Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Shalahuddin Al-Ayyubi; Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis

Shalahuddin Al-Ayyubi; Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul: Shalahuddin Al-Ayyubi; Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis
Penulis: Prof. DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi
Penerbit: Pustaka Al-Kautsar – Jakarta
Tebal: xxiv + 748 Halaman; 15,5 x 24,5 cm
Cetakan: I; 2013
ISBN: 978-979-592-613-9

Cover buku "Shalahuddin Al-Ayyubi; Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis".
Cover buku “Shalahuddin Al-Ayyubi; Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis”.

dakwatuna.com Perang salib merupakan salah satu bukti nyata permusuhan abadi antara kebenaran dan keburukan. Perang tersebut juga menjadi bukti kebenaran al-Qur’an, bahwa orang-orang di luar Islam (Yahudi- Nasrani – Syi’ah) tidak akan pernah ridha sampai kaum muslimin mengikuti ajaran mereka.

Dalam catatan-catatan angka sejarah, Perang Salib memang terjadi selama dua abad dan masuk dalam daftar salah satu peperangan terlama sepanjang sejarah. Namun, sejatinya, Perang Salib terus dikobarkan oleh musuh Islam, hingga saat ini. Pun, dengan apa yang terjadi di Palestina, Suriah, Mesir dan seluruh belahan bumi lainnya, merupakan kepanjangan dari Perang Salib yang mulai dikobarkan oleh Paus Urbanus II.

Perang ini terjadi di sepanjang 4 dinasti, yaitu Dinasti Saljuk, Dinasti Zanki, Dinasti Ayyubiyah dan Dinasti Mamalik. Dalam rentetan panjangnya waktu itu, banyak terlahir Pahlawan-pahlawan Muslim Sejati yang berhasil memadukan pesona Islam dengan pesona kaum muslimin. Satu yang paling menonjol adalah adanya sosok Shalahuddin Al-Ayyubi.

Di antara prestasi terbesarnya adalah pembebasan Baitul Maqdis. Secara garis besar, kunci dari keberhasilan penaklukan itu adalah adanya peran Ulama’ Rabbani untuk ikut menyadarkan dan membina umat, mendidik generasi di atas landasan aqidah Islam yang shahih, menanamkan rasa cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan sesama kaum Muslimin; menciptakan persatuan umat; mengobarkan panji Islam di saat peperangan; adanya strategi dengan visi yang jauh ke depan, serta pentingnya taubat, kembalinya umat kepada Allah, dan menjauhkan diri dari segala kemaksiatan.

Buku tebal yang ditulis oleh Prof Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi ini, memberikan pencerahan yang menyeluruh tentang konsep jihad, esensi Perang Salib, juga sosok-sosok di balik kesuksesan kaum Muslimin kala itu. Yang tak kalah menariknya, penulis berhasil memotret kemuliaan akhlak sang Shalahuddin di medan perang, ketika berkuasa, pun kebaikan perangainya kepada musuh.

Perang Salib sendiri dilatarbelakangi karena banyak faktor. Sedangkan faktor utamanya adalah penyebaran agama nasrani ke seluruh penjuru dunia. Paus Urbanus II yang merupakan dalang di balik perang ini, memberikan doktrin bahwa Perang Salib merupakan ajang balas dendam kepada kaum muslimin yang telah merebut Baitul Maqdis. Ia juga menyampaikan bahwa Isa Al-Masih akan segera turun, sehingga Jerusalem harus segera direbut dari tangan kaum Muslimin. Ketika pasukan Salib kendor semangatnya, ia kembali mengobarkan semangat pasukan dengan dalih penghapusan dosa, kebahagiaan hidup, dan aneka bonus yang lain bagi siapa saja yang ikut berperang. Dia juga mengancam dengan aneka dosa dan hukuman serta kesengsaraan-kesengsaraan hidup bagi siapa saja yang absen dari perang ini.

Perang ini bukan hanya antara Kekuatan Islam dan Nasrani. Tetapi ada kekuatan Syi’ah yang ikut mengeruhkan suasana. Dalam kaidah ini, musuh lawan, dalam banyak kasus, bisa menjadi sahabat kita. Sehingga kaum Muslimin sebagai kekuatan tunggal, harus menghadapi dua musuh yang saling bersinergi itu. Meskipun, masing-masing mereka memiliki agenda yang berbeda.

Bukti paling nyata bahwa perang ini merupakan alat menyebarkan agama Nasrani adalah digunakannya lambang Salib dalam setiap alat peperangan yang dikenakan oleh Pasukan Salib.

Dari kekuatan Kaum Muslimin, banyak sekali gerakan perlawanan atas nama jihad. Mulai periode Kesultanan Saljuk, Kesultanan Zanki hingga Kesultanan Ayyubiyah. Dibincang juga tentang peran Ulama’ dalam menggelorakan semangat jihad kaum Muslimin.

Buku ini, bukan hanya membahas perang secara fisik tanpa belas kasih. Tapi menampilkan Islam yang sesungguhnya. Bahwa jihad, bukan asal bunuh, bukan asal bom. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi hingga kemudian diwajibkan untuk. Yang tak kalah pentingnya, dalam setiap keadaan, pun ketika jihad, aspek akhlak sebagai salah satu branding utama umat Islam, tetaplah dinomorsatukan. Akhlak kepada Allah, kepada sesama Mujahid, kepada mereka yang tak terlibat dalam perang, juga kepada musuh.

Jika saat ini ada banyak mal praktik jihad, bisa jadi karena banyaknya kaum Muslimin yang sok tahu, padahal kafa’ah dan tsaqafahnya dangkal. Maka kehadiran buku ini, diharapkan bisa menggelorakan semangat kaum muslimin untuk kembali ke puncak kejayaan. Dengan jihad, di segala lini. Bukan dengan selainnya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (26 votes, average: 9,35 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pirman
Penulis, Pedagang dan Pembelajar

Lihat Juga

Stadium general di aula Universitas Islam As-Syafiiyah. (aspacpalestine.com)

Peringati Hari Solidaritas Palestina, ASPAC for Palestine Gandeng UIA Gelar Stadium General

Organization