, sepekan lima kali mereka berdua akan belajar mengaji di rumah Ustadz Salman bersama beberapa pemuda desa lainnya. Meskipun sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), Ihsan dan Amir merasa masih harus banyak belajar tentang Al-Quran.

Demi mencairkan suasana, Amir membuka percakapan dengan Ihsan. Amir yang ceplas-ceplos seringkali memberikan pertanyaan yang terdengar nyeleneh, namun memiliki jawaban sarat makna yang terkandung di dalamnya.

“Kamu tahu nggak bedanya pemuda zaman dahulu dengan zaman sekarang?”

Nggak tahu. Memang bedanya apa?” Ihsan balik bertanya kepada Amir.

“Kalau zaman dahulu, berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuubah dunia. Kalau zaman sekarang, berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kubentuk boyband,” jawab Amir dengan senyum khasnya sehingga kedua lesung pipitnya terlihat.

“Kamu bisa aja, Mir.”

Di tengah perjalanan, mereka berdua bertemu dengan Romi. Langsung terlintas dalam benak Ihsan untuk mengajak Romi yang kebetulan belum pernah ikutan mengaji. Romi satu tipe dengan Amir. Jadi, Ihsan sudah biasa menghadapi tipe orang yang seperti ini.

Assalamu’alaikum.” Ihsan mengucap salam dengan penuh santun.

Wa’alaikumsalam. Eh, Ihsan dan Amir. Kalian berdua pada mau ke mana?” tanya Romi.

“Mau belajar ngaji Al-Quran di rumah Ustadz Salman,” jawab Amir.

“Aku harus bilang ‘WOW’ gitu?” ujar Romi setengah bercanda.

“Eh, belajarnya itu dari ALIF, BA, TA, TSA dulu. Kalau huruf WAW masih jauh. Makanya, kamu ikutan ngaji supaya bisa cepat sampai WAW,” sergah Amir.

“Jadi, kamu mau ikut nggak? Teman-teman yang lain banyak yang ikutan kok. Kalau ada kamu, pasti kita lebih semangat belajar ngajinya,” ajak Ihsan lembut seraya menepuk-nepuk pundak Romi.

“Kamu mau tahu aja atau mau tahu banget?” celetuk Romi.

“Kamu mau ngeliatin di pintu surga aja atau mau masuk surga banget?” balas Amir.

Romi terdiam sejenak setelah mendengar perkataan terakhir dari Amir. Tidak berapa lama kemudian, sebuah keajaiban pun terjadi. Tanpa banyak basa-basi lagi, Romi mengikuti langkah kaki Ihsan dan Amir menuju rumah Ustadz Salman.

***

Seperti biasanya Ustadz Salman bercerita terlebih dahulu sebelum memulai kegiatan belajar mengaji. Kali ini beliau bercerita tentang Captain Tsubasa dan Kancil Mencuri Mentimun.

“Para pemuda Jepang itu bisa sukses seperti sekarang karena dahulu orangtua membiarkan mereka menonton film Captain Tsubasa. Memang film tersebut penuh dengan imajinasi dan khayalan tingkat tinggi. Namun, bagi mereka, Tsubasa adalah sosok seorang anak yang memiliki mental baja dan kegigihan dalam meraih mimpi dan cita-citanya. Itulah yang menjadi salah satu pelecut semangat sehingga mereka dapat menjadikan Jepang sebagai negara besar dan maju seperti sekarang ini. Sedangkan pemuda Indonesia, dahulu itu orangtua mereka hanya mempunyai satu dongeng favorit, yaitu Kancil Mencuri Mentimun. Tak heran jika sekarang ini korupsi merajalela, mulai dari korupsi waktu sampai dengan korupsi uang rakyat.”

Ihsan paham benar bahwa pemuda adalah sosok yang enerjik, penuh dengan semangat, cepat bereaksi, bergejolak ketika ada tantangan, dan serba ingin tahu. Ia pernah membaca sebuah pepatah Arab yang mengatakan bahwa, “Asy syabab al yaum huwa al ghad”. Artinya adalah pemuda hari ini adalah pemimpin di masa yang akan datang. Tentunya hal ini merupakan bentuk harapan terhadap peran pemuda, termasuk Ihsan, Amir, dan Romi, dalam membangun peradaban manusia menuju peradaban yang lebih maju lagi.

Jika suatu bangsa memiliki pemuda yang cerdas dan tangguh, maka akan majulah bangsa tersebut. Begitupun sebaliknya, jika suatu bangsa memiliki pemuda yang rusak, maka tunggulah kehancurannya. Mengapa hal tersebut bisa saling berkaitan? Karena di tangan para pemuda, estafet kepemimpinan berikutnya akan dilimpahkan. Jadi, peran pemuda tidak akan mungkin lepas dalam proses membangun peradaban suatu bangsa. Hal ini tercermin dari perjalanan sejarah dari zaman para Nabi sampai zaman modern seperti sekarang.

“Padahal Rasulullah SAW telah mengajarkan bagaimana cara mendidik pemuda. Didikan dan gemblengan dari beliau telah mampu memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap kemajuan peradaban Islam. Dalam usia yang sangat muda, terbentuklah karakter pemuda-pemuda luar biasa dalam diri Umar bin Khattab (27 tahun), Zaid bin Haritsah (20 tahun), Sa’ad bin Abi Waqash (17 tahun), bahkan Ali bin Abi Thalib (8 tahun). Luar biasa sekali bukan!” jelas Ustadz Salman dengan nada berapi-api.

“Betul kata, ustadz. Ditambah lagi kisah heroik para pemuda dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, seperti Pattimura, Jenderal Sudirman, Soekarno-Hatta, Budi Utomo, dan masih banyak lagi,” sambung Amir.

“Kalau kita bandingkan dengan pemuda zaman sekarang. Tentunya kita akan menemukan sebuah pemandangan ironis di mana pemuda yang seharusnya menjadi tumpuan masa depan kehidupan dan pengusung harapan, pada kenyataannya mayoritas generasi muda malah terperosok dalam lumpur budaya yang menyesatkan. Ironis bukan?” ujar Ihsan panjang lebar sembari melirik ke arah Romi.

Ciyus? Miapah?” timpal Romi.

“Yah, ini anak satu. Baru juga diceramahin panjang lebar. Eh, udah kumat lagi,” celetuk Amir.

Ihsan pun hanya bisa tersenyum kecil. Entah tersenyum karena melihat kelakuan teman-temannya atau karena melihat kenyataan yang terjadi pada pemuda zaman sekarang.

Akhirnya Ustadz Salman memulai kegiatan belajar mengaji Al-Quran. Ihsan pun berdoa dalam hati supaya para pemuda Islam dapat kembali kepada Al-Quran dan menjadikannya sebagai solusi.

#OneDayOneJuz

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Bayu Bondan
Bayu Bondan adalah nama pena dari penulis berkacamata ini. Setelah 4 tahun berguru kepada maestro angka, Alhamdulillah saya berhasil merengkuh toga gagah di kepala dan telah bekerja sebagai PNS di daerah Jakarta Pusat. Di sela-sela kesibukan aktivitas sehari-hari, saya mulai sedikit berpaling dari angka dan mencoba berteman dengan aksara. Biarkan saja pena menari dan lihat saja hasilnya nanti.

Lihat Juga

Ada Apa dengan Surat Al-Maidah?