Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Ya Waalidii… Jasamu Hanya Bisa Kubalas dengan Doa

Ya Waalidii… Jasamu Hanya Bisa Kubalas dengan Doa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (zakysa.blogspot.com)
Ilustrasi. (zakysa.blogspot.com)

dakwatuna.com Kasih ibu sepanjang masa kasih anak terhadap ibu hanyalah sepanjang galah. Mentafakuri bagaimana Allah telah mengamanahkan kita kepada orang tua kita, meniupkan ruh pada janin yang berada di dalam rahim sang ibu. Kemudian sang ibu berjuang mengorbankan jiwa raga untuk melahirkan kita dan memindahkan kita dari alam rahim ke alam dunia.

Dalam suka, dalam duka, dalam derita, ibu tak pernah meronta dan meneriakkan rasa lelahnya. Menggendong, mengayun, dan menyusui kita. Tangisan pemecah hening di malam hari, teriakan di siang hari menambah panas terik sang surya, pagi yang sejuk dan suci pecah oleh tingkah polah kelakuan nakal kita.

Sang ayah, terus berjuang sekuat tenaga mencari nafkah, membanting tulang tak kenal rasa sakit. Kulit menghitam terpapar sang surya, badan membungkuk memikul beban, kulit mengendur karena terlalu banyak keringat yang diperas dan keluar dari pori-pori kulit untuk dikristalkan menjadi pundi-pundi rupiah. Rupiah yang dicari untuk sang anak dan istri yang telah Allah amanatkan kepada ayah.

Menginjak usia SD kita sedikit melupakan orang tua, lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk bermain dengan teman sebaya. Memasuki Usia SMP dan SMA sudah lebih sibuk lagi dengan tugas- tugas dan kegiatan sekolah. Masa-masa kuliah adalah masa paling parah ketika keberadaan orang tua sudah tidak di anggap penting, kita hanya memikirkan diri sendiri, mencari kebahagiaan bersama teman-teman dan memikirkan kesuksesan masa depan kita. Ada di mana orang tua pada saat itu? Apakah setiap hari kita meminta doa mereka untuk meridhai semua kegiatan kita pada hari itu? Apakah kita menanyakan kabar mereka di pagi itu? Sepertinya tidak, pertemuan kita di pagi hari hanya diisi dengan percakapan “mana uang bekal/ongkosnya?” astaghfirullah…sepertinya saya akan sakit hati jika saya menjadi ibu nanti jika anak saya demikian…

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan hadits ini shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim “Dari Addulloh Ibnu Amar al-Ash Rodiyallohu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda “Keridhaan Allah tergantung kepada ridha orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” bertafakur dan bermuhasabahlah terhadap diri kita, apa yang kita lakukan selama ini dan bagaimana perlakuan kita terhadap orang tua. Mencoba terus memperbaiki diri mendekat kembali kepada orang tua dan lebih mendekat lagi dengan Allah sang Khaliq.

Di penghujung usia remaja, dalam perjalanan menuju usia dewasa sontak mata saya terbuka banyaknya keringat yang telah mereka keluarkan takkan pernah terbayar walaupun dengan sebanyak jumlah air yang berada di lautan, rasa lelah dan letih mereka takkan pernah terbayar walau dibayar dengan jumlah uang Miliaran.

Satu hal yang ada di benak saya dan janji terhadap diri saya sendiri, bagi saya menjadi anak shalih adalah sebuah keharusan. Dan Allah pun telah memerintahkan dalam al-Quran bagaimana keharusan seorang anak untuk selalu mendoakan orang tua Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku
(QS. Nuh: 28) serta kasihilah mereka berdua seperti mereka mengasihiku sewaktu kecil (QS. Al-Isra: 24)

Karena memang tidak ada lagi yang bisa kita berikan kepada orang tua kita untuk membalas budi semua jasanya kecuali Doa. Dan Doa yang akan diijabah oleh Allah adalah doa anak yang shalih. Jika materi bisa membahagiakan orang tua di dunia saja, maka Doa dari anak yang shalih lah yang akan memberikan kebahagiaan sejati di dunia dan di akhirat. Semoga kejadian apapun yang terjadi dalam kehidupan kita adalah fase di mana kita mencoba menjadi pribadi yang lebih baik dengan mengambil ibrah dan Hikmahnya. Aamiin…

Wallahu a’lam bishawwab…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mia Mar’atussolihah
Lahir di Ciamis tahun 1990. Saat ini sedang menempuh pendidikan s2 di Sekolah Pasca Sarjana UPI Bandung selain menjadi mahasiswa juga mengajar ebagai tenaga honorer di SD di Ciamis.

Lihat Juga

Ilustrasi (www.cakechooser.com)

Mudik dan Lezatnya Masakan Ibu