Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Pedoman Umum EYD dan Dasar Umum Pembentukan Istilah

Pedoman Umum EYD dan Dasar Umum Pembentukan Istilah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul: Pedoman Umum EYD dan Dasar Umum Pembentukan Istilah
Editor: Dion Yulianto
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: VII, April 2013
Tebal: 179 Halaman
ISBN: 978-602-978-764-1

Jangan Meremehkan EYD!

Cover buku "Pedoman Umum EYD dan Dasar Umum Pembentukan Istilah".
Cover buku “Pedoman Umum EYD dan Dasar Umum Pembentukan Istilah”.

dakwatuna.com Kita dalam dunia kepenulisan sering dihadapkan pada beberapa macam persoalan yang acap kali menjadi beban pikiran. Menulis secara sepintas memang cukup mudah dan gampang. Hanya berbekal kemauan dan pena atau komputer. Dengan demikian, menulis bisa dijalankan. Namun sayangnya, ketika kegiatan menulis berlanjut ada beberapa kendala yang sering kita temui. Misalkan penulisan suatu kata yang salah. Penulisan suatu kalimat terkadang juga ambigu dan sulit untuk dipahami karena memang berangkat dari penulisan kata-kata itu sendiri yang kadang salah.

Berbagai persoalan yang menjadi beban bagi penulis akan dicoba untuk dipecahkan oleh buku sederhana ini. Memang seakan-akan jika kita disuguhi tatacara kepenulisan yang baik dan benar sekaligus efektif tidak mau dan kita menganggap diri ini sudah paham betul mengenai tatacara penulisan yang baik, benar, dan efektif. Namun kenyataannya, banyak tulisan-tulisan yang berupa kata dan kalimat yang susah untuk dipahami. Itu tak lain karena kesalahan dalam mengeja kata pada tempatnya.

Misalkan saja dalam penulisan huruf kapital pada suatu kata dalam kalimat. Bukan dengan serampangan kita memakai huruf kapital jika tidak mengetahui fungsi dan maksudnya. Suatu awalan kata yang ditulis menggunakan huruf kapital memiliki makna tersendiri dan maksud yang diinginkan. Secara umum, huruf kapital dalam suatu kata itu digunakan untuk menunjukkan bahwa kata itu merupakan nama seseorang. Bisa juga digunakan untuk nama suatu suku, bangsa, dan bahasa (Hal. 20-21).

Memang seakan mudah dan gampang menulis apa adanya dan ala kadarnya. Namun, substansinya sangat rumit jika kita tidak terbiasa dengan dunia kepenulisan yang disesuaikan dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan keefektifan dalam menulis. Hal ini yang perlu menjadi perhatian kita bersama ketika memasuki dunia tulis-menulis agar tidak banyak kesalahan. Semakin kesalahan yang kita buat dalam tulisan, semakin pula banyak keambiguan oleh pembaca untuk memahami maksud dan tujuan dari tulisan yang kita buat.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa kebutuhan pembelajaran mengenai tatacara kepenulisan yang baik, benar, dan efisien sesuai dengan EYD akan menjadi sebuah keharusan. Baik bagi para pakar, dosen, editor, siswa, mahasiswa, bahkan penulis sendiri agar tetap tidak memandang sebelah mata terhadap hasil karya tulis yang telah dibuat. Karena kemungkinan besar banyak kesalahan yang menjadikan pembaca tidak paham dengan ide tulisan yang kita buat.

Meremehkan EYD sama dengan meremehkan bahasa Indonesia. Dengan kata lain ketika sudah meremehkan bahasa Indonesia, secara tidak langsung sebenarnya bangsa Indonesia juga diremehkan. Tidak ada guna jika kepenulisan tanpa memerhatikan EYD yang baik, benar, dan efektif. Ketika EYD sudah hancur, maksud dan tujuan penulisan ide atau pun gagasan juga akan simpang-siur.

Ada hal lain yang juga kerap terjadi dalam dunia kepenulisan. Yaitu tatacara menulis gabungan kata. Kata yang semestinya digabung, malah ditulis dengan terpisah. Begitu pula sebaliknya, kata yang semestinya dipisah ditulis dengan tergabung. Misalkan penulisan kata “bumiputera”. Jika tidak memahami kaidah EYD yang baik dan benar, maka kata tersebut akan ditulis terpisah “bumi putera”. Padahal kalimat tersebut selayaknya digabung. Sungguh keironisan yang perlu kita waspadai demi menjaga kemantapan pembaca terhadap tulisan yang kita buat (Hal. 39).

Masih banyak gabungan kata yang disalahgunakan oleh para penulis. Entah disadari atau tidak itu yang menjadi persoalan, utamanya bagi editor buku. Editor bukan hanya mengubah bentuk kata belaka. Namun mengubah bentuk kalimat jika ada yang tidak sesuai dengan ejaan yang dibenarkan, namun tidak mengubah substansi dari tulisan yang ada. Buku ini meski menyajikan bentuk tata bahasa dengan ejaan yang baik dan benar, namun isinya hanya susunan belaka dari beberapa sumber. Tetapi validitasnya tetap sesuai dengan standar penggunaan EYD yang baik dan benar.

Etos untuk tetap menjaga dan mawas diri dalam memakai bahasa dengan ejaan yang baik dan benar haru benar-benar diperhatikan, baik itu dalam bahasa lisan maupun tulisan. Salah satu kata dalam mengeja, kesalahan beruntun akan terus terjadi dan pada akhirnya kesalahan akan menjadi sebuah kebiasaan oleh penulis atau pun penutur. Maka dari itu, solusi terbaik tak lain tetap dengan jiwa lapang memerhatikan EYD yang benar.

Segala bentuk keraguan mengenai kepenulisan dan tulisan yang Anda buat, buku ini akan menjadi teman setia tatkala hati bimbang dan khawatir salah dalam penggunaan EYD yang baik dan benar. Hal yang diutamakan dalam buku ini lebih pada tatacara menulis dengan ejaan yang baik dan benar sehingga memudahkan pembaca untuk memahami maksud dan tujuan dari tulisan yang kita buat. Namun, meskipun lebih mengutamakan pada perbaikan ejaan dalam dunia kepenulisan, buku ini juga patut dan bisa digunakan sebagai koreksi dan introspeksi diri terhadap bahasa lisan. Selamat membaca dan mengamalkan!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

  • Agustan Ahmad

    Kalau penulisan frase yang benar adalah “Ejaan yang Disempurnakan”, mengapa penulisan singkatannya “EYD”, bukan “EyD”?

Lihat Juga

Nenek Asyani sedang mengikuti persidangan di Pengadilan Negeri Situbondo. (viva.co.id)

Pengajuan Keberatan Nenek Asyani (63) yang Didakwa Curi Tujuh Batang Kayu Ditolak

Organization