Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tentang Pelangi

Tentang Pelangi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Siapa yang malu-malu menanti pelangi (?) Senjakah (?) atau Hujan? Ya, senja selalu saja menanti. Menanti hujan yang kemudian reda, lalu diikuti lengkungan busur pelangi yang memikat mata. Senja selalu saja bisa berubah rupa. Jingga jadi ungu. Hilangkan semua pilu kelabu.

Pelangi setia menanti untuk segera menghampiri bumi. Layaknya manusia yang setia menanti. Menanti pagi yang disinari mentari. Menanti siang yang begitu garang. Menanti senja yang bening lengang. Menanti malam yang diselimuti rembulan. Menanti pertukaran tahun, musim dan bulan. Serta menanti untuk kembali kepada-Nya.

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Yunus: 5)

Melihat pelangi yang penuh warna-warni memikat saya untuk segera mengamati. Mungkinkah pelangi akan mengalahkan keindahan aurora? Entahlah, karena saya belum sempat membandingkannya.

Tak perlu perbandingan sebenarnya, biar saja pesonanya sendiri–sendiri yang menarik mata-mata jeli untuk segera mengalihkan pandangan mereka.

Kenapa saya begitu menantikan hujan?
Karena setelah hujan reda, pelangi berjanji menghampiri.

Tak peduli tentang teori Descartes yang bilang kalau pelangi adalah keajaiban sinar matahari dan butir-butir air udara. Karena menurut teori saya, pelangi adalah keajaiban Sang Pencipta, Allah Azza Wa Jalla. Tak peduli berapa banyak spektrum warna pelangi. Tak peduli pelangi memiliki warna tujuh kali lipat merah Newton (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu).Tak peduli apa saja warnanya. Sejatinya, pelangi itu menyimpan berjuta warna yang remang-remang menyajikan keindahan tiada tara. Tak peduli semua orang melihat pelangi yang sama. Agaknya pelangi terkhusus hadir merona untuk menemani kesenduan hati saya. Menghapus sesayat yang sepi dan menghadirkan sebayang lindap yang penuh jutaan makna kehidupan.

Hujan dan pelangi sama-sama memikat hati. Setelah hujan reda, pelangi berjanji menghampiri. Tak usah gusar dalam penantian pelangi karena ia akan menghadiahkan rasa yang tak terperi. Jelas saja pelangi pandai berkata-kata dan menari, mampu menghibur hati yang sepi serta dapat menemani sebisik rindu hati.

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira”. (Ar-Rum: 48)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 7,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dewi Permata Sari
Kuliah di Universitas Padjadjaran. Sangat suka membaca, memasak, bepergian, berpetualang dan akting. Tertarik dengan menulis, berbicara, dan mendengarkan. Gadis yang suka tersenyum. Melankolis Sanguinis.
  • Militan Keadilan

    pelangi knapa ga dibahas dalam alquran ya?

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Masalah Seindah Pelangi