Home / Berita / Silaturahim / KAMMI UNS Diskusi Tentang Peran Guru SMK

KAMMI UNS Diskusi Tentang Peran Guru SMK

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com Selasa (26/11/2013), sekitar 30 mahasiswa dan mahasiswi UNS berkumpul di salah satu ruangan di Kampus V UNS Wilayah Pabelan untuk berdiskusi tentang Peran Guru SMK dalam mencetak Generasi Teknokrat Rabbani. Diskusi tersebut diadakan dalam rangka menuju Indonesia yang bermartabat oleh KAMMI Komisariat Sholahuddin Al Ayyubi UNS yang bekerja sama dengan SKI FKIP UNS Wilayah Pabelan.

Diskusi diawali oleh Ketua Umum SKI FKIP UNS Wilayah Pabelan, Ahmad Azis Alfian, yang juga merupakan kader KAMMI Komisariat Sholahuddin Al Ayyubi UNS. Lalu dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh PJS Kabid Syiar SKI FKIP UNS Wilayah Pabelan yang juga merupakan kader KAMMI Komisariat Sholahuddin Al Ayyubi UNS. Selanjutnya langsung dimulai diskusi yang dipandu oleh Mendagri BEM FKIP UNS 2011, Suryanto, yang juga merupakan KaBid Sosial Masyarakat KAMMI Komisariat Sholahuddin Al Ayyubi UNS 2012.

Suryanto mengawali diskusi ini dengan menyampaikan tentang Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian dengan mengajak Diskusi para peserta. Selanjutnya Suryanto mengajak diskusi tentang kondisi guru di Indonesia yang hasilnya, antara lain: Saat ini banyak guru terkesan seperti buruh yang menuntut gaji yang tinggi, banyak pula guru yang tidak disiplin. Suryanto menyampaikan tentang perbandingan guru di instansi pendidikan negeri dan swasta dari segi gaji, peraturan, kenaikan pangkat. Suryanto juga menyatakan tidak sepakat bahwa guru hanya menjadi fasilitator saja.

Kemudian Suryanto mengajak diskusi tentang peran guru SMK dalam mencetak generasi Rabbani. Para peserta menyambut dengan antusias pertanyaan ini dengan berbagai statement yang ada, antara lain: Guru harus memiliki karakter, guru harus kreatif, guru harus mendidik siswa tidak hanya dari segi fisik semata tetapi juga nilai-nilai ruhaninya. Guru harus seimbang antara kata-kata dan tindakannya, Guru harus memasukkan nilai-nilai agama dalam mata pelajaran, dan mengalogikan dengan segala sesuatu dengan Islam.

Kemudian Suryanto mengajak diskusi tentang peran pemuda. Para peserta menyambut antusias pertanyaan ini dengan berbagai statement yang ada, antara lain: Persiapkan diri kita yang saat ini ada di Jurusan Teknik kejuruan untuk menjadi pendidik harapan bangsa di masa depan, mempelajari Islam, mengamalkannya, meningkatkan kapasitas diri kita, juga memegang teguh prinsip tidak mudah goyah.

Terakhir, pembicaraan tentang 10 kepribadian muslim oleh Hasan Al Banna. Suryanto juga menghimbau mahasiswa saat ini untuk membuka situs web ataupun buku-buku yang dapat meningkatkan kapasitas intelektual disiplin ilmunya masing-masing.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Febrian Indra Rukmana
Mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP UNS 2010. Penerima Beasiswa Aktivis Nusantara 2013 Dompet Dhuafa Republika. Koordinator BIRO AAI FISIP UNS. Ketua Badan Khusus Jaringan Fakultas KAMMI Komisariat Sholahuddin Al Ayyubi UNS.

Lihat Juga

Rantai bisnis global menjadi masalah kekinian yang harus segera dipecahkan. (inet). (cobatrading.com)

80% Peredaran Uang Hanya Dinikmati Segelintir Pengusaha Kakap, Pemerintah Harus Segera Bertindak