Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Terpana dengan Buku Imam Shamsi Ali: Menebar Dakwah di Bumi Barat

Terpana dengan Buku Imam Shamsi Ali: Menebar Dakwah di Bumi Barat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com Berawal dari melihat jejaring sosial Facebook milik Imam Shamsi Ali pada tanggal 12 November 2013 yang lalu, dikabarkan bahwa buku Imam Shamsi Ali: Menebar Damai di Bumi Barat yang ditulis oleh Julie Nava telah terbit di Indonesia. Entah kenapa rasanya ingin langsung memiliki dan membaca buku itu, buku yang berisikan narasi biografis Imam Shamsi Ali dari kecil hingga menjadi salah satu tokoh Muslim yang sangat berpengaruh di New York, Amerika Serikat bahkan di dunia sekaligus -500 Tokoh Muslim Paling Berpengaruh di Dunia-.

Sebenarnya ada hal lain yang membuat saya penasaran, tentunya selain perjalanan dakwah beliau yang sungguh luar biasa menjadi pelayan umat, yang membuat saya penasaran itu adalah perjalanan studi beliau di Pakistan, tepatnya di Universitas Islam Internasional Islamabad. Universitas yang sudah tidak asing lagi bagi saya, ceritanya sewaktu duduk di sekolah dasar saya pernah kursus bahasa Inggris dengan Mr. Masudi, salah satu alumni Pakistan. Waktu itu Mr. Masudi bercerita kepada saya dan beliau melihat potensi yang dimiliki Irhamni kecil sangat besar, beliau menginginkan anak didiknya ini menempuh pendidikan yang sesuai dengan keinginan dan cita-citanya, karena terbukti ketika diikutsertakan dalam lomba yang berbahasa Inggris selalu menang -sewaktu masih kecil-, sebut saja; Speech Contest, Singing Contest, Reading of Poem, Quiz dll. Rasanya terlalu indah jika mengingat kembali masa indah dan polos itu, karena ekspektasi sewaktu kecil sangat besar, jika sudah dewasa ingin sekali kuliah di tempat Mr. Masudi di Pakistan, alasannya sangat simpel, yakni ingin fasih dan lancar berbahasa Inggris seperti Mr. Masudi. Alasan anak kecil tersebut hingga kini masih terpatri, semoga Allah mengabulkan keinginan yang sudah diukir sejak kecil itu. Aamiin.

Perjalanan membeli buku Imam Shamsi Ali ternyata tak semudah apa yang sudah direncanakan, sebab di toko buku langganan Gramedia Bekasi dan Matraman belum ada alias belum ada pasokan, maklum buku baru, setelah mengotak-atik mesin mencari buku ternyata buku yang dicari baru ada di beberapa tempat saja salah satunya di TB. Gramedia Pondok Indah Mall. Tanpa berpikir panjang langsung bergegas menuju PIM, alhamdulillah buku yang dicari ada. Sempat berkicau di Twitternya Imam Shamsi Ali, kalau saya sempat kesulitan mencari bukunya tersebut, ternyata beliau sosok yang baik dan bersahaja, setelah membaca bukunya yang berjumlah 302 halaman itu, saya merasa puas karena banyak pesan tersirat di dalam buku biografi yang berbentuk seperti novel ini, terkadang dibuatnya senyum simpul, terharu, malah kadang tertawa karena ada bagian ceritanya yang agak lucu, bahkan ada yang sampai membuat saya meneteskan air mata, secara keseluruhan semua yang dibahas sangat serius dan menarik. Intinya tidak ada perasaan menyesal jika sudah membeli buku tersebut, karena banyak ilmu dan wawasan baru yang bakal didapatkan.

Di Twitter Imam Shamsi Ali mengabarkan bahwa beliau akan ke Indonesia, dan akan ada acara peluncuran dan diskusi buku Imam Shamsi Ali: Menebar Damai di Bumi Barat di Universitas Paramadina, Jakarta pada tanggal 28 November. Tentunya banyak lagi kegiatan lain yang sudah dirancang dengan baik selama beliau berada di Indonesia.

Launching Buku Imam Shamsi Ali: Menebar Damai di Bumi Barat, di Universitas Paramadina, Jakarta. (Irhamni Rofiun)
Launching Buku Imam Shamsi Ali: Menebar Damai di Bumi Barat, di Universitas Paramadina, Jakarta. (Irhamni Rofiun)

Singkat cerita, acara launching buku beliau pun akhirnya berhasil dilaksanakan dengan baik dan sukses, hadirin sangat antusias mendengarkan pemaparan yang telah diberikan Imam Shamsi Ali, ditambah jawaban pertanyaan dari beliau yang cukup memuaskan para penanya. Alhamdulillah saya pun turut hadir di acara tersebut dengan mengajak salah satu adik kelas yang berencana melanjutkan studi sarjananya di UII Pakistan, bernama Dhiaulhaq. Mungkin orang tuanya -salah satu guru saya juga, Guru Masilla, biasa dipanggil- terobsesi dengan Pemimpin Pakistan Ziaulhaq yang sangat disegani itu, karena orangtua Dhiaulhaq juga alumni Pakistan. Setelah menyaksikan secara langsung acara launching buku Imam Shamsi Ali: Menebar Damai di Bumi Barat dan melihat lebih dekat sosok yang sungguh luar biasa ini, rasanya speechless, sangat kagum dengan perjalanan hidupnya.

Berikut saya berikan sedikit resume dari buku yang sangat bermanfaat ini disertai tayangan rekaman video acara launching buku Imam Shamsi Ali: Menebar Damai di Bumi Barat sewaktu di Universitas Paramadina (28/11/2013) yang sudah saya upload melalui YouTube. Semoga Allah selalu memberikan keberkahan kepada Imam Shamsi Ali dan keluarga serta para pembaca pun mendapatkan hal yang serupa dengannya, dan jangan lupa untuk membeli buku Imam Shamsi Ali: Menebar Damai di Bumi Barat di toko buku kesayangan Anda masing-masing.

Utteng –nama asli Imam Shamsi Ali- adalah bocah Bulukumba yang nakal, pemalas dan suka membolos. Pernah dipenjara gara-gara memukul seorang siswa bernama Mustafa hingga hidungnya patah dan harus dibawa ke rumah sakit. Orangtua Mustafa kemudian memanggil polisi dan mereka menangkap Utteng, padahal Utteng tak sepenuhnya bersalah. Akhirnya Utteng masuk penjara selama dua pekan. Untungnya, ia tidak dikeluarkan dari pondok gara-gara insiden tersebut.

Nama Utteng diubah ketika ia dan bapaknya menghadap K.H. Abdul Jabbar Asyiri, pimpinan pondok pesantren Darul Arqam, Gombara tempat ia bernaung selama hidup di penjara suci tersebut. Sebab dalam Islam, nama adalah doa dan harus memiliki arti yang baik, Sang Kyai akhirnya mengganti nama Utteng menjadi Muhammad Shamsi Ali. Dengan harapan, Utteng bisa menjadi orang yang memiliki sifat terpuji serta dapat menerangi umat dengan cahaya kemuliaan (yang tinggi).

Meskipun dikenal nakal, sewaktu kecilnya Utteng pernah menjadi juara di kampung dalam pertandingan membaca Al-Quran. Bahkan semasa belajar di pondok pesantren Utteng termasuk bintang kelas dan menjadi salah satu dari dua siswa terbaik yang menamatkan pendidikan di pesantren. Dengan nilai-nilai yang cemerlang tersebut, seharusnya jalan baginya terbuka lebar untuk melanjutkan kuliah. Namun kenyataannya, harapan tidak selalu seiring dengan kenyataan, merasa gundah, tidak tahu harus menempuh jalan apa setelah lulus pesantren tahun 1987. Hingga akhirnya menjadi mahasiswa International Islamic University (IIU) Islamabad, Pakistan.

Dosen-dosen di universitas ini berlatar belakang pendidikan dari Mesir, Timur Tengah, dan Eropa. Mata pelajarannya disajikan dalam bahasa Arab dan Inggris. Bahasa Inggris ditekankan penggunaannya, sebab universitas ini memang bertujuan mengarahkan alumninya agar mampu berkiprah di dunia internasional.

Pakistan termasuk negara konflik, tak aneh bila sering terdengar suara tembakan di setiap waktu. Pemicu ketegangannya adalah karena di masa itu sedang berlangsung perang Afghanistan. Bahkan dampak perang antara Afghanistan melawan Uni Soviet terasa hingga ke kampus. Mahasiswa seolah terbelah menjadi dua, antara mereka yang ingin tetap berkonsentrasi pada urusan kuliah, dengan mereka yang terobsesi untuk mengambil bagian dalam perang Afghanistan. Terkadang mereka saling ejek, dan akibatnya, terjadilah keributan. Konflik itu pun masih berlangsung hingga sekarang meski dengan wajah yang berbeda.

Kisah yang paling lucu dan membuat tersenyum lebar adalah ketika Imam Shamsi Ali menemukan tambatan hatinya yang akhirnya menjadi istrinya, Muthiah, yang dulunya seorang bocah perempuan yang sering ia temukan bermain di bawah pohon-pohon mangga di sekitar pondok. Muthiah dulu adalah gadis kecil yang tomboy dan periang. Dia kerap ikut-ikutan berlatih silat bersama murid-murid Shamsi Ali, karena Shamsi Ali remaja adalah pelatih silat di pesantrennya dulu. Biasanya ia membiarkan saja dia begitu, sebab ternyata Shamsi Ali juga menyukai tingkahnya yang lucu dan polos. Kehadirannya menjadi hiburan tersendiri, dan membuat Shamsi Ali remaja bisa sejenak melupakan penat sehabis melatih silat.

Hal yang paling menarik dalam memoar ini adalah kegiatan Outreach dan Interfaith yang dilakukan oleh Imam Shamsi Ali di Amerika Serikat. Outreach adalah menjangkau masyarakat sekitar –yang mayoritas beragama Kristiani dan Yahudi- agar tahu tentang aktivitas di dalam masjid, tidak sekadar tahu bangunan atau namanya saja. Sedangkan Interfaith adalah dialog antar umat beragama yang lokasi penyelenggaraannya dilakukan secara bergiliran di Gereja, Sinagoge, dan Masjid. Interfaith sama sekali bukan ditujukan untuk mencampuradukkan keyakinan, sebagaimana yang sering didengungkan oleh orang-orang yang berpandangan sempit. Interfaith banyak manfaatnya, terutama untuk membangun kerja sama dalam hal kemanusiaan dan sosial, serta mengikis prasangka yang muncul karena perbedaan agama.

Menurut Imam Shamsi Ali, berdakwah di negara seperti Amerika, membutuhkan strategi tersendiri. Seorang da’i yang datang ke Amerika, tidak bisa begitu saja menerapkan gaya dakwah seperti yang dia lakukan di negara sebelumnya. Setiap negara memiliki corak budaya mereka sendiri. Di Amerika yang budayanya lebih menekankan pada dialog dan logika, tentu tidak mungkin didekati dengan cara kaku yang dogmatis, seperti menerapkan larangan atau aturan tertentu tanpa memberikan penjelasan yang dapat diterima oleh akal.

Demikian pula untuk soal kerja sama dengan non-Muslim. Beliau melihat, kerja sama maupun keterlibatan (engagement) dengan orang-orang yang berbeda keyakinan adalah hal yang tidak dapat dihindarkan. Sebab, Amerika adalah negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim. Setiap hari, setiap saat, dan dalam hampir segala denyut kehidupan, kita tidak dapat mengisolasi diri sendiri dengan menolak bekerja sama dengan non-Muslim.

Sepanjang kerja sama tersebut masih ada dalam perspektif kemanusiaan dan kebaikan maka tidak ada larangan dalam Islam. Pada masa Rasulullah dan para sahabat, Muslim, Nasrani, dan Yahudi bisa hidup berdampingan dengan damai. Bahkan Islam melarang kaum Muslim untuk mengganggu atau menyakiti non-Muslim selama mereka tidak berbuat kejahatan.

Imam Shamsi Ali mengakui bahwa menghapus prasangka terhadap Islam bukanlah pekerjaan ringan, terutama setelah kejadian 9/11. Pasca kejadian itu hingga saat ini, sudah ada sekitar 50 kasus berlabel terorisme yang dilakukan oleh mereka yang mengaku sebagai Muslim. Dan setiap kali ada tindak kejahatan yang melibatkan Muslim, dampaknya memang cukup terasa bagi komunitas Muslim dan Islam, sekalipun pada faktanya itu hanya dilakukan oleh perseorangan dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan esensi ajaran Islam.

Yang pertama, peran media sangat besar. Banyak sekali media massa yang memberitakan kejadian serupa itu dengan berlebihan dan tidak proporsional. Misalnya pemberitaan tentang kasus Boston. Yang banyak diulas oleh media adalah sisi negatif dari radikalisme, tetapi mereka jarang mengulas fakta bahwa sebenarnya komunitas Muslim Amerika mengutuk keras kejadian pengeboman tersebut dan membantu pihak berwenang sebisa mungkin. Media juga tidak banyak memberitakan, bahwa pada minggu yang bersamaan, komunitas Muslim di Toronto-Kanada berhasil mencegah sebuah plot teror. Para pelaku yang hendak meledakkan kereta api di sana, berhasil ditangkap oleh pihak berwenang berkat bantuan komunitas Muslim yang memberi tahu polisi tentang keberadaan orang-orang yang mencurigakan.

Penulis bersama Imam Shamsi Ali pada acara launching buku "Menebar Damai di Bumi Barat" (Irhamni Rofiun)
Penulis bersama Imam Shamsi Ali pada acara launching buku “Menebar Damai di Bumi Barat” (Irhamni Rofiun)

Yang kedua adalah faktor pemahaman agama, terutama dalam memahami nash-nash dalam agama itu sendiri. Jika ada sebuah pemahaman terhadap agama atau teks dalam kitab suci yang tidak sesuai konteks, bahkan bertentangan dengan spirit agama itu sendiri, sangat potensial menimbulkan sikap radikal. Terutama ayat tentang jihad atau ayat tentang semangat atau ghirah beragama dalam Al-Quran yang sering diambil sepotong-sepotong serta tidak dipahami dalam konteks yang benar. Ini biasanya mudah sekali ditelan mentah-mentah oleh orang yang baru mendalami agama, dan menimbulkan keinginan untuk membela agama secara tidak proporsional.

Dalam buku ini yang paling membanggakan adalah ketika Imam Shamsi Ali bersama dengan enam tokoh agama lainnya dinobatkan sebagai penerima Ellis Island Medals of Honor, sebagai salah satu tokoh agama yang dinilai mampu memberi sumbangsih terhadap perdamaian, toleransi, dan keberagaman di Amerika. Ellis Island Medals of Honor adalah penghargaan tertinggi non-militer dari pemerintah Amerika, ditujukan untuk para imigran yang dianggap memiliki spirit atau semangat untuk menjadikan Amerika sebagai negara yang lebih kuat, dan tempat yang lebih nyaman bagi semua orang.

Sejumlah figur publik Amerika dinobatkan sebagai penerima penghargaan ini, mereka berasal dari berbagai latar belakang; mulai dari presiden, atlet, pengusaha, tokoh agama, tokoh pendidikan, dan tokoh internasional. Bill dan Hillary Clinton, Muhammad Ali, George H. W. Bush, Tony Blair, termasuk beberapa tokoh yang menerima penghargaan ini. Penghargaan yang telah diterima oleh Imam Shamsi Ali ini terbilang sangat istimewa. Karena pada saat itu, untuk pertama kalinya, seorang Muslim menjadi penerima penghargaan ini. Dan kehadirannya tidak saja disebut sebagai Muslim Amerika pertama, tetapi juga disebut sebagai sosok yang mewakili sebuah negara Muslim terbesar di dunia, yakni Indonesia.

Masih banyak lagi kisah yang belum terungkap, sebaiknya langsung saja beli bukunya dan membacanya hingga puas. Bacalah buku ini maka kita akan tahu bagaimana dunia luar yang sebenarnya, khususnya mengenai pentingnya esensi Islam tidak lagi mengikuti Islam kultur. Terakhir, semoga Allah memperbanyak Imam Shamsi Ali yang lain, agar tugas dakwah menebarkan damai di semua belahan bumi dapat terjamah dengan baik dan sukses. Aamiin. []

(Video Part 1) Launching Buku Imam Shamsi Ali: Menebar Damai di Bumi Barat, di Universitas Paramadina, Jakarta: 

[youtube _rScQe6FTXA 640]

(Video Part 2) Launching Buku Imam Shamsi Ali: Menebar Damai di Bumi Barat, di Universitas Paramadina, Jakarta: 

[youtube Y8WNEgoN_cA 640]
About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Irhamni Rofiun
Moderat, pecinta Al-Quran, suka menulis dan berbagi informasi, juga blogger mania.
  • Jurnal Pemilu

    Ada kesalahan menerjemahkan “Ellis Island Medals of Honor adalah penghargaan tertinggi non-militer dari pemerintah Amerika, ditujukan untuk para imigran”, silakan dicek definisi penghargaan ini di Wikipedia ” The medals honor the contribution made to America by immigrants and the legacy they left behind in the successes of their children and grandchildren”.

    Semoga diperbaiki :)

Lihat Juga

Hubungan Baik Dakwah Sekolah dan Kampus