Home / Pemuda / Essay / Dua Lingkaran Rasulullah

Dua Lingkaran Rasulullah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com “Orang lain mungkin bisa menilai, namun hanya kita yang lebih tahu kadar keimanan kita yang sebenarnya..”

Khutbah Jum’at kemarin ada suatu kalimat yang disampaikan Rasulullah SAW mengenai Iman dan Islam. Dua kata itu laksana dua lingkaran, yang pertama lingkaran kecil dan yang kedua lingkaran besar yang di dalamnya terdapat lingkaran kecil pertama tadi. Kata khatib, orang yang mengaku Islam namun tidak memiliki iman maka sejatinya ia hanya berada di lingkaran besar, namun tidak masuk ke dalam lingkaran yang lebih kecil dan berada di tengah.

Maksudnya? Ya, banyak dari kita yang mengaku beragama Islam, tapi ucapannya, tindakan dan kesehariannya tidak mencerminkan nilai-nilai keislaman itu sendiri. Suka yang namanya tawuran, narkoba, mabuk-mabukan, berjudi, korupsi, saling memusuhi antar lembaga/organisasi/golongan padahal ngakunya sama-sama benderanya Islam, berjilbab tapi tidak berhijab (sekadar menutup kepala tapi leher ke bawah ketat dan seksi, bahkan terkadang menerawang).

Masih gak ngerti nih hubungannya sama lingkaran itu? Mungkin kita anggap saja Islam itu sebuah hotel, maka orang yang mengaku masuk hotel tapi tidak menginap maka tidak bisa dikatakan sebagai orang penginap atau orang yang menginap di hotel. Bisa saja ia hanya butuh janji sama seseorang di lobby hotel, di restoran hotel atau ikut seminar dan kegiatan lain di ruang yang tersedia di hotel seperti meeting room atau aulanya.

Jika kita ingin dibilang menginap maka tidurlah minimal semalam di hotel, kalau ingin di bilang beriman maka masuklah ke lingkaran yang lebih kecil. Khatib juga memberi contoh orang yang tidak beriman itu seperti saat pemilu, mereka mengaku beragama Islam tapi memilih calon/pemimpin yang non muslim (ini khatib yang bilang loh?). Kalau alasannya caleg Islam juga korupsi, apa iya semuanya begitu, kan tidak? kenali lebih jauh wakil Anda atau minimal platform partai tempat caleg itu berada.

Anyway, kembali ke laptop upss … kedua lingkaran, pertanyaannya adalah, ada di mana kita sekarang? Sekadar di lingkaran yang besar bernama Islam atau sudah masuk ke lingkaran kecil bernama iman? Orang lain mungkin bisa menilai, namun hanya kita yang lebih tahu kadar keimanan kita yang sebenarnya, jika kita sendiri tidak tahu, maka ada yang salah pada hati kita yang selalu menuntun dan memberikan petunjuk serta pencerahan di saat kita tengah tersesat. Semoga kita tidak termasuk yang sedemikian itu. Semoga bermanfaat.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 6,93 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pengelola fans page Menjaga Semangat melalui kata-kata di Facebook, Gabung yuuk untuk kisah menarik lainnya. **Karena kita hidup tidak untuk sendiri melainkan untuk berbagi**

Lihat Juga

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini