Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Romantisme Sejati di Antara Janji-Nya

Romantisme Sejati di Antara Janji-Nya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Anak muda hari ini malas baca. Mungkin termasuk saya ataupun Anda. Berjam-jam pelototin film Korea. Ambil tissue untuk usap air mata. Pasang wajah mewek tanpa jeda.

“Ihhh, film-nya romantis bangeeettt eaaa,”

Padahal, pemeran dalam film tak jelas status hubungan antar mereka. Istri bukan, suami bukan. Entah di mana letak romantisnya. Heran.

Mungkin karena wajah pemeran wanita jelita. Atau sang pria dengan tampang rupawan. Itu saja, tidak lebih. Maka berhari-harilah film itu ditonton. Tapi itu bukanlah hal yang romantis. Bukan. Semua pasti setuju itu.

Bela-belain beli CD-nya. Saling pinjam. Atau tongkrongin di warnet lola, downloadnya berjam-jam. Tetap saja menikmatinya. Katanya demi sebuah pelajaran romantisme. Kemudian, dilanjutkan bikin jadwal nonton bareng. Niat banget deh pokoknya.

Pas ditanya, “demen banget nontonnya ya?” Dengan wajah berbinar dijawab, “iyaa, aku pencinta sejati. Suka yang romantis dan ingin menjadi orang yang romantis. Pokoknya, amat menyukainya.”

Padahal kisahnya banyak fiktif belaka. Bisakah terlahir seorang pencinta sejati dari hal yang seperti itu? Owh, yang benar sajalah. Tentu, romantismenya pun perlu dipertanyakan.

Jika hendak belajar romantisme, bacalah sejarah para pencinta sejati.  Kisah romantis mereka apik dicatat dalam kehidupan nyata. Kitanya saja yang malas baca. Maunya yang praktis. Hanya hasil imajinatif yang kualitasnya pun fluktuatif. Yakinlah, tak kan bisa menghadirkan romantisme yang sesungguhnya dari karya fiktif.

Mari kita simak kisah romantisme Ali bin Abi Thalib RA dan Fatimah Az-Zahra RA. Ini cerita nyata. Bukan hasil rekayasa. Tak perlu sutradara. Karena Allah sendiri yang punya rencana. Jauh-jauh hari telah tertulis di Lauh Mahfudz manuskripnya.

Ali dan Fathimah. Sudah ada rasa suka di antara keduanya saat mulai mengerti tentang cinta. Gejolak-gejolak rasa pun membuncah bak air telaga. Tapi mereka saling menjaga. Hati-hati menjaga sikap. Tidak pernah diumbar. Mencintai dalam diam.

Ali tak pernah nyatakan cinta. Bukan karena dia pria cemen. Bukan karena dia tak punya nyali. Tapi, karena dia tahu batasan syar’i. Juga tak pernah kasih kode-kode maut melalui kerlingan mata. Perhatian ‘pedekate’ pun tak pernah. Apalagi sms gombal. Pokoknya sangat dijaga hingga syaithan pun tak tahu. Meski cinta di dada semakin menggebu.

Begitu juga dengan Fatimah. Tak pernah tebar pesona di depan Ali. Pura-pura ‘kecentilan’ cari perhatian pun tidak. Tak pernah kalimat manja yang dia lontarkan. Apalagi ngajak jalan bareng, memanfaatkan kendaraan si doi hanya untuk ngojek.

“Beib, motor kamu bagusss deh…anterin aku donk…donk…donk,” ahh rayuan maut. Asli modus. Minyak gratis. Fasilitas gratis. Tapi sayangnya diragukan dihitung sebagai pahala. Dosa mungkin iya. Na’udzubillah.

Ali dan Fatimah, keduanya saling mencinta. Hebatnya, tetap saling menjaga hati. Bahkan seandainya Muhammad saw yang merupakan ayah Fatimah bukan Rasul Allah, mungkin tak kan tahu cinta suci ini seumur hidupnya. Hingga Allah mengabari sang Rasul dengan cara yang sangat halus. Ya, sangat halus.

Allah menepati janjinya pada waktu yang tepat. “..Laki-laki baik, untuk perempuan baik. Perempuan baik untuk laki-laki baik,” (An-nur 26). Akhirnya, mereka berdua dinikahkan. Bertemulah cinta dengan cinta. Cinta yang tumbuh bersama ketaatan. Tak terkotori dengan kemaksiatan.

“Suamiku, sesungguhnya ada seorang laki-laki yang teramat aku cintai sebelum menikahimu,” ungkap Fathimah setelah ijab qabul terlaksana. Sambil menunduk ia ucapkan pengakuan itu.

Owh, broo… Bayangkan bagaimana perasaan kita saat itu jika menjadi Ali. Perempuan yang telah lama kita cintai, bahkan Allah takdirkan juga menikahinya, kini membuat pengakuan yang bisa membuat hati ini sangat cemburu. Panas amarah bahkan bisa saja memuncak saat itu.

“Sampaikan kepadaku, siapakah lelaki itu?” tanya Ali dengan perasaan bergemuruh. Namun sikapnya tetap tenang. Ia pandangi dengan dekat perempuan yang telah jadi istrinya ini.

Fatimah pun mengangkat wajahnya, “Laki-laki yang pernah aku cintai itu, kini berdiri tepat di hadapanku,”

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allah tepati janji-Nya. Laki-laki baik, untuk perempuan baik. Perempuan baik, untuk laki-laki baik. Itulah romantisme dari pencinta sejati. Romantisme yang sesungguhnya.  Mereka tahu kapan saatnya menyatakan cinta. Barakah pada waktunya.

Atau kisah tentang Utsman bin Affan RA waktu itu usianya menginjak 80 tahun. Sudah renta untuk ukuran usia. Tapi jangan ditanya kualitasnya sebagai pencinta sejati. Seorang gadis berusia 18 tahun, Naila, bersedia menikah dengannya.

Ini bukanlah perjodohan yang mudah. Tapi itulah cinta, ia hadir bersama kerahasiaan yang begitu menjelaga. Persis serahasia jodoh itu sendiri. “Kamu terkejut melihat ubanku? Percayalah, hanya kebaikan yang engkau temui di sini,” itulah kalimat pertama Utsman bin Afffan saat menyambut istri terakhirnya itu. Itu kata yang ia ucapkan setelah pernikahan berlangsung. Bukan gombal. Apalagi penipuan. Karena setelah itu yang ada hanya bukti dari kata-kata yang telah terpateri.

Utsman, lelaki tua itu membuktikan cintanya. Cinta yang bersumber dari ketaatannya pada Allah. Bahkan, setelah Utsman meninggal karena terbunuh. Naila memutuskan untuk tidak menikah lagi. Ia bahkan merusak wajahnya untuk menolak semua pelamarnya. Bayangkan, berarti banyak sudah pelamar yang datang. Terbukti, tak ada yang dapat mencintai sehebat lelaki tua itu. Masya Allah.

Dan tentu kita harus tahu, seperti apa sebenarnya Naila ini. Kenapa begitu layak ia menikah dengan Utsman. Karena dulu, ketika ia pernah ditanya tentang alasannya mau menikah dengan Utsman, dia menjawab, “Aku suka ketuaanmu, karena mudamu telah kau habiskan bersama Rasulullah,”. Cinta bertemu Cinta. Cinta yang bermuara pada ketaatan, bukan kemaksiatan. “..Laki-laki baik, untuk perempuan yang baik. Perempuan yang baik, untuk laki-laki yang baik.” Allah selalu tepati janji-Nya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (15 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Akmal Ahmad
Sarjana Sains (S.Si) di bidang Fisika, FMIPA Universitas Andalas, kini aktif di bidang Social Entrepreneure.
  • Nur azizah

    subhanallah… T-T

  • Sri Fatimah

    Cinta, rasanya begitu rumit bagi ku atau mungkin karena aku blm mampu mengelolanya?

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Geliat Cinta Pejuang