Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Film Habibie & Ainun: Secercah Harapan Perbaikan Komitmen Suami Istri

Film Habibie & Ainun: Secercah Harapan Perbaikan Komitmen Suami Istri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Presiden RI ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie disaat-saat terakhir bersama sang istri, Hasri Ainun Besari. (inet)
Presiden RI ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie disaat-saat terakhir bersama sang istri, Hasri Ainun Besari. (inet)

dakwatuna.com Ainun Habibie, nama yang indah untuk pasangan suami istri. Nama yang menyimpan makna mendalam. Ainun sebagai mata hati dan Habibie sebagai kekasih. Ketika filmnya telah ditayangkan di beberapa bioskop juga mungkin sudah beredar di rumah-rumah melalui media CD, kita tersentuh melihat visualisasi realita kehidupan yang mereka jalani. Habibie sosok seorang ilmuwan dan teknokrat juga Ainun sebagai seorang dokter dan istri yang selalu mendampingi suaminya memberikan secercah kenangan indah bahwa hidup yang dihadapi penuh dengan romantika.

Film yang berjudul secara tegas, Habibie & Ainun, memberikan makna kepada penonton betapa kompleksitasnya perjuangan hidup pasangan ini. Di awal-awal kehidupan di Jerman, di samping kejeniusan spektakuler yang dimiliki Habibie, menyimpan kehidupan apa adanya. Masih teringat, ketika Habibie pulang dari kantor, ia kesulitan untuk pulang ke apartemennya, karena uang ongkosnya tidak cukup. Ia langsung berjalan kaki. Sementara istrinya, Ainun setia menunggu di rumah. Cerita ini menjadi sebuah kenyataan visual film yang menyuguhkan pentingnya ketahanan, kejujuran, dan kerja keras dalam menghadapi kehidupan.

Banyak sekali karakter yang mungkin dapat kita petik dari film tersebut. Kejujuran, kecerdasan menghadapi masalah, kesetiaan, kasih sayang, penuh perhatian, kesederhanaan, kekuatan komitmen, dan kerja keras, juga karakter baik lainnya. Perjalanan Ainun mendampingi Habibie, begitu pula komitmen Habibie untuk menggapai cita-cita dan perhatian terhadap keluarga dapat disaksikan tidak hanya pada perjalanan kehidupan di Jerman, pada awal kehidupan di Jerman antara melanjutkan kuliah dan kerja, tetapi dapat dilihat pula ketika keinginan kuat muncul untuk kembali ke Indonesia setelah berhasil menyandang gelar Doktor bidang Aeronautika dan berhasil menciptakan konstruksi gerbong kereta api. Ainun tetap mendorong dan memberikan semangat yang besar ketika Pemerintah Indonesia menyarankannya untuk kembali ke Indonesia untuk pengembangan industry pesawat terbang, sementara Ainun masih berada di Jerman. Ketika Ainun mendekati ajal di Jerman di salah satu rumah sakit mewah di Munchen, Habibie tetap mendampingi sampai detik-detik ajal menjemputnya. Sungguh, kesetiaan besar pasangan suami istri.

Film tersebut memberikan pesan pada kita sebagai penonton juga pasangan suami istri bahwa komitmen untuk hidup bersama dengan sinergis merupakan sebuah alur kehidupan yang mendatangkan kebahagiaan. Kesuksesan mencapai harapan hidup, menggapai cita-cita besar dalam kehidupan, dan membimbing generasi keturunan, membutuhkan sebuah kejujuran, kerja keras, semangat hidup, dan komitmen yang kuat. Dua insan ini menjadi contoh kehidupan nyata yang menunjukkan bahwa kesetiaan menjadi sebuah keniscayaan dalam menjalani kehidupan keluarga.

Dalam konteks kehidupan suami istri, film ini dapat menjadi media evaluasi perjalanan rumah tangga yang kita jalankan. Sudah seberapa jauhkah kesetiaan yang dapat diwujudkan dalam rumah tangga kita? Atau bisa pula film ini menyuguhkan menu kepada kita untuk dijadikan santapan refleksi diri dalam menjalani kehidupan rumah tangga Islami. Aktualisasi pasangan suami istri dalam konsep sakinah, mawaddah, dan rahmah, sebagaimana yang dijelaskan dalam ajaran Islam, salah satunya sudah dicontohkan dalam kehidupan Ainun Habibie ini.

Kenyataan pada kehidupan sehari-hari mengenai banyaknya kasus kegagalan rumah tangga dan perceraian menunjukkan bahwa perwujudan rumah tangga yang penuh dengan komitmen kebaikan dan kemajuan harus terbina dan terdidik dengan baik. Pasangan suami istri ibarat nakhoda di perahu yang berada di bahtera yang luas. Mereka berdua harus mampu dan tanggungjawab agar perahunya tidak tenggelam. Mereka harus punya kesamaan visi, misi, dan tujuan sebagai nakhoda menuju ke tepian pulau yang penuh dengan nuansa keindahan. Nah, di antara media penggugah bagi pasangan suami istri untuk hidup berkomitmen, salah satunya dengan film. Oleh karena itu, visualisasi cerita Ainun dan Habibie dalam film ini dapat dijadikan sebagai menu penyegar untuk nutrisi pengembangan rumah tangga menjadi lebih baik dan maju untuk mewujudkan generasi yang maju.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (15 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ketua Yayasan Pendididkan Latifah Ciwaringin, Cirebon.
  • Angga Dwi Anugerah

    gua suka sama ni film..keren bgt

Lihat Juga

Ilustrasi. (Rosaria Indah)

7 Tahun Kedua: Menyelamatkan Pernikahan Dari Kebosanan

Organization