Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Win-Win Solution

Win-Win Solution

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Dapatkah suatu kemenangan menjadi indah bagi semua, seindah Futuhul Makkah? Saat-saat kita berbicara tentang suatu kemenangan yang indah, namun terasa amat kecut dalam pendengaran mereka.

Adakalanya kejayaan dalam bahasa kita adalah kehancuran dalam bahasa mereka. Kita menganggap sebagai pembebasan namun mereka menganggap sebagai penaklukan. Target-target yang kita incar dalam perjuangan dimaknai sebagai kehilangan posisi-posisi strategis bagi mereka. Agenda-agenda yang ingin kita capai diterima sebagai ancaman bagi eksistensi mereka. Kita merasa tengah menabur harapan, sementara mereka menangkapnya sebagai tebaran ketakutan. Keadilan yang ingin kita tegakkan adalah merampas kekuasaan yang mereka miliki. Kehadiran kita adalah ancaman bagi kepentingan mereka.

Bagaimanakah suatu pesan indah dikomunikasikan secara tepat? Bagaimana kita meyakinkan agar ketulusan ini tidak dilihat sebagai ancaman? Agar sikap welas asih ini tidak tampil dalam wajah garang yang menyeramkan.

Sehingga rintangan mereka buat untuk menahan laju kita berubah menjadi jembatan yang memudahkan kita melangkah. Kuda-kuda yang dipersiapkan untuk menghadang kita berubah menjadi kendaraan yang mengantarkan kita ke tempat yang akan dituju.

Langkah-langkah kemenangan menjadi lebih ringan, korban-korban yang seharusnya berjatuhan malah menjadi pihak yang ikut serta menikmati kemenangan.

Namun bagaimana kita akan meyakinkan mereka kalau kita belum mampu meyakinkan diri sendiri. Tentang apa yang dilakukan ini, apakah benar-benar terbebas dari ego dan kepentingan sesaat kita. Sudahkah yakin dalam perjuangan ini kita benar-benar memberi bukan merampas, memuliakan bukan merendahkan, membebaskan bukan menaklukkan. Benarkah ikhlas dan zuhud ini akan senantiasa terpelihara nantinya? Kesabaran untuk menanti pahala yang lebih baik di akhirat.

Suatu contoh kecil, kita berbicara tentang penaklukan Roma, begitu ringan mengalir tanpa terasa, bahkan teramat indah. Sementara bagi mereka tak seindah yang kita angankan, menjadi sesuatu yang horor, ancaman yang mengerikan, hingga akhirnya melahirkan sikap Islamophobia.

Ketika kita berbicara tentang sebuah kemenangan yang sempurna, dalam gambaran yang dikedepankan adalah dihancurkannya salib, dibunuhnya semua Yahudi. Mengapa tidak melihat juga sisi-sisi lain kemenangan yang teramat indah tentang kedamaian dan kemakmuran dunia, hingga tak seorang pun mau menerima pemberian, terbukanya hati seluruh Ahli Kitab menerima keimanan. Seindah ayat ini:

“Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisaa’: 159)

Seindah Futuhul Makkah, meski tak semuanya bisa seindah itu. Tentang orang-orang yang telah pasti berlaku ketetapan atas mereka, harus berpayah-payah untuk kebinasaan mereka sendiri. Juga tentang orang-orang yang telah ditetapkan menerima pahala dari besarnya kesulitan dalam perjuangan yang mereka hadapi.

Agar sebagian mereka mengetahui, dari kekalahan yang mereka derita memang mereka akan kehilangan sesuatu, namun dari kemenangan yang kita raih akan memberi mereka sesuatu yang lebih berharga sebagai gantinya. Akhir yang indah bagi semua.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

PM. Turki, Bin Ali Yildrim. (arabi21.com)

PM Turki: Kedepan, Kita akan Saksikan Perkembangan Positif di Suriah

Organization