Home / Berita / Opini / Kondomisasi: Kampanye Sesat, Kampanye Bejat

Kondomisasi: Kampanye Sesat, Kampanye Bejat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Inet)
Ilustrasi (Inet)

dakwatuna.com Selama sepekan ke depan kita akan dibuat familiar dengan keberadaan kondom yang merebak. Karena negara telah menggelontorkan dana 25Milyar untuk membeli 57 juta kondom yang siap dihadiahkan kepada generasi muda bangsa. Bertepatan dengan Hari HIV sedunia pada 1 Desember 2013, gerakan kondomisasi dimulai. Kampanye Pekan Kondom Nasional (PKN) yang provokatif telah menjadi corong untuk melegalkan seks bebas. Seolah pesan yang ingin disampaikan dalam PKN adalah, “Seks bebas itu adalah hal biasa dan sah-sah saja”. Akal sehat kita dengan mudah akan dapat memahami bahwa tujuan yang diharapkan dari kampanye bejat ini tidak lebih baik daripada hancurnya mental bangsa sebagai tebusannya.

Sepintas orang akan dapat menilai kebejatan dan kesesatan program ini. Karena solusi untuk mencegah HIV/AIDS yang ditawarkan sama sekali tidak menyentuh akar masalah, tapi justru memperbesar biang kerusakan. Tidakkah para petinggi negeri ini mengetahui bahwa akar masalahnya bukan karena tidak menggunakan kondom, melainkan karena adanya seks bebas yang sejatinya merupakan salah satu bentuk penyimpangan? Sungguh, tidak ada yang menganggap seks bebas sebagai hal biasa kecuali manusia bermental binatang! Amatlah menjijikkan!

Tapi apa mau dikata? Propaganda sesat ini seperti sengaja memelihara budaya seks bebas di kalangan generasi muda. Tersirat dari apa yang disampaikan oleh Kemal Sirega selaku Sekretaris KPAN, bahwa PKN memiliki efektivitas yang baik, terutama untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya penggunaan kondom. Sungguh ironis. Bukannya malah meningkatkan kesadaran terhadap bahaya dari seks bebas, tapi malah mengajarkan para generasi muda agar bergantung pada kondom, bukan pada pemahaman apalagi iman. Jika sudah demikian, program kondomisasi hanya akan merusak moral dan menyuburkan perilaku seks bebas. Karena para pelaku justru mendapat pembenaran untuk melakukan perzinaan. Mereka akan beranggapan yang terpenting adalah dilakukan secara aman dengan menggunakan kondom, dan terlebih lagi difasilitasi negara secara gratis!

Begitu pula ketika melihat mobil operasional yang digunakan dalam kampanye. Tujuan “sebenarnya” seakan tergambar jelas! Dengan mencitrakan artis mesum papan atas sebagai duta kampanye ditambah dengan pose dan pakaian yang layak untuk dipertanyakan, “kenapa harus demikian?”. Bahkan walaupun diganti dengan penampilan yang lebih sopan masih akan menyisakan satu pertanyaan, “kenapa harus dia?”. Tidak adakah artis lain dengan citra yang lebih baik di kalangan publik yang lebih layak digunakan sebagai duta?

Kita mencoba untuk terus berprasangka baik. Terutama kepada ibu menteri kesehatan, Dr. Nafsiah Mboi, SpA, M.P.H, yang sama sekali tidak kita ragukan kecerdasan dan intelektualitasnya. Tapi bagaimana mungkin orang secerdas beliau tidak mengetahui tentang fakta bahwa kondom sama sekali bukan solusi untuk mencegah terjadinya HIV/AIDS? Bahkan hal ini telah disampaikan pada Konferensi AIDS se-Dunia di Chiangmai, Thailand tahun1995. Saat itu diumumkan hasil penelitian ilmiah, bahwa kondom tidak dapat mencegah penularan HIV/AIDS. Karena ukuran pori-pori kondom yang 1/60mikron dan akan membesar hingga 1/6 mikron saat dipakai sama sekali tidak mencegah penularan virus HIV yang hanya berukuran 1/250 mikron.

Jadi bagaimana mungkin kita masih terus dapat berprasangka baik menyaksikan upaya preventif yang sama sekali tak efektif ini? Secara sederhana kita simpulkan bahwa kampanye kondom adalah sebuah pembodohan. Kita tidak punya pilihan lain selain bersepakat dengan apa yang dinyatakan Prof. Dadang Hawari, bahwa yang menyatakan kondom 100 persen aman merupakan pernyataan yang menyesatkan dan bohong (Republika, 13/12/2002).

Kalaulah memang benar penggunaan kondom dapat menyelamatkan pelaku seks bebas dari penyakit HIV/AIDS, maka hal ini tidaklah lebih baik daripada kerusakan pada moral dan mental bangsa yang ditimbulkan. Karena perilaku seks bebas akan mendidik para generasi muda menjadi generasi pengecut dan tunduk pada nafsu kebinatangan. Perilaku menyimpang ini juga akan menjadikan para generasi muda memiliki keimanan yang dangkal, berfikir picik dan hanya berorientasi pada kesenangan yang instan.

Menyaksikan segala ketimpangan ini, rasanya tidak salah jika kita berfikir bahwa ada tujuan “lain” dari kampanye kondom yang sama sekali tidak ada kaitannya untuk mencegah penularan HIV/AIDS. Sangatlah beralasan bila kita curiga program ini merupakan “proyek” yang mengandung motif bisnis. Karena para pebisnis kondomlah yang akan diuntungkan dari program pembodohan seperti ini. Terlebih, program ini juga akan melanggengkan dan menyuburkan prostisusi dan perzinaan sehingga berimbas balik pada semakin besarnya kebutuhan masyarakat akan kondom. Jadi kondomisasi mengandung muatan kapitalisas untuk menguntungkan segelintir orang dengan menumbalkan moral bangsa. Karena, sekali lagi pokok masalah penyakit HIV-AIDS adalah ‘hubungan seks bebas’. Jadi yang perlu diberantas adalah hubungan seks bebas, bukan malah menyediakan kondom yang hanya akan melegalisasi dan menyemarakkan perzinaan. Innalillahi… Semoga kita sadar bahwa kondomisasi tak lebih dari implementasi kebijakan frustasi…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 7,38 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mujahid Pena
  • Angga Dwi Anugerah

    hii..seremmm..

  • sahli

    Menkesnya Udah gila kali, Sudah tau sex bebas adalah vaktor utama penularan penyakit AIDS kok malah disuruh rame2 seks bebas. dasar longor, ganti aja tuh menterinya udah sakit

Lihat Juga

Kampanye

Jangan Larang Kampanye yang Angkat Isu Agama