Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kolaborasi 1000 Jiwa

Kolaborasi 1000 Jiwa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (totalpict.com)
Ilustrasi. (totalpict.com)

dakwatuna.com Betapa pun memang DUNIA sebagai tempat kita tinggal dan WAKTU SEKARANG yang Allah berikan adalah sarana pembelajaran. Simaklah! Simaklah kutipan surat adz-dzariyat ayat 20-23 berikut:

“Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa-apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan Bumi. Sungguh apa yang dijanjikan itu pasti terjadi seperti apa yang kamu ucapkan”

Salah satu sarana yang paling unik adalah belajar dari orang lain. Dari abang-abang becak yang mungkin sering disepelekan atau orang yang kita benci sekalipun sampai figur-figur terkenal yang sering kita anggap sebagai ‘high level person‘.

Why? Kenapa harus belajar dari orang-orang yang dianggap sepele? Abang-abang becak bisa ngajarin apa?

Apakah kita tidak merasa bersyukur saat melihat abang-abang becak yang tiap hari susah payah mencari nafkah dengan mengayuh sepeda dengan beban yang berat? Apa kita tidak merasa usaha kita masih kecil dan sedikit? Bayangin aja dari pagi atau mungkin dari subuh si abang sudah ngetem di persimpangan buat cari penumpang, kadang sampai larut malam, diterjang badai dan debu-debu bertebaran tetap saja ia lakukan, meski hanya mendapatkan beberapa keping uang untuk keluarganya.

Kita? Bukankah tidak mesti dengan melakukan sesuatu yang memberatkan fisik bukan? Ada sebagian yang memang merasa hanya dengan belajar saja, atau dengan belajar dan berkontribusi di organisasi atau dengan apa pun itu. Tapi? Masih saja malas belajar, tergoda dengan tidur yang melenakan, menghabiskan usia dan waktu untuk bersenang-senang. Miris ya? Pernah terpikir tidak jika kita masih diberi kesempatan Allah untuk berkontribusi lebih besar untuk menjadi rahmat bagi semesta dibanding abang becak. Masya Allah, mampukah kita menjadi jiwa-jiwa yang selalu bersyukur dan berjuang lebih keras, memberi manfaat lebih luas?

Lihatlah di sela-sela perjalanan kesibukanmu pada orang-orang tua, perempuan-perempuan dan pemuda yang menghabiskan waktunya bersenda gurau. Kadang-kadang di tengah kejenuhan kita berpikir alangkah nikmatnya menghabiskan waktu bersantai barang sebentar saja, laiknya mereka? Tapi bukankah akan lebih baik kita mengambil ibrah untuk bersyukur karena Allah mengaruniai kita kesibukan sehingga waktu kita lebih produktif..?Ya benar, seharusnya kita menjadi jiwa-jiwa yang produktif.

Berpalinglah sebentar saja pada ibu-ibumu, yang mencurahkan sebagian besar keringat dan peluhnya untuk kebaikanmu? Darinya kita belajar untuk peduli dan berkorban. Pula dari teman-teman di sekeliling kita, mungkin saja di antara mereka ada yang merelakan waktunya bercapai-capai menyatukanmu di tengah perbedaan, mencoba menjadi penolong atas ketidakmampuanmu, menjadi setia di tengah antipati yang lain terhadapmu. Merekalah jiwa-jiwa yang peduli dan berkorban.

Ke mana perjalanan selanjutnya? Dengarlah! Carilah mereka yang berbeda! Figur-figur dengan degup jantung yang kencang menderu. Manifes kekuatan jiwa mereka! Kekuatan visi mereka! Dan hadirnya amat langka.

Pada mereka yang mempunyai visi besar di bidang kemanusiaan dan hak asasi manusia. Di saat yang lain meminta-minta sumbangan tanpa ‘pengetahuan mengapa’, gerak mereka beriring dengan wawasan menghadirkan kedukaan di tengah-tengah hati kita dan keinginan untuk berbuat, do something! Akhirnya masa pun tergerak mencari tahu lebih dan menyisihkan sebagian harta. Atau dengan jalan mengadakan suatu konser sehingga sang tuannya merasa ada timbal balik yang dirasakan. Tidak itu saja, sejurus setelah berita beredar tentang kasus yang mereka perjuangan tulisan-tulisan aksi dan segala bentuk simpati pun tumpah ruah memenuhi media dan kerumunan. Dan dari sana kita tahu bahwa untuk berbuat pun perlu inovasi.

Pada mereka yang peduli keadaan negara yang hingar bingar atau setidaknya di sebuah organisasi atau lembaga. Temukanlah! Temukanlah mereka yang selalu siaga di pinggir garis pertahanan. Di saat yang lainnya keluar masuk mengurus berbagai macam kepentingan ada saja orang yang komitmen menjaga agar roda kehidupan di negara maupun organisasi tersebut berputar. Merelakan yang lainnya maju memberikan kontribusi lebih di celupan-celupan organisasi lainnya. Sebuah pelajaran tentang komitmen.

Ada pula di lini lain yang berjuang mempertahankan nilai-nilai kedisiplinan meski harus dibenci setengah mati karena komitmennya membangun karakter tersebut. Di lini lain ada pribadi-pribadi yang menjadi guru bagi lestarinya sikap husnudzhon, sabar, dan rela berbuat meski dirinya menderita.

Ada pula yang memperjuangkan kebenaran dengan berteriak lantang, merangkai kata-kata yang bijak dan penuh makna, dan menyebar wawasan. Memanfaatkan anugerah lisan yang Allah beri untuk memberi pengertian dan pemahaman. Sehingga dari sana kadang terbuka lebar jendela ‘latar belakang’: mengapa kita harus menjadi seseorang? Mengapa harus beramal dan berjuang hingga titik puncak kemampuan? Bahkan dari sana pula keinginan untuk bersuara di tengah kerumunan itu bergumul di dada dan menimbulkan keinginan untuk menjadi orator-orator kebaikan, problem solver, penyuara kebenaran dan kebaikan, menjadi pembuka hikmah dan pengajaran. Mereka mengajarkan agar jiwa-jiwa kita berani menyuarakan sesuatu yang seharusnya diperjuangkan dan diketahui oleh masa.

Suatu hal yang menyenangkan pula jika kita bisa belajar dari banyak figur yang menghasilkan banyak karya, inisiator perubahan, pemimpin yang bijak, ilmuwan yang berwawasan luas yang Allah hadirkan dari zaman dulu hingga sekarang. Dari merekalah timbul keinginan untuk menjadi ‘mereka’. Menjadi ‘mereka’ yang ini, ‘mereka’ yang seperti itu. Tapi mustahil, jiwa-jiwa kita tidak diciptakan sama dengan mereka sehingga tidak mampu mencontoh seorang saja figur luar biasa secara utuh. Jiwa kita tetaplah kita dan mereka adalah mereka.

Seringkali timbul pertanyaan bagaimana agar kita mampu menjadi seperti mereka? Ya, menjadi seperti ‘mereka’ atau ‘mereka-mereka’ bukanlah menjadi seseorang dengan gaya berpakaian atau style yang serupa sama. Tidak pula dengan mengejar-ngejar target-target yang mereka targetkan untuk diri mereka sendiri. Tidak dengan menjadi seseorang yang suaranya ‘selantang atau sebijak’ mereka.

Jadilah diri kita sendiri! Seseorang yang mengkolaborasikan seribu jiwa dalam dirinya: mencoba menjadi figur yang mencontoh nilai-nilai kebaikan dari siapa pun dan belajar meninggalkan sifat-sifat buruk yang dimiliki orang lain. Kolaborasi 1000 jiwa berarti kita berusaha meng-install kemampuan-kemampuan yang sesuai dengan diri kita dan tidak membatasi diri dengan kata-kata: ‘kami tidak mampu’. Tapi berusaha mengembangkan kemampuan-kemampuan diri yang bisa memberi manfaat luas untuk menjadi rahmatan lil’alamiin.

Ingat ayat di atas? “Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan juga tanda-tanda pada dirimu sendiri. Apakah kamu tidak memperhatikan?

Ayat ini menjelaskan maksud tentang kemampuan manusia untuk melihat dan mengambil pelajaran dari sekitarnya dan juga kemampuan untuk memahami dirinya sendiri. Di dalam tafsir Ibnu Katsir, Qatadah mengatakan: “Barangsiapa yang menafakuri penciptaan dirinya sendiri, tahulah bahwa dirinya itu hanyalah diciptakan dan persendiannya dilenturkan semata-mata untuk melakukan ibadah.” .Perlu dicermati juga ibadah yang dimaksud tidak hanya ritual, tapi ibadah yang memiliki makna luas.

So, jadilah dirimu sendiri dengan kolaborasi 1000 jiwa kebaikan dan kemanfaatan untuk menjadi pribadi yang bisa menebar rahmat untuk semesta dan sebagai bukti di hadapan Allah kelak kamu telah berusaha kuat untuk menjadi seorang muslim yang profesional di hadapan-Nya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Kuliah di Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah.

Lihat Juga

Love, Cinta, Valentine

Gempa Jiwa