Home / Berita / Internasional / Afrika / Beltagi, Keluarga yang Dibina Menjadi Pejuang

Beltagi, Keluarga yang Dibina Menjadi Pejuang

Keluarga "Pejuang" Beltagi (fj-p)
Keluarga “Pejuang” Beltagi (fj-p)

dakwatuna.com – Kairo. Sangat jarang, sebuah keluarga, anggotanya mempunyai kesamaan dalam prinsip. Sangat jarang, sebuah keluarga serempak menjadi pahlawan. Tapi hal itu terwujud dalam keluarga Muhammad Beltagi, seperti ditulis oleh Heba Musthafa dalam artikelnya di situs fj-p.com, Selasa (2/12/2013).

Beltagi adalah salah seorang pimpinan Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP) dan anggota parlemen yang dibubarkan pada masa kekuasaan Dewan Militer. Beliau kini mendekam di dalam penjara kudeta dalam kondisi penindasan yang sangat memilukan.

Ternyata bukan hanya Beltagi yang berkorban demi kebebasan dan keadilan, anggota keluarganya mengikuti langkah beliau. Seluruh dunia mengetahui Asmaa Beltagi yang telah menjadi simbol pengorbanan dan keikhlasan seorang perempuan. Asmaa meninggal dunia setelah diterjan peluru sniper yang tidak sudi membiarkannya tumbuh dewasa. Selain Asmaa, putra Beltagi bernama Ammar Beltagi juga mengalami hal yang tidak kalah beratnya. Ammar juga ditangkap oleh penguasa kudeta.

Saat ini dunia gempar dengan 21 perempuan remaja yang divonis penjara 11 tahun di Alexandria. Ternyata satu di antara gadis-gadis itu adalah keponakan Beltagi. Dia bernama Muna Maher Beltagi. Simpati datang silih berganti. Bahkan ada seorang milyuner Mesir di Denmark menyuntingnya untuk menikah dengan putranya.

Selain itu, ipar Beltagi juga mengalami hal serupa. Dia ditangkap polisi kudeta saat sedang pulang dari rumah sakit. Isterinya dirawat di rumah sakit karena menjalani operasi di matanya.

Inilah keluarga pejuang. Kepergian Asmaa Beltagi yang diliput media secara luas telah membuat dunia haru. Terutama rekaman video yang mengabadikan bagaimana detik-detik terakhir kehidupannya. Asmaa terlihat tenang walaupun merintih, “Ya Allah.. Ya Allah.”

Setelah Asmaa meninggal, Beltagi muncul di media dengan wajah yang tidak menggambarkan seorang ayah yang baru kehilangan seorang putri kesayangannya. Beliau malah menyebutkan bagaimana keteguhan para demonstran dan kekejaman penguasa kudeta selama 7 jam berturut-turut. Saat itu beliau mengakhiri pernyataannya dengan mengatakan, “Putriku sudah menjadi syahidah demi negaranya.”

Beberapa hari yang lalu juga tersebar foto-foto yang membuktikan bahwa demosntrasi Rab’iah Adawiyah bukanlah yang pertama kali kesertaan Asmaa dalam berjuang. Jauh sebelumnya, Asmaa sudah turut dalam demonstrasi Muhammad Mahmud yang dibubarkan militer dengan kekerasan juga. (msa/dakwatuna/fj-p)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 8,11 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

keluarga

Keluarga dan Pendidikan yang Terlupakan