Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menjadi Guru Berkarakter; Sebuah Gagasan Bagi Perbaikan Pendidikan Nasional

Menjadi Guru Berkarakter; Sebuah Gagasan Bagi Perbaikan Pendidikan Nasional

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (gagasanriau.com)
Ilustrasi. (gagasanriau.com)

Renungan Hari Guru Nasional

Pendahuluan

dakwatuna.com Kesenjangan antara cita-cita pendidikan nasional dan fakta yang terjadi dalam kehidupan berbangsa semakin menguatkan penting dan mendesaknya pembentukan karakter. Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Bandingkan dengan berita di media yang menyoroti betapa makin terpuruknya moral atau karakter bangsa tercinta ini. Media elektronik atau cetak hampir tiap hari menayangkan acara-acara kekerasan. Terbongkarnya kongkalingkong antara mantan pegawai pajak sebagai salah satu rantai mafia perpajakan dengan oknum aparat hukum, sehingga tersiar (dan sudah diakui olehnya) berita plesiran ‘sang tokoh’ dari penjara ke Bali. Data korupsi pejabat yang dirilis dari hasil riset Transparency International Corruption Perceptions Index 2009, masih menempatkan Indonesia pada peringkat yang sangat memprihatinkan. Sementara dari kasus penyalahgunaan narkotika, Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat prestasi tahun 2009, sebanyak 3,6 juta pengguna di Indonesia yang 41 % di antara mereka mencoba pertama kali pada usia remaja (usia sekolah menengah) yakni 16 s.d 18 tahun (Republika on line, 26/6/2009).

Pendidikan Berkarakter

Kata ini seolah menjadi primadona sejak 2009 silam. Bahkan Hardiknas 2010 yang baru lalu mencantumkan pendidikan berkarakter sebagai tema sentralnya. Berbagai diskusi, seminar, ceramah, dan bedah pemikiran dilakukan guna membahas dua kata tersebut. Bukan latah, kemudian judul di atas mencantumkan kata berkarakter. Tetapi hal ini dikarenakan penting dan mendesaknya pembentukan karakter.

Apa yang salah dengan pendidikan di negeri ini? Pertanyaan yang tidak mudah dijawab, sehingga beberapa tokoh pendidikan dan pemerintah menulis dengan slogan besar, kita memerlukan Pendidikan Karakter! Padahal istilah tersebut sudah lama dikenal bangsa ini. Tentu kita pernah ingat adanya pendidikan budi pekerti, Pendidikan Moral Pancasila, dan Pendidikan Agama. Tetapi, mengapa tidak membawa perubahan dan kebermaknaan?

Thomas Lickona seorang pendidik karakter dari Cortlaand University, dikenal sebagai Bapak Pendidikan Karakter Amerika menyatakan, bahwa sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran jika memiliki sepuluh tanda-tanda yaitu meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, membudayanya ketidakjujuran, sikap fanatik pada kelompok, rendahnya rasa hormat pada orang tua dan guru, semakin kaburnya moral baik atau buruk, membudayanya penggunaan bahasa yang buruk, meningkatnya perilaku merusak diri seperti penyalahgunaan narkotika, alkohol, seks bebas, rendahnya rasa tanggung jawab sebagai individu dan sebagai warga negara, menurunnya etos kerja, dan adanya rasa saling mencurigai atau kurangnya kepedulian antar sesama (Lickona dalam Syaharudin, Pendidikan Karakter, Apalagi?, Republika, 21 Oktober 2010)

Guru Berkarakter

Apa yang diungkapkan Lickona, bahwa karakter itu erat kaitannya dengan ‘habit’ atau kebiasaan yang terus-menerus, hanya menegaskan ide-ide yang dituangkan para pemikir sejak berabad-abad silam. Barat mengembangkan nilai-nilai moral dan karakter yang bersumber dari Yunani, yang diungkapkan Socrates (469 – 399 SM), dilanjutkan muridnya yaitu Plato (428 – 348 SM), dan disempurnakan murid Plato yaitu Aristoteles (384 – 322 SM). Socrates menuliskan bahwa tujuan pendidikan yang paling mendasar adalah membentuk individu yang baik dan cerdas (Grube, Plato’s Thought, USA: Hackett Publishing Company, 1980). Sedangkan Plato ‘sang murid’ melanjutkan pemikiran gurunya dengan menyampaikan hal yang lebih makro tidak sekadar menjadi individu yang baik, bahkan menjadi negarawan yang baik (Grube, Plato’s Thought, USA: Hackett Publishing Company, 1980). Sementara Aristoteles mengarahkan pendidikan kebajikan atau nilai.

Sedangkan Islam mengajarkan manusia berakhlak mulia berdasarkan wahyu Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa yaitu Al Qur’an dan sunnah Nabi-Nya. Akhlak atau karakter Islam terbentuk atas dasar prinsip ‘ketundukan, kepasrahan, dan kedamaian’ sesuai makna dasar kata Islam. Para pemikir muslim sejak awal telah mengemukakan pentingnya pendidikan karakter. Ibnu Maskawaih (932 – 1030 M) mengungkapkan pentingnya dalam diri manusia menanamkan kualitas akhlak dan melaksanakannya dalam tindakan-tindakan utama secara spontan. Imam Al Ghazali (1058 – 1111 M) mengungkapkan bahwa akhlak harus menetap dalam jiwa sehingga tercermin dalam perbuatan yang muncul dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran yang mendalam.

Sebenarnya secara materi, pendidikan karakter sudah tercakup dalam pelajaran Pendidikan Agama dan sebagian pendidikan lainnya. Namun sebagaimana halnya mata pelajaran lainnya, pelajaran Pendidikan Agama juga lebih menekankan pada pendekatan kognitif melalui hafalan dan lebih berorientasi pada pencapaian nilai di atas kertas (Ghusni, Salah Kaprah Nilai, Warta Bahari, 2009). Sehingga yang dipahami oleh peserta didik persis seperti yang dibawakan oleh gurunya, yaitu pembelajaran yang dilakukan berorientasi pada aspek perolehan pengetahuan semata secara akademik. Pembelajaran yang bermakna perubahan sikap dan tingkah laku peserta didik masih ‘diabaikan’. Sehingga, jika hal ini dibiarkan terus-menerus, akibatnya adalah akan semakin senjang antara pengetahuan dan perilaku. Pada sisi inilah peran guru yang memahami hakikat pendidikan dan diimplementasikan melalui kegiatan pembelajaran menjadi sangat sentral. Hanya guru yang berkarakterlah yang mampu memahami tujuan pendidikan karakter, bukan hanya berhenti pada orientasi nilai di atas kertas yang bersifat kognitif akademik. Tetapi pendidikan yang berorientasi pada pewarisan nilai-nilai kebaikan melalui penguatan pada perubahan sikap dan tingkah laku.

Tentunya hal tersebut tidak akan tercapai jika tidak diawali dari perubahan pada pemahaman, sikap, dan perilaku guru. Inilah yang dijelaskan oleh Lickona (dalam Syaharudin, Pendidikan Karakter, Apalagi? Republika, 21 Oktober 2010), dalam menanamkan pendidikan karakter, pendidikan harus dimulai oleh gurunya melalui tiga tahap utama yaitu knowing, loving, dan acting the good. Hal tersebut bermakna, seorang guru yang berkarakter, akan dapat menjalankan pendidikan karakter hingga sampai pada tujuan utamanya jika ia mengawali dengan pemahaman yang benar tentang karakter yang baik, mencintainya, dan melaksanakan karakter tersebut dalam wujud keteladanan. Kondisi inilah yang dapat mengeliminasi kegagalan pendidikan karakter, karena pendidikan tersebut melebur secara terpadu dalam diri guru. Kita dapat memerhatikan betapa Nabi Muhammad sangat diagungkan oleh umat Islam dalam semua segi kehidupannya. Karena, beliau memiliki karakter yang bisa diandalkan dan dicontoh. Begitu pula halnya dengan Sidharta Gautama yang sangat disanjung dan diikuti ajarannya oleh umat Budha. Nabi Muhammad dan Sidharta Gautama adalah contoh-contoh idola dan guru yang berkarakter mulia (Ghusni, Sudahkah Kita Menjadi Guru Berkarakter? Warta Bahari 2009).

Penutup

Guru sebagai ujung tombak pendidikan, memiliki peran yang sangat sentral dalam mewujudkan siswa yang berkarakter. Guru selain dituntut untuk menyampaikan materi, juga dituntut untuk menjadi ‘guru’ yang digugu dan ditiru yang sebenarnya. Guru harus bisa menanamkan moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Memberi penghargaan kepada yang berprestasi dan hukuman kepada yang melanggar, menumbuhsuburkan nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk. Selanjutnya, menerapkan pendidikan berdasarkan karakter dengan menerapkan ke dalam setiap pelajaran dan juga dalam kehidupan nyata. Yaitu, proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia (karakter) dapat terukir menjadi habit of the mind, heart, and hands. Wahai guru, ayo kita bangun diri kita sebelum membangun orang lain, karena setiap manusia (semestinya) adalah seorang guru, dan setiap guru (semestinya) menjadi cahaya bagi negerinya.

Salam hormat seraya teriring doa kebaikan untuk Ibu dan Bapak sebagai guru pertamaku, para murabbiku, semua guruku di TK ABA 5 Tegal, SMPN 2 Tegal, SMAN 1 Tegal, IKIP Jakarta, dan Unnes Semarang.  Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’alaa memberikan pahala yang berlipat ganda dan mengumpulkan kita bersama orang-orang shalih…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ghusni Darodjatun
Pendidik di MTs Negeri Margadana Kota Tegal. Pembina Yayasan Ribathul Ukhuwwah (penyelenggara Sekolah Islam Terpadu Usamah) Kota Tegal. Anggota Presidium Forum Silaturahim Umat Islam Kota Tegal. Anggota Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kota Tegal.

Lihat Juga

(Foto: Abdul Hakim)

Buktikan Kualitas, Sekolah Islam Terpadu Dominasi Pemenang Lomba Nasional Budaya Mutu SD

Organization