Home / Berita / Profil / Mengenal Jejak Perjalanan Ilmiah Prof. Dr. Kamaluddin Nurdin Marjuni

Mengenal Jejak Perjalanan Ilmiah Prof. Dr. Kamaluddin Nurdin Marjuni

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Seorang Dosen Indonesia di Luar Negeri; BA (Al-Azhar University), MA & PhD (Cairo University)

dakwatuna.com – Prof. Dr. Kamaluddin Nurdin Marjuni, lahir di Soppeng, Makassar 1973, saat ini bertugas sebagai Associate Professor dan Ketua Jurusan Studi Aqidah & Agama di Universiti Sains Islam Malaysia yang dikenal dengan singkatan (USIM). Beliau anak dari kedua pasangan Drs. KH. Nurdin Marjuni & Hj. Munawwarah Rauf. Ayah beliau pendiri pesantren ”Syawarifiyyah”, Jakarta Utara.

Di masa kecil tepatnya kelas empat sekolah dasar sampai tamat, Kamal memulai menghafal Al-Qur’an dibimbing langsung oleh orang tuanya sendiri yang merupakan salah satu alumni pesantren Assa‘diyyah (salah satu pesantren tertua di Makassar).

Setelah menamatkan pendidikan sekolah dasar di Madrasah Ibtidaiyah At-Taqwa, Makassar, 1986. Kamal memulai perantauan ilmu dengan destinasi Jakarta, kemudian memilih melanjutkan pendidikan tsanawiyah di Pondok Pesantren Darul Rahman, Jakarta dan Bogor, tepatnya pada tahun 1987-1989. Selama 2 tahun di Darul Rahman, di pondok inilah Kamal mengenal dasar-dasar bahasa Arab dan keilmuan Islam, yang nantinya ia jadikan sebagai dasar pengembangan intelektualnya ke depan, kemudian pindah ke Madarasah Tsanawiyah Al-Ittihadiyah Jakarta Utara.

Untuk jenjang pendidikan Aliyah, kamal melanjutkan ke Madrasah Aliyah Al-Khairiyah Jakarta Utara, dan tercatat sebagai alumni kedua dari sekolah tersebut pada tahun 1991.

Pada tahun 1992, Kamal memulai lagi perantauan ilmu di luar negeri dan pilihannya ke negara Mesir, ia tercatat sebagai mahasiswa S1 di Fakultas Syari’ah, Al-Azhar Thanta. Dan hal yang menarik ketika di Al-Azhar, ia sempat tidak lulus di tahun pertama, disebabkan 3 mata kuliah yang nyangkut, ketika itu boleh lulus kalau hanya dua mata kuliah yang nyangkut, yang sangat disayangkan ketika itu adalah bahasa Inggris salah satu mata kuliah yang tidak lulus tersebut, karena memang tidak ikut ujian, disebabkan karena adanya perubahan waktu dari musim panas ke musim dingin, sehingga jam dimajukan, dan ia tidak tahu tentang perubahan jam tersebut, pada waktu sampai ke kuliah ia terlambat 40 menit sehingga tidak diizinkan untuk ikut ujian bahasa Inggris. Dan alhamdulillah setelah ketiga mata kuliah itu lulus di tahun berikutnya, akhirnya ia dapat predikat Jayyid [bagus] juga sekalipun sebelumnya gagal. Dan hal ini mengherankan sebab ”KO” [Knockout] sebelumnya gagal tiga mata kuliah, dan setelah lulus mendapatkan nilai umum akhir ”Jayyid” kata kawan-kawannya ketika itu dengan nada heran.

Setelah menamatkan S1 di Al-Azhar yang dijalani selama 5 tahun, dari 1992-1997, Kamal berpetualang ilmu untuk melanjutkan Dirasat al-’Ulya (Pasca Sarjana) di tempat lain, kali ini pilihannya jatuh ke salah satu fakultas agama di Universitas Kairo, yaitu Darul Ulum (berdiri tahun 1872 M), di sini ia menimba ilmu dalam kurung waktu selama 8 tahun untuk M.A & Ph.D. Beberapa hal yang memotivasi dirinya untuk melanjutkan studi di tempat ini, disebabkan ketertarikannya melihat motto pendidikan di Darul Ulum yaitu: ”Al-Jam’u Baina at-Turats wa al-Mu’ashirah” yang bermaksud ”Kombinasi antara Ilmu Turats (klasik) dan Ilmu Kontemporer”. Di samping itu melihat perkembangan intelektual & kepakaran di Universitas Kairo sangat pesat, sehingga melahirkan beberapa ulama besar yang tercatat sebagai alumni Darul Ulum, seperti: Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, Thantawi Jauhari, Abu Zahra, Ali Abdul Wahid Wafi, Muhammad Dhiya’uddin ar-Rays, dan tercatat beberapa pemikir Islam kontemporer: Prof. Mahmud Qosim. Prof. Ahmad Syalabi. Prof. Abd. Shabur Syahin. Prof. Jalayand. Prof. Hasan Syafi’i dan Prof. Muhammad Imarah.

Di Darul Ulum Kamal mengambil jurusan filsafat Islam, yang sebelumnya di Al-Azhar jurusan hukum Islam, ini disebabkan karena persyaratan masuk ke jurusan hukum Islam nilai akhir S1 minimal Jayyid Jiddan (sangat baik), Kamal kali ini tidak memenuhi syarat sebab nilainya hanya Jayyid (baik), oleh karena itu ketua jurusan hukum Islam Prof. Nabiel Ghanaim ketika itu menyarankan Kamal berpindah ke jurusan filsafat Islam yang ketika itu masih menerima nilai Jayyid dan ketika itu juga ia agak kebingungan sambil bertanya-tanya mampukah dirinya untuk menerobos jurusan filsafat. Namun dengan tekad yang bulat Kamal justru memperlihatkan kebolehannya pada jurusan tersebut, terbukti ia mampu menyelesaikan studi dengan secepat kilat, penulisan thesis S2 diselesaikan dalam masa 2 tahun, kemudian penulisan disertasi diselesaikannya dalam masa 2 tahun, sehingga para profesor di Darul Ulum sangat mengambil perhatian dan membimbing Kamal sepenuhnya semasa di Darul Ulum, oleh karena itu Prof. Jalayand (pemikir Islam) yang dikenal sebagai salah satu profesor yang sangat disegani di Darul Ulum dan Timur Tengah -pada umumnya- sengaja mengambil Kamal sebagai anak didiknya untuk program S3,  hal ini diketahui setelah berjumpa dengan ketua jurusan ketika itu Prof. Abdul Latief, ia berkata: ”Prof Jalayand ’Auzaak ya ibni” maksudnya Prof. Jalayand menginginkan Kamal menjadi muridnya. Ketika mendengar berita tersebut Kamal bangga tapi bimbang dan takut, sebab Profesor Jalayand dikenal sangat susah dalam penilaian, bahkan setiap bertemu teman-teman ketika itu selalu berkata ”Khudz Baalak ya Kamal”, maksudnya sabar dan pasrah saja Kamal.

Adapun pengaturan waktu belajar, pengalamannya membuktikan perlunya manajemen waktu yang teratur. Berikut ini pengalaman jam belajar yang diterapkan setiap harinya di Mesir, yaitu: – S1, 5 jam sehari, – S2, 8 jam sehari, – S3, 12 jam sehari. Ke semua waktu tersebut pada malam hari.

Alhamdulillah tidak sia-sia disertasi yang ia buat di bawah bimbingan Prof. Jalayand telah diterbitkan oleh penerbit yang tidak asing lagi oleh umat Islam, termasuk penerbit terbesar di dunia Islam, yaitu: penerbit Darul Kutub Ilmiah, Beirut-Lebanon 2009, dalam jumlah 10.000 buku, dan pihak penerbit telah meminta izin cetak ulang untuk cetakan ke dua pada tahun 2012 dalam jumlah yang sama, karena distribusi buku Darul Kutub sangat baik, maka buku tersebut sudah menyebar di mana-mana baik di Timur Tengah maupun di Barat.

Kamal merupakan suami dari Dr. Fithriah Wardi (Ph.D di Universitas al-Azhar, Cairo jurusan perbandingan mazhab), memiliki tiga anak: Hebatallah (11 tahun), Wahba (10 tahun), Sharim (7 tahun). Dan yang sangat menarik, Kamal meraih gelar Ph.D bidang Aqidah Filsafat dalam usia muda, yaitu ketika berumur 31 tahun tepatnya pada tahun 2005. Setelah menyelesaikan Ph.D di Universitas Kairo, Kamal kembali ke tanah air untuk memulai mengabdikan ilmu yang dituntut di negeri kinanah selama 14 tahun. Di Indonesia Kamal berdomisili di Ma’had Syawarifiyyah, ma’had [pesantren] ini milik orang tua Kamal sendiri, dan di sinilah Kamal pertama kali mengabdikan ilmunya. Pada tahun 2006, Kamal menjadi dosen tamu di Pascasarjana tingkatan Doktoral (S3) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tak lama kemudian Kamal diterima sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Malaysia, yaitu Universiti Sains Islam Malaysia, tepatnya pada bulan April 2007. Di universitas inilah Kamal memulai dengan serius meningkatkan intelektualnya di dunia pendidikan di ajang internasional, sehingga dalam 7 tahun bekerja di USIM, Kamal telah memberikan berbagai sumbangsih keilmuan, dengan diterbitkannya 12 karya buku yang monumental dan bertaraf internasional, terbukti ketika berbagai universitas di berbagai benua mengoleksi buku beliau, baik di Timur Tengah, Amerika maupun Eropa, bahkan Israel dan Iran, seperti: Harvard University, Yale University, Penn University, Stanford University, National Library Of Israel, National Library Of Iran, Chigago University, Kyoto University, Uc Berkeley University, Ohio University, Cornell University, The University Of Arizona, Duke University, Washington University, New York University, Illinois University, National Library Of Australia, British Library, University Of Virginia, University Of Toronto, Columbia University, Library Of Congress, University Of Michigan, Princeton University, Leiden University, Astan Quds Razavi Library Iran.

Adapun 12 karya buku tersebut adalah sebagai berikut:

  1. نشأة الفرق وتفرقها (Perpecahan Teologi Islam) DARUL KUTUB ILMIAH, BEIRUT, LEBANON, ISBN: 2-7451-7246-8, (Page: 288). 2011.
  2. موقف الزيدية وأهل السنة من العقيدة الإسماعيليةوفلسفتها (Polemik Akidah Filsafat – Syi’ah Vs Syi’ah Vs Sunni) DARUL KUTUB ILMIYAH, LEBANON, ISBN: 978-2-7451-6255-7, (Page: 480). 2009.
  3. مسائل الاعتقاد عند الإمام القرطبي (Permasalahan Akidah Dari Perspektif Imam Qurtubi) MUASSASAH AL-‘ALYA, CAIRO-EGYPT, (Page: 432). 2006.
  4. KAMUS “SYAWARIFIYYAH” SINONIM ARAB-INDONESIA + 50.000. Entry, Ciputat Press, JAKARTA, ISBN: 978-979-3245-66-9, (Page: 635). 2009.
  5. الشيعة واختلافاتها السياسية (Dalam proses penilaian cetak di Darul Kutub al-Ilmiah, Bairut 2012).
  6. العقيدة الإسلامية والفضايا الخلافية عند علماء الكلام (Dalam proses penilaian cetak di Darul Kutub al-Ilmiah, Bairut 2012).
  7. مدخل إلى علم الكلام (Pengantar Teologi Islam) UNIVERSITI SAINS ISLAM MALAYSIA (USIM), (Page: 301). 2011.
  8. المذاهب العقائدية الإسلامية (Aliran-Aliran Teologi Islam – Perkembangan & Masalah) UNIVERSITI SAINS ISLAM MALAYSIA (USIM), ISBN: 978-967-5295-42-3, (Page: 453). Buku tersebut merupakan buku teks program Dakwah-FKP tahun 3, subjek “AL-FIRAQ AL-ISLAMIYAH”, 2010.
  9. الفرق الشيعية وأصولها السياسية وموقف أهل السنةمنها (Perseteruan Politik –Syi’ah Vs Syi’ah & Tanggapan Sunni) USIM, ISBN: 978983295093-6, (Page: 236). 2009.
  10. Agenda Politik Syiah, PTS Publishing, Malaysia. (Best Seller).
  11. AKIDAH ISLAM, Program Pensiswazahan Guru, USIM. ISBN: 978-967-0393-37-7 (Page: 70) (Penulis Bersama) 2012.
  12. Qiraat Nashiyyah fi al-Turats al-Islami, USIM. ISBN: 978-967-0393-16-2 (Page: 286) (Penulis Bersama). 2012.

Di samping itu Kamal juga aktif di luar kampus untuk memenuhi undangan luar sebagai narasumber di bidang kajian Syi’ah, sehingga beliau menjadi pakar Syi’ah di Malaysia khususnya di kementerian Agama Malaysia yang dikenal dengan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM)  dan Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS).

Atas sumbangsih ilmiah dan jasanya dalam mengabdi di Universitas Sains Islam Malaysia, pada bulan tanggal 1 Desember 2012 Kamal dilantik sebagai Associate Professor DS 53 bidang Akidah Filsafat, di Indonesia gelaran ini setingkat dengan Profesor IV/d, dan beberapa penghargaan akademik sebelum dan sesudahnya telah diraih seperti berikut:

  1. Anugerah Khidmat Cemerlang (Excellent Lecturers) 2010. Usim, 15/06/2010.
  2. Anugerah Buku Terbaik (The Best Books, Category Of Social Science) 2010, Malaysia. Title (Mauqif Az-Zaidiyah Wa Ahli Sunnah Minal Aqidah Al-Bathiniyah Wa Falsafatuha), Publisher: Darul Kutub Ilmiah, Beirut-Lebanon. Usim, 15/06/2010.
  3. Anugerah Penulis Harapan/Aktif (Active Author In Arabic Language). Usim, 13/07/2011
  4. Anugerah Pengajar Cemerlang, Fkp-Usim, 20/09/2013.
  5. Anugerah Buku Karya Asli Fkp-Usim, 20/09/2013.

Anugerah-anugerah tersebut sangat membekas dalam dirinya dan membuatnya semakin aktif dalam menulis, sekalipun berada di luar negeri, Kamal menyempatkan diri untuk memberikan coretan-coretan ilmiah melalui beberapa artikelnya yang dimuat oleh dakwatuna.com dan eramuslim.com yang menurutnya ini adalah kontribusi jarak jauh untuk membangun pemikiran Islam di Indonesia.

Kamal mengaku dirinya tertarik mengajar di Malaysia, karena kesejahteraannya lebih dibandingkan di Indonesia, seperti prasarana yang disediakan oleh pihak universitas, ruangan office pribadi bagi setiap dosen, perumahan, internet 24 jam.  Selain itu, dilihat dari sudut pembinaan dan peningkatan intelektual akademik setiap dosen akan menjalankan kewajibannya dengan penuh ketenangan, sehingga suasana lingkungan akademik menjadi kondusif dalam artian kebebasan untuk mengembangkan kemampuan akademik, baik penulisan buku dan penelitian lapangan dengan mudah dicapai karena ditunjang oleh fasilitas, akses jurnal yang luas, dan dukungan dana yang disediakan di Universitas cukup besar. Di samping itu pemberian penghargaan tidak pernah putus bagi setiap dosen yang berprestasi, dan hal ini dilakukan untuk memotivasi dosen untuk terus berkarya.

Selain menjalankan tugas utama sebagai dosen di USIM, Kamal tidak ketinggalan ikut membantu pemerintah Malaysia dalam menangani penyebaran Syiah, beliau selalu dijemput  oleh kementerian Agama Malaysia dan beberapa Universitas di Malaysia sebagai nara sumber dan keynote speaker dalam seminar akidah Syiah yang saat ini sedang berkembang pesat, bahkan pada tanggal 20 Desember 2012 beliau menjadi Saksi Ahli “Expert Witness”, pada perkara penangkapan pemimpin Syiah Malaysia dan 200 penganut Syiah di Mahkamah Rendah Syariah, Selangor-Malaysia. Dan baru-baru ini bulan Agustus beliau menghasilkan sebuah buku (Best Seller) berjudul “Agenda Politik Syiah”, buku ini cetak ulang pada bulan September sehingga sudah mencapai 12.000 eksemplar.

Di antara kepuasan Kamal bekerja di Luar Negeri selain kepuasan materi dan lainnya adalah ia sangat puas menghadapi berbagai bangsa di tempatnya bekerja yaitu USIM, baik pelajar ataupun dosen, sebab USIM merupakan universitas bertaraf Internasional, bahasa pengantar dalam pengajaran adalah Arab dan Inggris, oleh karena itu dari berbagai negara berdatangan untuk menimba ilmu di universitas tersebut, dan saat ini Kamal sebagai Supervisor 16 student Ph.D, dan 3 student MA, dari 19 muridnya hanya 4 orang melayu berasal dari Indonesia, Malaysia dan Thailand, sedangkan yang lainnya adalah orang Arab yang berasal dari Libya, Omman, Yaman, Kuwait, dll.

Baginya kunci keberhasilan dan keberkahan ilmu terletak pada dua hal, yaitu:

  1. Maju ketika orang lain berhenti, terbangun ketika orang lain tertidur, serius ketika orang lain santai, siap menerima kritikan dan saran orang lain.
  2. llmu yang dimiliki bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain, istiqamah dalam ilmu yang dituntut, bukan karena mengejar dunia (pangkat, jabatan dan harta).

Peranan keluarga ikut menentukan kejayaan seseorang dalam belajar, oleh karena itu, bagi Kamal kedua orang tuanya telah mendidiknya untuk cinta ilmu semenjak kecil, dengan menyuruhnya membaca selalu, di samping itu juga orangtua memberikan dukungan dan pengorbanan materi yang luar biasa (sebab kuliah non-beasiswa), terutama ketika Kamal memasuki jenjang Pascasarjana di Universitas Kairo, di mana universitas tersebut merupakan universitas bergengsi dan paling top di Timur Tengah, oleh karena itu biaya kuliah di sanapun lumayan tinggi.

Dalam perjalanan menimba ilmu di Mesir, tentunya akan menghadapi berbagai ragam kendala, oleh karena itu peranan istri dan anak-anak sangat membantu, baginya istri berperan sebagai motivator dengan men-support semangat studi suami, terutama ketika menghadapi kesulitan financial, dalam hal ini minimal istri dan anak ikut sabar dan tabah menunggu keberhasilan studi sang ayah, betul pepatah mengatakan: “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian”. Memang inilah yang diajarkan Al-Qur’an: “Inna Ma’al ‘Usri Yusran”. [Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan] (As-Syarh: 5). “Sayaj’alullahu Ba’da ‘Usrin Yusran”. [Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan] (At-Thalaq: 7). []

Video Prof. Dr. Kamaluddin Nurdin Al-Bugisy berbicara Syi’ah:

[youtube _SbfKyDb47I 640]
About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Irhamni Rofiun
Moderat, pecinta Al-Quran, suka menulis dan berbagi informasi, juga blogger mania.
  • moch.zainul arifudin

    bagaimana cara mendapatkan baesiswa kulia di universitas islam malaysia

Lihat Juga

Banjir darah di kota Dhaka Bangladesh akibat buruknya sistem drainase, pasca pemotongan hewan Qurban yang diiringi dengan hujan (14/9/2016). (indiatimes.com)

Beberapa Ruas Jalan di Bangladesh Banjir Darah