Home / Narasi Islam / Wanita / Pejuang Tangguh dalam Balutan Kasih

Pejuang Tangguh dalam Balutan Kasih

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (salamstock.com)
Ilustrasi. (salamstock.com)

dakwatuna.comBerawal dari cerita, dan berakhir di ujung kisah. Tanpa pamrih, tanpa rintih, sosok itu selalu ikhlas menapaki jejak-jejaknya yang terkadang gontai lalu cepat-cepat ia tutupi dengan balutan ketegaran, agar tak ada yang tahu betapa letihnya ia berjalan, cukuplah baginya Sang Maha Kuat. Sosok itu selalu bertahan merajut benang-benang kehidupannya yang terkadang kusut lalu cepat-cepat ia bungkus dengan kain ketangguhan, agar tak ada yang sedih melihat betapa penatnya ia merangkai waktu, cukuplah baginya Sang Maha Penuntun. Sungguh menyimpannya dan menyembunyikannya. Begitu rapat dan begitu erat, hingga celah ketidaksanggupan pun samar terlihat. Demi Tuhan, sosok yang seperti itu dulunya selalu ditindas, direndahkan, bahkan dicabut hak-hak kemanusiaannya. Terlalu dianggap remeh dan kotor, mendapatkannya laksana memperoleh kutukan dan aib buruk seluas kampung, malu. Demi Tuhan, sosok yang seperti itu dulunya tak pernah luput dari kekerasan, entah apa dosa, entah apa salah, tangan-tangan kekar nan keras selalu memukuli dan menganiaya, bahkan lupa kalau mereka juga terlahir dari rahim sosok lemah itu. Hingga akhirnya, janji Allah menyapa, menghabiskan semua paradigma sesat pemikir-pemikir yang merendahkan wanita. Lewat syariat Islam, perintah menghormati para ibu itu terlaksanakan, lewat Al-Qur’an pesan memuliakan wanita itu tersampaikan, dan Lewat Rasulullah himbauan mengasihi putri-putri itu diajarkan. Betapa indahnya.

Ya, setidaknya penggalan paragraf di atas dapat sedikit menggambarkan kepada kita bagaimana keadaan para wanita sebelum dan setelah Islam menjamahi dunia. Perbedaan yang begitu kontras seolah memberi pengertian bahwa sesungguhnya telah salahlah orang yang selama ini memegang paham kalau wanita adalah makhluk lemah yang tak sedikitpun bisa berkontribusi untuk kemajuan suatu bangsa dan hanya akan menambah beban dalam sebuah keluarga. Bukankah surga Allah itu terbuka buat siapa saja yang menghendakinya dan berusaha keras untuk mendapatkannya? Bukankah kebaikan itu bisa dilakukan oleh siapa saja dan tak ada gender yang membatasinya? Bukankah janji kematian itu pasti akan merenggut siapa saja dan tak pernah membedakan apakah dia pria atau wanita? maka jelaslah sudah, untuk urusan keadilan, seperti hak kebahagiaan, hak pengakuan, hak kasih sayang, hak hidup dan lainnya wanita memiliki porsi sama dengan pria. Hanya saja, yang perlu diketahui bersama, secara harfiah, pria tetap memiliki kuasa penuh menjadi imam para wanita, selagi dalam konteks yang lurus untuk membangun jembatan menuju keridhaan Allah, sebab tak akan pernah ada ridha Allah dalam sebuah keluarga yang bila sang istri durhaka dan tak mau berada di bawah pimpinan suaminya sebagai nahkoda pelayar bahtera (sekali lagi, dalam lingkup kebaikan).

Betapa wanita juga begitu dimuliakan kedudukannya, dihormati keberadaannya, dan disamakan hak-kewajibannya dengan pria di  dalam Islam.

Sejarah mengajarkan, di balik keberhasilan perang kaum muslimin memukul mundur tentara Quraisy, ada sosok-sosok lembut yang senantiasa memilinkan doa, di balik keberhasilan tersebarnya Islam dan terbunuhnya paham-paham kufur, ada wanita-wanita tegar lagi teguh yang senantiasa bersabar dan giat memupuk keimanannya lalu mendidik anak-anaknya untuk tumbuh menjadi pemuda dan pemudi mukmin. Hingga di negri ini pun, di balik kesuksesan terkibarnya Sang Merah-Putih dengan anggun di ujung tiang bendera, ada wanita-wanita tangguh yang senantiasa dengan segala kemampuannya ikut berjuang mengusir para penjajah.

Sosok wanita itu bak air, ia lembut, menenangkan, melepaskan dahaga, dan menentramkan hati orang-orang yang dikasihi dan mengasihinya. Namun, berubah membara seperti api, rela korbankan segalanya, bahkan kuat melebihi kekuatan lelaki bila ada yang tega menyakiti hati orang-orang yang dikasihinya. Tidak kah kita lihat itu pada diri seorang ibu? Wanita itu bagaikan rembulan, begitu menyejukkan, mendamaikan dan membuat indah malam yang seharusnya kelam menjadi benderang lagi memesona demi kebahagiaan orang-orang yang dikasihinya. Namun, berubah kejam seperti bom, meledakkan apa saja, bahkan meluluhlantakkan seluruh cahaya agar semuanya gelap, bila ada yang sengaja melukai orang-orang yang dikasihinya. Tidak kah kita lihat itu pada diri seorang ibu?

Sering kita dibuat terkagum-kagum dengan tokoh-tokoh hebat yang mewarnai kehidupan. Tokoh hebat karena penguasaan ilmu pengetahuan dan keagamaannya, tokoh hebat karena hasil temuannya, tokoh hebat karena pengaruh sosial politiknya yang amat kuat di masyarakat, dan lain sebagainya. Lalu pernahkah sejenak kita kerahkan pikirkan kita, bahwa sebelum tokoh hebat itu terlahir, ada rahim ibu yang ia tumpangi, ada perjuangan ibu yang selama sembilan bulan lebih menjaga dan melindungi, serta ada pengorbanan ibu yang berkutat mati-matian melahirkan, membesarkan, mendidik, hingga ia bisa bermakna dan berarti bagi dunia.

Sebagai contoh dalam dunia kekinian, Islam memiliki seorang ilmuwan hebat yang juga tokoh agama terkemuka dan ia adalah Imam Syafi’i. Beliau merupakan salah satu mujtahid besar dan imam mazhab yang populer. Beliau terlahir dalam keadaan yatim dan miskin. Lantas siapakah yang mendidik dan mengarahkan Syafi’i kecil sehingga berhasil menjadi ulama besar? Maka, tentulah ada peran wanita mulia dibalik semua, ada sang ibu yang selalu menunjuk-ajari Syafi’i kecil untuk bisa mengenal Tuhannya, mengetahui betapa dahsyat perjuangan Rasul-Nya, dan betapa pasti segala kejadian yang ada dalam Al-Qurannya. Catatan fantastis ditorehkan Imam Syafi’i yang telah hafal Al-Quran pada usia 9 tahun. Prestasi spektakuler tersebut juga tidak terlepas dari kontribusi ibunya yang sering mengurung Imam Syafi’i di suatu kamar hingga Imam Syafi’i bisa bertambah hafalannya meski hanya satu ayat.

Dalam hal ini, penulis ingin mengingatkan bahwa sejatinya, setelah Islam datang dengan segala kemuliaannya, wanita pun di angkat derajat dan kedudukannya, sehingga sebagai wanita muslim, ada peran besar yang kita emban, tugas mulia yang hanya Allah limpahkan pada kaum wanita, yakni melahirkan generasi islami. Setelah sebelumnya disinggung tentang bagaimana seharusnya wanita memahami statusnya dalam penegakan dakwah syariat, maka sudah saatnyalah pemahaman baik itu muncul, bahwa sebenarnya ulama besar, orang-orang yang peduli dalam penegakan agama, para pemikir hebat, dan penghafal Quran yang mengagumkan akan dibentuk oleh para muslimah hebat. Karena dari rahim seorang mulialah Allah janjikan kemuliaan akan tercipta.

Tugas kita sekarang, sebagai wanita yang dari segala segi baik perasaan, pemahaman, pemikiran telah dilebihkan oleh Allah adalah ikut dalam barisan penegakan agama ini. Dengan apa? Dengan menjaga diri dan hati secara total, menyebarkan kebaikan di setiap hembusan napas, dan senantiasa meningkatkan taraf keimanan dari waktu ke waktu. Kesadaran yang baik akan menuntun kita untuk mengerti hakikat perjuangan ini, sebab dunia yang kejam dengan sangat bengis sekali akan selalu mengintai para muslimah yang lemah tekadnya dan dangkal pemikirannya untuk dijerumuskan dalam kelamnya kegemerlapan fana. Memang sungguh dibutuhkan pemahaman yang baik tentang ini, sebab muslimah yang mulialah yang akan mengecap manisnya janji Allah. Dan semoga kita bagian dari barisan mujahidah tangguh itu.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Zerry Izka
Mahasiswi Psikologi Unand. Ingin menjadi penulis inspiratif. Saat ini sedang menggarap satu buku nonfiksi bergenre psikologi, dan 2 novel.

Lihat Juga

Perkuat Tentaranya di Perbatasan, Turki Permudah FSA Bersihkan Utara Suriah dari ISIS