Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Samudera Cinta: ‘Birrul Walidain’

Samudera Cinta: ‘Birrul Walidain’

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (zakysa.blogspot.com)
Ilustrasi. (zakysa.blogspot.com)

dakwatuna.com “Di antara samudera cinta yang paling luas dan dalam di dunia, adalah kasih sayang seorang ibunda”,

Ungkapan ini begitu tulus disampaikan seorang tokoh ternama India yang; maaf saya lupa namanya. Namun tak apalah, daripada tak pernah mendengar sama sekali, lebih baik ingat betul perkataannya daripada tahu orangnya tak tahu nasihatnya. Look to the light, don’t look at the lantern. Lihatlah apa yang dikatakan, jangan terlalu silau pada siapa yang mengatakannya. Bukan begitu? Kadang begitu, kadang juga tidak. Hehe.

Kasih dan sayang ibunda tak pernah gugur di tengah jalan. Tak pernah fluktuatif; kadang naik atau kadang turun. Kasih sayangnya selalu ada, bertambah, seperti ketika menanam bulir padi; semakin lama semakin bersemilah bulir-bulir cinta yang lain. Begitulah ibunda, beliau adalah guru pertama bagi setiap manusia besar, pemimpin pertama yang menunjukkan anaknya mana yang harus dikerjakan, mana yang wajib ditinggalkan.

Benar, kasih sayang terdalam di dunia ini milik Ibunda, Ummi, Ibu, Mama, apapun namanya.

Kau setuju kan ketika aku menulis “Kebahagiaan Ibunda adalah kebahagiaan terbesar kita juga”? Setuju?

Ada dua kebahagiaan terbesar bagi Abu Hurairah dalam hidupnya. Ketika ia masuk Islam dan bertemu Rasulullah, ia gembira bukan kepalang. Kedua, Ketika Ibundanya memeluk Islam, beliau ingin meloncat gembira riang. Kau tahu kawan? Abu Hurairah yang terkenal ini punya kebiasaan indah menggendong ibundanya ke mana saja ibunya ingin pergi, meski Ibunya buta dan masih enggan memeluk Islam. Tak pernah sedikitpun kata kotor terloncat dari lisannya, sebelum apalagi sesudah masuk Islam. Hanya satu hal yang pernah ia kecewakan dari Ibunya: ketika Ibunya mengejek Rasulullah SAW di hadapannya. Namun tetap saja Abu Hurairah menjawab ejekan itu tanpa meninggikan suaranya. Dengan perkataan yang santun tentunya.

Datanglah Sahabat Penghafal hadits ini ke Baginda Nabi, menuturkan harapannya dan minta didoakan agar Ibunya masuk Islam. Akhirnya Beliau pulang dari pertemuannya dengan Rasulullah. Langkahnya masih lemas dan harap-harap cemas. Sesekali menebak apa yang akan terjadi setelah ia sampaikan hal ini pada baginda. Ketika beliau sampai di pintu rumah dan mengetuk pintu, Sang Ibunda malah melarang dia masuk ke rumah.

Tambah lemaslah ia. Beliau kira keadaan makin buruk.

Ternyata Justru ini awal happy endingnya…

Tiba-tiba di dalam rumah terdengar gemericik air yang tak biasanya ia dengar. Setelah beberapa saat, terbukalah pintu. Di hadapan Abu Hurairah berdiri Ibundanya yang telah berpakaian menutup aurat, wajahnya terbasuh air bening, “Asyhadu An Laa Ilaha Illallah, Wa asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”, dengan kalimat itu Sang Ibunda menyambut kedatangan anaknya di depan Pintu Rumah. Luar biasa. Keesokan harinya Abu Hurairah menyampaikan di Majelis Nabi “Ya Rasul, ini adalah hal terindah setelah keislamanku!”, dengan wajah sumringah, berseri-seri.

Aku pikir sebenarnya tak usahlah didefinisikan lagi bagaimana cara berbakti kepada orangtua, karena aku yakin hati nuranimu akan menjawab dengan sejuta cara untuk menggapai keridhaan mereka berdua. Dari Keduanya terbentanglah ladang dan kebun-kebun pahala yang siap petik; memijat Ibu, membuatkan kopi untuk Ayah, membanggakan mereka berdua di panggung-panggung Akhir tahun pelajaran ketika kau dipanggil dan mendapat ranking satu, atau yang ampuh; berkata pada mereka berdua dengan Qaulan Layyina, perkataan yang lembut, Khuluqan karima, akhlak yang mulia, maka jadilah kita qurrata a’yun bagi ayah dan ibu kita, penyejuk mata dan hati yang membanggakan. Kau sudah paham. Tinggal laksanakan.

Pernah ada seorang ulama yang masyhur di zamannya. Namanya Ibnu Aun. Suatu hari ketika ia berdialog dengan Ibundanya, ternyata ada beberapa kalimat yang beliau sampaikan dengan nada lebih tinggi dari Ibunya. Apa yang terjadi setelah itu? Ketika beliau sadar, langsunglah meminta maaf pada Sang ibunda. Saking menyesalnya ulama besar ini, ia bertobat dari kesalahan itu dengan membebaskan dua orang budak.   Dahsyatnya orang-orang shalih nih.

Muhammad Ibnu Sirin juga tak ketinggalan. Beliau terkenal sebagai Ahli Ilmu yang mempunyai suara menggema bagai orator ulung, memotivasi kaum muslimin dalam Ibadah dan amal shalih. Namun apa yang terjadi ketika Beliau bertemu Ibunya? Sebagian kawan beliau berkata “Seakan-akan beliau selalu kehabisan suara ketika berhadapan dengan Ibunya”. Hal itu karena Muhammad Ibnu Sirin selalu hati-hati dan benar-benar diatur nada bicaranya ketika menghadap Sang Ibunda.

Hebat bukan main!

Abdullah bin Umar RA, sahabat besar yang meriwayatkan 5000-an hadits ini bahkan pernah menceraikan Istrinya. Wah wah, jangan su’uzhan dulu. Hal itu dikarenakan Ayahnya, Umar bin Khattab melihat akhlaq istrinya yang kurang baik, sehingga menyuruh anaknya menceraikannya. Itulah bentuk Birrul walidain seorang anak pada Ayahnya yang sekaligus Khalifah kedua Kaum Muslimin ini

Kawan, kadang kebun dan ladang Amal yang terbentang dari Ayah dan Ibu kita ini jarang sekali kita petik. Kita hidup dengan mereka berdua, setiap hari kita berjumpa dengan ayah dan Ibu kita. Namun jika perjumpaan itu tak menambah secuilpun pahala bagi kita, atau malah menambah kebusukan amal kita karena berlaku buruk kepada orangtua kita, hal itu benar-benar tanda kerugian sebesar-besarnya.

Suatu hari dalam sebuah majelis Halaqah Rasulullah, beliau naik ke atas mimbarnya yang ada 3 anak tangga. Tapi ada sesuatu yang tidak biasanya beliau lakukan sebelumnya. Apa itu? Mengucapkan Amin setiap kali beliau naik dari anak tangga yang satu ke anak yang di atasnya. Setelah itu sahabat yang memang curious (ingin mencari tahu sebab-sebab perbuatan nabi) serta merta bertanya “Wahai nabi, mengapa ketika engkau naik dari anak tangga menuju anak tangga selanjutnya selalu membaca Amin sehingga kami mendengarmu mengucapkannya sebanyak 3 kali?”

Maka nabi pun menjawab “ketika aku naik ke tangga pertama, Jibril berbisik padaku tentang sebuah kalimat: celaka bagi manusia yang datang padanya Bulan Ramadhan, namun dosanya tetap tak berkurang. Aku mengucap “Amin”. Lalu Aku naik ke tangga ke dua, Jibril membisikkan lagi padaku: celaka bagi orang yang menemui orang tuanya dan hidup bersamanya, namun hal itu tak membuatnya masuk surga. Aku mengucap “Amin”. Lalu Aku naik ke tangga ke tiga. Jibril membisikkan lagi: Celaka bagi orang yang disebut nama Muhammad, ia malah tak bershalawat untuknya. Aku mengucap “Amin”.

Ridha Orangtua benar-benar indah; mendatangkan pahala dan kemudahan urusan. Sebaliknya, kemurkaan Orangtua kita adalah kerugian; menutup keberkahan dan mendekatkan kita ke rentetan kesusahan. Belajarlah untuk menggapai Keridhaan Orangtua walaupun dari hal yang kecil dan sepele.

Termasuk memilih mana yang lebih penting. Apa yang akan kau lakukan kalau Datang Ibumu memanggilmu dari kejauhan, sementara kalau lebih memilih mengerjakan Shalat Sunnah? Shalat Sunnah itu indah, tapi jika yang sunnah dikerjakan sedangkan yang wajib ditinggalkan, bagaimana jadinya? Tengoklah sebentar riwayat kisah ini.

Mungkin sebagian kawan sudah mendengar tentang Juraij. Juraij? Sudah? Nah, beliau ini adalah pemuda idaman yang menghiasi hidupnya dengan berbagai amal shalih di tengah-tengah Bani Israel, zaman dulu. Dia sengaja membuat sebuah rumah ibadah untuk dirinya, agar lebih fokus untuk meningkatkan kualitas juga kuantitas ibadahnya.

Namun suatu hari, Ibunya datang ke rumah ibadah Juraij. Memanggilnya karena membutuhkan bantuan anaknya. Juraij mendengarnya. Saat itu dia di posisi berdiri mau shalat sunnah. Bimbang sejenak, Juraij bingung mau mendahulukan panggilan ibunya atau ibadah shalat sunnah yang ingin dia kerjakan. Akhirnya, dipilihlah opsi kedua. Shalat Sunnah dulu. Menurut Riwayat, kejadian ini berulang sampai beberapa kali. Ketika Ibu Juraij memanggil anaknya, Juraij-nya malah memilih shalat sunnah, begitu seterusnya.

Kesal juga Sang Ibunda, karena panggilannya tak pernah diindahkan Juraij, beliau berucap “semoga ia tak punya anak kecuali dengan fitnah terlebih dahulu”.

Singkat cerita, Seorang wanita pelacur jatuh cinta pada Juraij dan menginginkan berzina dengannya. Jelas Juraij dengan tegas menolak. Namun si wanita jengkel karena tertolak, maka dia membuat sebuah makar untuk merusak nama Juraij di hadapan Masyarakat. Wanita ini akhirnya berzina dengan seorang Penggembala kambing, ketika dia hamil Ia memfitnah Juraij di hadapan Masyarakat bahwa anak yang dia kandung adalah anak dari Juraij. Hampirlah dibakar rumah ibadah Juraij plus namanya tercemar ke penjuru Israil. Juraij sadar bahwa hal ini terjadi karena sikap acuh tak acuhnya pada Ibunya, serta merta ia datang dan meminta maaf dari Ibunya, lalu meminta petunjuk Allah dan meminta jalan keluar dari masalah yang pelik ini. Karena kau tau saat itu belum ada tes DNA atau Penelitian Sains yang bisa menolak kesaksian Wanita Pezina itu.

Di akhir kisah, Ketika anak tersebut lahir. Juraij di hadapan khalayak ramai menanyakan kepada Bayi itu siapakah ayahnya yang asli. Dan kejadian luar biasa terjadi, Sang Bayi menjawab, “Ayahku Fulan bin Fulan, Penggembala Kambing di sana”. (Selama Sejarah manusia berlangsung, baru ada 4 bayi yang bisa bicara, yaitu Nabi Isa as., anak bayi di Kisah Ashabul Ukhdud, anak dalam kisah ketika Ibunya melihat Jenderal dan Budak yang diseret, lalu Bayi dalam kisah juraij ini. Baca lebih lengkap di Kumpulan Kisah dari Imam Ghazali ya…) Selesailah kisah dengan happy ending. Namanya kembali baik, dan Ia takkan mengulangi kesalahan itu kesekian kalinya. Takkan pernah.

Mungkin kisah dari Muhammad Ibnu Sirin ini bisa menutup tulisan ini dengan bijak. Suatu hari dalam kehidupannya, Ibnu Sirin pergi melaksanakan haji, dengan penuh ketulusan ia berangkat dan sampai di sana. Di hadapan Ka’bah yang mengagumkan, terlintas sebuah pertanyaan di benak Ibnu Sirin, apakah semua orang yang thawaf dan haji saat ini diterima amal-amalnya?

Lalu beliau berdoa di hadapan Baitullah, “Ya Allah, alangkah indahnya jika aku bisa melihat orang yang tidak dimabrurkan dan yang dimabrurkan hajinya….”.

Hingga suatu malam dalam hajinya, beliau bermimpi melihat semua orang berhaji, namun ada suara mengatakan di antara ribuan Pelaksana haji itu, ada satu orang, satu orang yang doanya tidak dikabulkan, namanya Fulan bin Fulan dari suatu Daerah.

Keesokannya, dicarilah oleh Ibnu Sirin orang yang namanya disebutkan dalam mimpinya. Setelah mencari ia dihadapkan dengan seorang yang khusyu’ shalat, kemudian berdoa sambil menangis menghadap Baitullah. Ibnu Sirin Nampak heran, orang ini nampaknya orang shalih yang benar-benar baik amalnya. Untuk memastikannya Ibnu Sirin datang menghampirinya.

“Benarkah namamu Fulan bin Fulan dari daerah ini?”

“Ya, benar. Benar. Kenapa?”

“Aku bermimpi, ketika semua orang berhaji, ada seseorang yang doanya selalu tertolak, dan orang itu adalah …. Maaf, Anda”

Mengalirlah airmata orang itu, ia menangis sejadi-jadinya. Menunduk malu di hadapan Ibnu Sirin. Kemudian orang ini menceritakan kisah hidupnya. Dahulu dia adalah orang yang suka mabuk-mabukan. Sampai bulan Ramadhan akan datang pun ia tak pernah absen dari Mabuk. Ketika sampai di rumah tengah malam. Ibunya membukakan pintu untuknya.

Sang Ibu dengan belas kasihnya mengusap wajah anak yang dia sayang walaupun dia sendiri kelelahan. Kemudian Ibunya membersihkan tubuhnya dari keringat, penuh kasih sayang. Seraya berkata “Nak, Ramadhan sebentar lagi, kenapa kamu masih saja bermabuk-mabukan? Ayolah ikuti ibu, kita ibadah bersama, kita puasa bersama. Ibu sudah rindu kita bisa beribadah bersama lagi nak….”

Kau tahu apa yang dia lakukan? Seketika itu pula dia Marah dan mendorong ibunya dengan Keras. Masalahnya bukan sampai di situ. Saat itu di dapur, ketika tungku menyala berkobar, Sang ibu terdorong ke arah tungku dan kau tahu apa yang terjadi?

Na’udzubillah, Ibu yang menyayanginya terbakar karenanya dan wafat.

Sejak saat itulah sang anak bertaubat, bertaubat, tiada hari tanpa bertaubat dengan penuh ketundukan, sembari bercucuran airmata. Namun sayang Taubatnya belum diterima.

Kawan, aku punya 3 hal untukmu dan aku agar kita melaksanakannya. Jaga Perkataan kita di hadapan Ayah dan Ibu Kita, Jaga Perbuatan kita ketika hidup bersama Ayah dan Ibu kita, dan Bersabarlah untuk terus berbakti pada mereka walaupun mereka kadang memarahimu. Marah mereka adalah cinta, kau harus tahu itu.

Jikalau di suatu hari nanti Ibu dan Ayah kita pergi meninggalkan kita menuju Alam Akhirat. Doakanlah mereka, istighfarlah untuk mereka, jalani hubungan baik dengan kawan dan kerabatnya, berilah mahkota untuk Ibu dan Ayahmu di akhirat kelak yang kau ukir dengan bacaan dan Hafalan Qur’anmu di dunia. Ajaklah mereka menuju Surga tertinggi bertemu Nabi dan Syuhada dengan amal shalihmu dan doa-doamu sepanjang sepertiga malam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (18 votes, average: 9,61 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Edgar Hamas
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir | Alumni SMPIT Ihsanul Fikri Mungkid Magelang | Alumni Ponpes Husnul Khotimah Kuningan

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang