Home / Pemuda / Pengetahuan / Dokter, Pengabdi Dambaan Umat

Dokter, Pengabdi Dambaan Umat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustras. (zurijeta / szefei)
Ilustras. (zurijeta / szefei)

dakwatuna.com Seberapa penting Anda memandang profesi dokter? Apakah Anda memandang profesi dokter itu adalah “menakutkan”, “kejam”, atau yang lainnya? Pernahkah Anda menyadari keluhan-keluhan yang pernah Anda sampaikan kepada mereka (walaupun hal kecil) merupakan tanggung jawab yang besar bagi mereka? Pertama-tama, izinkan saya mengapresiasi para dokter di seluruh dunia atas tanggung jawab dan pengabdiannya selama ini kepada masyarakat. Dokter dalam kiprahnya saat ini dan masa mendatang seyogianya menerapkan dalam perannya sebagai “pemimpin-intelektual-profesional”, yang tugasnya antara lain sebagai agent of treatment, agent of change, dan agent of development. WHO pada tahun 1994 mengidentifikasikan kiprah ini dan menyebutnya sebagai “the five star doctors”, yaitu community leader, communicator, manager, decision maker, dan care provider.

Pada dasarnya, dokter adalah bagian dari kelompok intelektual yang dalam menjalankan profesinya langsung berhadapan atau berada di tengah masyarakat dan dibekali nilai profesi yang menjadi kompas dalam segala tindakannya. Nilai profesi itu antara lain adalah kemanusiaan, etika dan kompetensi. Nilai profesi ini yang menjadi dasar keprofesian dokter dalam menjalankan profesionalismenya. Di mana pun dokter ditempatkan, selayaknya dia menjalankan peran intelektual profesional.

Sejarah Ilmu Kedokteran dan Dokter Pertama

Ketika era kegelapan mencengkeram Barat pada abad pertengahan, perkembangan ilmu kedokteran diambil alih dunia Islam yang tengah berkembang pesat di Timur Tengah. Menurut Dr. Ezzat Abouleish, MD dalam tulisannya yang berjudul Contributions of Islam to Medicine, seperti halnya ilmu-ilmu yang lain, perkembangan kedokteran Islam melalui tiga periode pasang-surut. Periode pertama dimulai dengan gerakan penerjemahan literatur kedokteran dari Yunani dan bahasa lainnya ke dalam bahasa Arab yang berlangsung pada abad ke-7 hingga ke-8 Masehi. Pada masa ini, sarjana dari Suriah dan Persia secara gemilang dan jujur menerjemahkan literatur dari Yunani dan Suriah ke dalam bahasa Arab.

Buah pikiran para tabib di era Yunani Kuno secara gencar dialihbahasakan. Adalah Khalifah Al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah yang mendorong para sarjana untuk berlomba-lomba menerjemahkan literatur penting ke dalam bahasa Arab. Khalifah pun menawarkan bayaran yang sangat tinggi berupa emas, bagi para sarjana yang bersedia untuk menerjemahkan karya-karya kuno.

Dokter Islam zaman dahulu sedang memeriksa pasien (republika.co.id)
Dokter Islam zaman dahulu sedang memeriksa pasien (republika.co.id)

Sejumlah sarjana terkemuka ikut ambil bagian dalam proses transfer pengetahuan itu. Tercatat sejumlah tokoh seperti Judis Ibnu Bakhtisu, Yuhanna Ibnu Masawaya, serta Hunain Ibnu Ishak ikut menerjemahkan literatur kuno. Selain melibatkan sarjana-sarjana Islam, tak sedikit pula dari para penerjemah itu yang beragama Non-Muslim. Mereka diperlakukan secara terhormat oleh Khalifah pada masa itu.                  .

Al-Zahrawi (930-1013 M) (muslimheritage.com)
Al-Zahrawi (930-1013 M) (muslimheritage.com)

Proses transfer ilmu kedokteran yang berlangsung pada abad ke-7 dan ke-8 M membuahkan hasil. Pada abad ke-9 M hingga ke-13 M, dunia kedokteran Islam berkembang begitu pesat. Sejumlah rumah sakit (RS) besar berdiri. Pada masa kejayaan Islam, RS tak hanya berfungsi sebagai tempat perawatan dan pengobatan para pasien, namun juga menjadi tempat menimba ilmu para dokter baru. Sekolah kedokteran pertama yang dibangun umat Islam adalah sekolah Jindi Shapur di kota Baghdad. Khalifah Al-Mansur dari Dinasti Abbasiyah yang mendirikan Kota Baghdad mengangkat Judis Ibnu Bahtishu sebagai dekan sekolah kedokteran itu. Pendidikan kedokteran yang diajarkan di Jindi Shapur sangat serius dan sistematik. Era kejayaan Islam telah melahirkan sejumlah tokoh kedokteran terkemuka seperti Al-Razi, Al-Zahrawi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Al-Nafis, dan Ibnu Maimun.

Al-Zahrawi (930-1013 M) atau dikenal di Barat Albucasis. Dia adalah ahli bedah terkemuka di Arab. Al-Zahrawi menempuh pendidikan di Universitas Cordoba. Dia menjadi dokter istana pada masa Khalifah Abdul Rahman III. Sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk menulis buku-buku kedokteran dan khususnya masalah bedah. Salah satu dari empat buku kedokteran yang ditulisnya berjudul, ‘Al-Tastif Liman Ajiz’an Al-Ta’lif’ – ensiklopedia ilmu bedah terbaik pada abad pertengahan. Buku itu digunakan di Eropa hingga abad ke-17. Al-Zahrawi menerapkan cautery untuk mengendalikan pendarahan. Dia juga menggunakan alkohol dan lilin untuk menghentikan pendarahan dari tengkorak selama membedah tengkorak.

Dokter Muslim yang juga sangat termasyhur adalah Ibnu Sina atau Avicenna (980-1037 M). Salah satu kitab kedokteran fenomenal yang berhasil ditulisnya adalah Al-Qanon fi Al-Tibb atau Canon of Medicine. Kitab itu menjadi semacam ensiklopedia kesehatan dan kedokteran yang berisi satu juta kata. Hingga abad ke-17, kitab itu masih menjadi referensi sekolah kedokteran di Eropa.

Kitab Al-Zahrawi yang berjudul Al-Tastif Liman Ajiz’an Al-Ta’lif, berisi tentang metode surgery (Pengobatan penyakit dengan cara operasi manual atau dengan instrumen) (artikelkomplit.com)
Kitab Al-Zahrawi yang berjudul Al-Tastif Liman Ajiz’an Al-Ta’lif, berisi tentang metode surgery (Pengobatan penyakit dengan cara operasi manual atau dengan instrumen) (artikelkomplit.com)
Avicenna (Ibnu Sina) (muslimheritage.com)
Avicenna (Ibnu Sina) (muslimheritage.com)

Beberapa nama dokter Muslim terkemuka yang juga mengembangkan ilmu kedokteran antara lain; Ibnu Wafid Al-Lakhm, seorang dokter yang terkemuka di Spanyol; Ibnu Tufails tabib yang hidup sekitar tahun 1100-1185 M; dan Al-Ghafiqi, seorang tabib yang mengoleksi tumbuh-tumbuhan dari Spanyol dan Afrika. Setelah abad ke-13 M, ilmu kedokteran yang dikembangkan sarjana-sarjana Islam mengalami masa stagnasi. Perlahan kemudian surut dan mengalami kemunduran, seiring runtuhnya era kejayaan Islam di abad pertengahan.

Menapak Jejak Rumah Sakit Pertama Dalam Peradaban Islam

Konsep rumah sakit pertama dalam peradaban Islam dibangun atas permintaan Khalifah Al-Walid (705-715 M) dari Dinasti Umayyah. Pada awal didirikan, keberadaan tempat perawatan yang dikenal dengan nama ‘Bimaristan’ itu digunakan sebagai tempat isolasi bagi para penderita lepra yang saat itu sedang merajalela. Namun, Rumah sakit Islam pertama yang sebenarnya baru dibangun pada era kekuasaan Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M). Rumah sakit tersebut berada di Kota Baghdad, pusat pemerintahan kekhalifahan Islam saat itu. Rumah sakit ini dikepalai langsung oleh Al-Razi, seorang dokter Muslim terkemuka yang juga merupakan dokter pribadi khalifah. Al-Razi (841-926 M) dikenal di Barat dengan nama Razes. Pemilik nama lengkap Abu Bakr Muhammad Ibnu Zakaria Al-Razi itu adalah dokter istana Pangeran Abu Saleh Al-Mansur, penguasa Khurasan. Ia lalu pindah ke Baghdad dan menjadi dokter pribadi sang khalifah. Salah satu buku kedokteran yang dihasilkannya berjudul Al-Mansuri (Liber Al-Mansofis). Ia menyoroti tiga aspek penting dalam kedokteran, antara lain; kesehatan publik, pengobatan preventif, dan perawatan penyakit khusus. Bukunya yang lain berjudul Al-Mursyid. Dalam buku itu, Al-Razi mengupas tentang pengobatan berbagai penyakit. Buku lainnya adalah Al-Hawi. Buku yang terdiri dari 22 volume itu menjadi salah satu rujukan sekolah kedokteran di Paris. Dia juga menulis tentang pengobatan cacar air.

Abu Bakr Muhammad Ibnu Zakaria Al-Razi (nndb.com)
Abu Bakr Muhammad Ibnu Zakaria Al-Razi (nndb.com)

Ia menyoroti tiga aspek penting dalam kedokteran, antara lain; kesehatan publik, pengobatan preventif, dan perawatan penyakit khusus. Bukunya yang lain berjudul ‘Al-Murshid’. Dalam buku itu, Al-Razi mengupas tentang pengobatan berbagai penyakit. Buku lainnya adalah ‘Al-Hawi’. Buku yang terdiri dari 22 volume itu menjadi salah satu rujukan sekolah kedokteran di Paris. Dia juga menulis tentang pengobatan cacar air

Al-Razi mencanangkan pembangunan Rumah Sakit di Baghdad yang juga sekaligus sebagai tempat sekolah kedokteran di kala itu. Dikisahkan, sebelum membangun rumah sakit, Al-Razi meletakkan potongan daging yang digantung di beberapa tempat di wilayah sekitar aliran Sungai Tigris. Setelah lama diletakkan, potongan daging itu baru membusuk. Menurut al-Razi, itu menandakan bahwa tempat tersebut layak didirikan rumah sakit.

Rumah sakit lainnya di Kota Baghdad adalah Al-Audidi yang didirikan pada tahun 982 M. Nama tersebut diambil dari nama Khalifah Adud Ad-Daulah, seorang khalifah dari Dinasti Buwaihi. Al-Audidi merupakan rumah sakit dengan bangunan termegah dan terlengkap peralatannya pada masanya. Bangunan rumah sakit yang ada di Baghdad, seperti sebuah istana yang megah. Airnya dipasok dari Tigris dan semua perlengkapannya mirip istana raja. Manajemen perawatan yang tertata rapi menjadi ciri khas rumah sakit Al-Audidi. Para pasien juga dibedakan antara pasien inap dan rawat jalan. Sayangnya, bangunan rumah sakit ini hancur bersamaan dengan invasi tentara Tartar (Mongol) pimpinan Hulagu Khan yang menyerbu Baghdad pada tahun 1258 M. Tak cuma Baghdad, di beberapa wilayah lainnya, ilmu kedokteran Islam juga terus mengalami perkembangan. Di Kota Al-Fustat (ibu kota Mesir lama), misalnya, dibangun sebuah rumah sakit.

Rumah Sakit “Bimaristan”, tempat yang juga sebagai sekolah kedokteran di masa khalifah Harun Al-Rasyid (syariahpublications.com)
Rumah Sakit “Bimaristan”, tempat yang juga sebagai sekolah kedokteran di masa khalifah Harun Al-Rasyid (syariahpublications.com)

Khatimah

Peran dokter saat ini harus dikembalikan kepada peran dokter yang dicontohkan oleh para dokter muslim di era peradaban Islam dahulu. Dokter tidak hanya menjadi agent of treatment, tapi juga harus menjadi emansipator untuk menularkan nilai profesi dan kecendekiawanannya sehingga membuatnya menjadikan agent of mental social changedan agent of development demi kemajuan umat Islam. Di sektor kesehatan, para dokter diharapkan melebarkan lapangan pengabdiannya dengan berkontribusi seluas-luasnya dalam upaya menyehatkan elemen masyarakat secara komprehensif (fisik, mental, dan sosial). Ketika ketiga aspek tersebut telah terpenuhi, maka seorang dokter di manapun telah menjadi seorang pengabdi yang benar-benar didambakan oleh umat. Wallahua’lam bish shawab. (HYP)

Bibliography:

  • http://nasional.sindonews.com/read/2013/10/24/18/797627/merekonstruksi-kepemimpinan-dokter-indonesia (Dengan beberapa perubahan kata)
  • http://www.suaramedia.com/sejarah-islam/2010/02/16/sejarah-rumah-sakit-dan-ilmu-medis-islam
  • http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/07/04/m6mzve-menyusuri-jejak-kedokteran-islam-1
  • muslimheritage.com

 

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Heraldo Yanindra P
Lahir di Jakarta pada bulan Januari 1995. Saat ini sedang menjalani studi S-1 nya di Universitas Padjadjaran jurusan Fisika. Saat ini aktif di kegiatan kemahasiswaan Lembaga Dakwah Fakultas Rohis Nurul 'Ilmi FMIPA UNPAD, dan di Himpunan Mahasiswa Fisika Universitas Padjadjaran sebagai Staff Hubungan Masyarakat. Sejak awal penulis memang menunjukkan ketertarikannya pada dunia sains, saat ini penulis sedang mencoba mengkaji dan meneliti berbagai bentuk khazanah ilmu pengetahuan dan teknologi di masa peradaban Islam.
  • Ayah Zubair

    mencerahkan

Lihat Juga

IDI Dikecam Lantaran Dampingi Dokter Tersangka Vaksin Palsu