Home / Narasi Islam / Dakwah / Hidup Bermasyarakat, Ladang Pahala

Hidup Bermasyarakat, Ladang Pahala

Pejabatpun hendaknya merasakan penderitaan dalam masyarakat (inet)
Pejabatpun hendaknya merasakan penderitaan dalam masyarakat (inet)

dakwatuna.com – Islam adalah agama rahmat untuk semua makhluk Allah swt. Agar rahmat ini bisa dinikmati, kita harus mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Agar nilai-nilai ini terwujud, ada beberapa hal yang bisa membantu:

Hati dan pikiran yang Murni

Hati dan pikiran akan mendorong kita untuk beriman kepada Allah swt., melaksanakan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua yang dilarang-Nya. Dengan selalu mengfungsikan hati dan pikiran, kita bisa meningkatkan keimanan. Merenungi kekuasaan Allah swt., meyakini adanya Hari Pembalasan, dan merenungi kisah-kisah para pendahulu, baik yang mendapatkan kebahagiaan maupun yang mendapatkan kesengsaraan.

Masyarakat yang Shalih

Masyarakat yang shalih akan menciptakan suasana agamis. Anggota masyarakat akan bersemangat beribadah ketika dilaksanakan secara bersama-sama. Ibadah akan menjadi syiar dan menjadi program bersama.

Masyarakat akan menjadi pengendali, sehingga tidak terjadi kemaksiatan. Anggota masyarakat akan berpikir ulang untuk melakukan kemaksiatan, karena rasa malu jika diketahui masyarakat. Masyarakat akan menghukum anggota masyarakat yang melakukan kemaksiatan dengan hukuman sosial.

Fungsi ini harus terwujud dalam masyarakat, dalam sebuah hadits disebutkan:

 وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

 “Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” [Al-Anfal: 25].

 سَمِعْنَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ فَلَمْ يُغيِّرُوهُ، أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابِهِ

 “Sesungguhnya manusia, jika melihat kemunkaran lalu tidak merubahnya, sangat mungkin Allah swt. menyiksa mereka semua.” [HR. Ahmad].

Dalam sebuah hadits lain, disebutkan:

 مَثَلُ القَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ المَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا، وَنَجَوْا جَمِيعًا

 “Perumpanaan orang yang menjaga batasan-batasan Allah swt., dan orang yang melanggarnya, adalah seperti sekelompok orang yang melakukan undian untuk naik sebuah perahu. Sebagian mereka mendapat bagian atas, dan sebagian lain mendapat bagian bawah. Ketika hendak mengambil air, orang-orang yang di bawah harus melewati orang-orang di atas. Maka mereka pun mempunyai ide, ‘Baik juga kalau kita menjebol dinding perahu bagian kita sehingga tidak mengganggu orang-orang yang di atas.’ Kalau orang-orang membiarkan mereka melakukan hal tersebut, maka mereka semua akan mati. Tapi kalau mereka dicegah melakukannya, maka mereka akan selamat, dan semuanya juga akan selamat.” [HR. Bukhari dan Muslim].

 لَا يَحْقِرَنَّ أَحَدُكُمْ نَفْسَهُ أَنْ يَرَى أَمْرًا لِلَّهِ عَلَيْهِ فِيهِ مَقَالًا، ثُمَّ لَا يَقُولُهُ، فَيَقُولُ اللَّهُ: مَا مَنَعَكَ أَنْ تَقُولَ فِيهِ، فَيَقُولُ: رَبِّي خَشِيتُ النَّاسَ، فَيَقُولُ: وَأَنَا أَحَقُّ أَنْ تَخْشَى

 “Hendaklah di antara kalian tidak ada yang menghinakan dirinya. Yaitu ketika dia melihat sebuah perbuatan yang dilarang Allah swt., tapi dia tidak mencegahnya. Maka Allah swt. akan berkata kepadanya, ‘Kenapa engkau tidak mencegahnya?’ Dia pun akan menjawab, ‘Tuhanku, aku takut kepada mereka.’ Allah swt. berkata lagi, ‘Padahal Aku hendaknya lebih kamu takuti.’” [HR. Ahmad].

Hukum yang Bersih

Hukum yang bersih akan memberikan sanksi bagi orang yang melanggar. Sanksi yang berat akan mengurangi tingkat terjadinya kemaksiatan. Bagi orang yang sudah melakukan kemaksiatan lalu dijatuhi sanksi, dia akan jera untuk melakukannya kembali. Sedangkan orang yang belum melakukannya, dia akan berpikir ulang untuk melakukannya. Oleh karena itu, hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku kemaksiatan hendaknya disaksikan oleh khalayak ramai.

Hidup di Masyarakat adalah Ladang Pahala

Sangat penting aktif dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dengan missi berdakwah kepada Allah swt. Aktif hidup di masyarakat bukan berarti ketinggalan dalam mengumpulkan pahala untuk kehidupan Akhirat. Bahkan boleh dikatakan bahwa kehidupan di masyarakat adalah ladang pahala. Allah swt. menyediakan pahala demikian banyak bagi yang menjalankan tuntunan Islam dalam bermasyarakat.

– Membantu orang lain lebih baik daripada beri’tikaf di Masjid Nabawi selama sebulan:

ولأَنْ أمشىَ مع أخى المسلمِ فى حاجةٍ أحبُّ إِلَىَّ من أن أعتكفَ فى هذا المسجدِ شهرًا

“Pergi membantu saudaraku mengurusi kebutuhannya lebih aku senangi daripada beri’tikaf di masjid ini selama sebulan.” [HR. Thabrani].

– Orang yang berbuat baik kepada orang lain, akan diperlakukan baik oleh Allah swt.:

خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

“Teman yang paling baik di sisi Allah swt. adalah orang yang paling baik kepada temannya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah swt. adalah orang yang paling baik kepada tetangganya.” [HR. Tirmidzi].

– Memberikan yang terbaik kepada sesama muslim adalah agama.

الدِّينُ النَّصِيحَةُ ثَلَاثَ مِرَارٍ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama adalah nasihat (memberikan yang terbaik) (3 kali diulangi Rasulullah saw.).” Para sahabat bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, para pemimpin umat Islam, dan seluruh umat Islam.” [HR. Tirmidzi].

– Bergaul di masyarakat akan membuat seseorang menjadi lebih baik.

الْمُسْلِمُ إِذَا كَانَ مُخَالِطًا النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنْ الْمُسْلِمِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

“Seorang muslim jika bergaul dengan orang lain lalu sabar terhadap kekurangan-kekurangan mereka lebih baik daripada seorang muslim yang tidak bergaul dengan orang lain dan tidak sabar atas kekurangan-kekurangan mereka.” [HR. Tirmidzi].

– Orang yang paling baik akhlaknya di masyarakat adalah orang yang paling berat timbangan kebaikannya:

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat di timbangan kebaikan seorang mukmin melebihi akhlak mulia.” [HR. Tirmidzi].

– Orang yang baik akhlaknya adalah orang yang paling dicintai Allah swt.:

“Orang yang paling dicintai Allah swt. adalah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian, orang lain bisa bergaul dengannya dan tidak tersakiti, bisa akrab dan diakrabi orang lain. Sedangkan orang yang paling dibenci Allah swt. adalah orang yang menyebarkan namimah, yang memecah persaudaraan, dan mencari-cari kesalahan orang-orang baik.” [HR. Thabrani].

– Orang yang baik akhlaknya bisa mencapai derajat orang yang qiyamullail dan berpuasa:

إن المؤمن ليستدرك بحسن خلقه درجة قائم الليل صائم النهار

“Dengan akhlak yang baik, seorang mukmin bisa mencapai derajat orang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari.” [HR. Baihaqi]. (msa/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Memperluas Jaringan Lembaga Dakwah

Organization