Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jodohmu Adalah Cerminan Dirimu, Benarkah?

Jodohmu Adalah Cerminan Dirimu, Benarkah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (desainkawanimut.com)
Ilustrasi. (desainkawanimut.com)

dakwatuna.com Waktu menunjukkan pukul 23.50. Mata ini masih enggan terpejam, walaupun sudah segala cara kucoba. Mulai dari memaksakan mata untuk terpejam, baca buku (he, katanya baca buku bisa menjadi obat mujarab untuk bisa memejamkan mata buat sebagian orang) dan terakhir mematikan lampu. Akhirnya kucoba untuk memanfaatkan dini hari ini, untuk merefleksi. Memuhasabah kembali, mereview kejadian-kejadian yang telah aku lewati.

Teringat beberapa pekan lalu. Ketika pertemuan rutin kami di salah satu rumah. Awalnya pembahasan hari itu mengenai pengalaman rekan-rekan yang sudah menikah. Bagaimana proses sebuah pernikahan itu agar tetap sesuai dengan syariat yang telah ditentukan. Bagaimana sehingga akhirnya kita bisa menentukan dan memantapkan hati agar menerima seseorang untuk menjalankan visi hidup secara bersama. Yakni bukan hanya sekadar menjalin kasih sayang antar dua makhluk. Bukan hanya menikahkan dua orang anak manusia. Tetapi juga menikah dua keluarga yang pasti memiliki perbedaan yang signifikan. Selain itu menikah juga membangun keluarga yang sakinah, mawaddah dan di bawah rahmat Allah serta menjadikan regenerasi yang mampu melanjutkan perjuangan dijalan dakwah ini. Ada banyak hal yang bisa dijadikan masukan dan nasihat bagi kami yang nota bane belum berumah tangga. Sehingga sesekali ada gurauan yang ku lontarkan kepada kakak-kakak agar menyegerakan dan menyempurnakan separuh din nya.

Ada satu kisah menarik yang diceritakan. Yaitu tentang seorang laki–laki yang sudah hampir lanjut usia. Umurnya sudah hampir kepala 4. Anggap lah si A. Tetapi ia masih belum menemukan jodoh. Padahal dari sisi lain dia adalah seorang yang mengerti agama, pintar, dan mampu dari segi materil. Hanya saja ketika ada yang bertanya criteria seperti apa yang ia inginkan. Sampai-sampai dari sebanyak-banyaknya wanita yang ia temui. Belum ada yang membuatnya tertarik untuk dijadikan pendamping. Mungkin inilah sumber masalah yang membuat ia belum menikah. Ketika ditanya sahabatnya (si B) calon seperti apa yang ia inginkan. Dan A menjawab, “dia harus seperti Siti Khadijah. Minimal mendekati. Harus cerdas, kaya jika perlu putih, pintar ini, pintar itu dll”. Si B kaget, tapi mencoba menenangkan diri. Sambil bertanya lagi kepada si A. “Jika kamu menginginkan kriteria pendamping yang kamu sebutkan tadi. Dan hampir mendekati seperti ibunda Khadijah RA. Apakah kamu sudah seperti Rasulullah? Yang rela berjuang untuk dakwah ini dengan perjuangan yang luar biasa? Sontak si A kaget. Dan membuatnya berfikir kembali dengan kriteria yang telah ditentukannya untuk mencari pendamping hidup.

Kisah itu masih berlanjut dengan di sampai hikmah dari cerita itu. Dan aku juga mencoba mencerna kisah tersebut. Ketika menginginkan seorang pendamping hidup nantinya. Pasti, sejak kemarin sudah ada kriteria-kriteria yang sudah ada di pikiran ini. Harus seperti apakah ia nanti, punya apa, hafalannya sudah berapa juz? Sudah paham tentang Islam sejauh apa? Aplikasi tentang pemahamannya sudah benar apa belum? Cerdas tidak? Gigih tidak? Sungguh-sungguh tidak? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang lain yang menentukan kriteria pendamping hidup ku nanti. Tapi kisah tadi membuat ku berfikir lagi dengan kriteria-kriteria yang sudah aku tetapkan. Seperti yang aku ketahui selama ini. Pasangan kita adalah cerminan dari diri kita. Ketika aku mengajukan kriteria-kriteria yang bejibun banyaknya dan mendekati sempurnanya seorang manusia. Apakah aku sudah menjadi pribadi yang aku sebutkan pada kriteria yang aku ajukan? Atau masih jauh dari semua itu? Nah, jika masih jauh dari semua kriteria itu, apakah pantas kita meminta lebih sementara kita tidak berusaha untuk menjadi pribadi yang ada pada kriteria yang kita tetapkan. Ternyata masih sangat jauh. Masih jauh. Gumamku dalam hati. Jika ingin pendamping seperti Rasulullah, jadikan dulu dirimu seperti Khadijah atau Aisyah. Jika ingin pendamping seperti Ali bin Abi Thalib, jadikan dulu dirimu seorang seperti Fatimah Azzahra. Begitu juga yang lainnya

Subhanallah. Sore itu cukup menjadi pelajaran bagiku. Cukup menjadi barometer untuk berpikir kembali. Teman….Ada banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah, nasihat atau apapun yang kita lihat dan yang kita dengar. Agar kita mampu menjadi pribadi-pribadi yang berpikir. Hanya saja apakah kita mau atau tidak mendengarkan dan mencerna nasihat itu agar menjadi suatu pembelajaran untuk diri kita. Wallahu’alam. Semoga bermanfaat.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (115 votes, average: 8,97 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Zahratul Afifa
Lahir di Bengkalis Provinsi Riau pada bulan Desember 1990. Mahasiswi semester 1 pada sekolah Pasca sarjana program studi pendidikan dasar di UPI. Memulai belajar menulis, dan menjadi anggota FLP kota Pekanbaru angkatan VIII pada awal tahun 2013.
  • Sela Unyil

    yap bener bgt…
    semua orang ingin mendapatkan jodoh yang sempurna…
    pie sudah seperti apakah kita…

  • muammar al jauhari

    cari yang bisa membantu dalam ibadah pada ALLOH dan berilmu,…kebanyakan wanita mengatakan jodoh itu sama dgn dirinya karena wanita berasal daritulang rusuk laki2,jadi bagaimana si laki2 begitu jugalahsi wanita,sebenarnya iniadalh suatu kerancuan pemikiran,sudah berlalu SUNNAH orang2terdahulu diantara mrk ada yg mendapatkan pasangan hidup yg diluar perkiraaanya, seperti istri nabi luth yg durhaka dan istri fir’aun asiah yg beriman pada ALLOH dan msh byk pasangan hidup yg mempunyai karakter yg bersebrangan dgn diri pribadi pasanganya, inti dari sebuah keluarga adalh mengetahui peran masing2 bgmn persansebagai istri,bgmn peran sebagai suami, dan jangan seperti si istri laksana seorang komandan kpd bawahan,yg selalu memerintah dan memarahi suaminya tdk menerima apa yg sisuami sanggupi dlm nafkah sesuai kesanggupannya, misalnya sisuami hanya mampu mengontrak rumah tpi si istri malah berkata ” sudah 5 tahun menikah tpi masih belum punya rumah..suami mcm apa itu…tdk memberi nafkah” ataupun krn si suami tdk mampu memberi uang utk beli bensin atau uang jajan atau tdk mampu membelikan baju baru buat istri atau anak dan kemampuanya hanya bertahap tpisi istri berkata”laki-laki macam pa itu tdk bertanggung jawab”…dll…

    • Ukhti Fillah

      Saat melihat pernikahan, aku yakin pasangan yang menikah tersebut Insya
      Allah pasti memiliki kesamaan.. Mungkin kesamaan hobi atau kesukaan,
      mungkin kesamaan tujuan, mungkin kesamaan pemikiran, mungkin kesamaan sifat, mungkin kesamaan akhlak, mungkin kesamaan kualitas iman dan beragam
      kesamaan lainnya..

      Fitrahnya, seseorang pasti cenderung pada orang yang memiliki kesamaan dengannya. Wanita berhijab syar’i langsung merasa dekat bila bertemu dengan wanita lain yang berhijab syar’i.

      Pernah aku mengetahui seorang istri berakhlak baik, dan ternyata begitu
      pula-lah suaminya.. Pernah juga aku mengetahui seorang istri berakhlak
      kurang baik, dan ternyata begitu pula-lah suaminya.. Suami cerminan
      istri dan istri cerminan suami.. MaasyaAllah…

      Tetapi jika Allah berkehendak, bisa terjadi salah satunya di suatu hari akan
      mengalami perubahan. Jika perubahan itu drastis, dan semakin hari
      perbedaan itu semakin tajam, maka insya Allah akan berpisah.. Seperti
      nabi Nuh berpisah dengan istrinya, Fir’aun berpisah dengan istrinya
      (Asiyah binti Mazahim), nabi Ismail berpisah dengan istri pertamanya..

      Contoh : Seorang taat dan seorang pecandu minuman keras. Tiga kemungkinan yang bisa terjadi :
      # Pecandu minuman keras akhirnya bertaubat dan ikut menjadi taat
      # Si taat justru terpengaruh dan menjadi pecandu minuman keras
      # Mereka tidak pernah menjadi sahabat karib, mungkin hanya sebatas kenal atau teman biasa

      Perhatikanlah dengan orang-orang seperti apa Rasulullah bersahabat..
      Sahabat beliau shallallahu alaihi wasallam adalah orang-orang luar
      biasa.. Perhatikanlah dengan wanita-wanita seperti apa Rasulullah
      menikah.. Istri-istri beliau shallallahu alaihi wasallam adalah
      wanita-wanita istimewa, terlebih lagi Khadijah binti Khuwalid dengan
      akhlak terpujinya..

      Jika engkau melihat keburukan pada pasanganmu, janganlah terburu-buru menganggap dirimu lebih baik dari dia.. Boleh jadi itu merupakan cara Allah memberitahukan padamu tentang kekuranganmu atau keburukanmu.. Dan jika Allah “menegurmu” percayalah bahwa sebenarnya Allah ingin agar engkau menjadi manusia yang lebih baik..

      Fitrahnya, seseorang pasti cenderung pada orang yang memiliki kesamaan dengannya.

      Wallahua’lam..

      (Catatan Annisa Abdurrahim)

Lihat Juga

Ilustrasi. (plus.google.com)

Antara Menanti Jodoh dan Menunggu Bus

Organization