Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Ayo Beribadah dengan Doa

Ayo Beribadah dengan Doa

ilustrasi
ilustrasi

dakwatuna.com – Keimanan sangat menuntut manusia untuk berdoa kepada Allah SWT. Doa harus dapat menjadi wasilah dan perantara antara manusia dan Allah SWT. Manusia juga merasa sangat memerlukan dan merindukan Allah SWT, sedangkan Allah SWT juga menghendaki hal demikian dilakukan oleh manusia. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada doamu.” (Al-Furqan: 77).

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghafir: 60)

Ketika membaca ayat di atas mungkin akan muncul sebuah pertanyaan dalam diri kita, “Kenapa aku sudah banyak berdoa tapi tidak pernah dikabulkan? Padahal ayat itu berkata secara umum bahwa semua doa yang diucapkan manusia pasti akan dikabulkan.”

Untuk menjawab pertanyaan seperti itu, kita akan memberi sebuah permisalan. Jika ada anak kecil yang sakit datang kepada seorang dokter dan berkata, “Wahai dokter, tolong lihatlah keadaanku dan periksalah kesehatanku!” Dokter itu pasti akan berkata, “Sayang, aku pasti akan memenuhi permintaanmu. Aku akan segera memeriksamu.” Kemudian si anak kecil berkata lagi, “Wahai dokter, berikanlah kepadaku obat ini.” Pada saat itu, boleh jadi dokter akan memberikan obat yang diminta anak kecil itu, atau memberikan obat yang lebih baik dan bermanfaat bagi kesehatannya. Atau boleh jadi dokter akan menolak untuk memberi obat sama sekali. Semua itu dilakukan demi melihat kemashlahatan anak kecil itu.

Demikian juga yang dilakukan Allah SWT. Allah SWT Maha Bijaksana yang kebijaksaanNya tidak terbatas. Allah SWT Maha Melihat dan Memeriksa di setiap saat. Dia pasti mengabulkan permohonan hambaNya. Pengabulan Allah SWT tersebut akan menghilangkan perasaan kesendirian dan keterasingan hamba, diganti dengan perasaan penuh harapan dan ketenangan. Cara Allah mengabulkan doa-doa hamba-hambaNya itu bermacam-macam. Kadang Allah SWT akan memberikan secara langsung apa yang dimohon, atau memberinya hal yang lebih baik dan utama, atau bahkan menolaknya. Semua itu dilakukan sesuai dengan hikmah yang paling tepat untuk sang hamba, tidak disesuaikan dengan nafsu dan keinginan hamba dan rasa egoisnya.

Dengan begitu, doa adalah salah satu bentuk penghambaan kepada Allah SWT. Buah dan hasil yang paling nyata dari penghambaan akan dapat dilihat dan dirasakan di akhirat kelak. Sedangkan berbagai doa kemashlahatan-kemashlahatan dunia adalah pengibaratan tentang waktu-waktu yang jenis doanya akan menyesuaikan dengan waktu tersebut. Dia bukan hasil doa seutuhnya.

Misalnya, shalat istisqa’ (meminta turunnya hujan) adalah ibadah. Dan saat kekeringan (lama tidak turun hujan) adalah waktunya. Sehingga tidaklah dapat dikatakan bahwa ibadah dan doa itu dilakukan karena untuk meminta turunnya hujan. Jika shalat itu dilakukan hanya dengan niatan seperti itu, maka doa itu tidak pantas untuk dikabulkan. Karena doa itu tidak berisi keikhlasan kepada Allah SWT.

Demikian juga saat tenggelamnya matahari adalah tanda saatnya dilakukan shalat maghrib. Saat terjadi gerhana matahari dan gerhana bulan adalah waktu dilakukannya shalat kusuf dan khusuf. Artinya, Allah SWT memerintahkan kepada hambaNya untuk melakukan satu jenis ibadah karena bersamaan dengan terjadinya sebuah keagungan dan kekuasaan Allah di langitNya baik di siang hari dengan terjadinya gerhana matahari, atau di malam hari dengan terjadinya gerhana bulan. Semua itu dilakukan agar manusia dapat mengetahui kekuasaan dan keagungan Allah SWT. Shalat kusuf dan khusuf itu dilakukan bukan sekedar karena terjadi gerhana matahari dan bulan saja.

Ketika itu yang terjadi saat gerhana matahari dan gerhana bulan, maka hal yang sama juga terjadi saat musim kekeringan dan lama tidak turun hujan. Saat kekeringan adalah waktu dilaksanakannya shalat istisqa’. Saat turunnya musibah dan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan manusia adalah waktu dituntutnya berbagai doa tertentu. Karena saat itu, manusia baru akan dapat merasakan dan menyadari kelemahan dirinya, sehingga merasakan kewajiban untuk berdoa, memohon dan menunjukkan kehinaannya di hadapan Allah SWT Yang Maha Kuasa.

Jika kemudian Allah SWT tidak mengangkat musibah dan semua hal yang tidak disenangi manusia itu, walaupun permohonan-permohonan sudah dilakukan, maka tidak dapat dikatakan bahwa doa itu tidak dikabulkan. Tapi yang benar adalah bahwa waktu dan saatnya untuk berdoa belum habis dan belum selesai. Dan jika Allah SWT mengangkat musibah dan semua hal yang tidak disenangi manusia itu, maka dapat dikatakan bahwa waktu dan saatnya untuk berdoa sudah habis dan usai. Dengan keterangan ini, kita simpulkan bahwa doa adalah salah satu rahasia penghambaan kepada Allah SWT.

Penghambaan itu harus dilakukan secara murni hanya untuk Allah SWT. Yaitu dengan cara manusia mendatangi Allah SWT melalui doa, menunjukkan segala kelemahannya, tanpa ikut campur dalam proses terlaksananya pengkabulan permohonannya itu, atau memprotes keputusan Allah SWT. Yang harus dilakukan manusia juga adalah menyerahkan semua perkaranya dan pengaturannya kepada Allah SWT, dengan terus meyakini bahwa segala sesuatu mengandung hikmah dari Allah SWT. Karena Allah SWT adalah Zat Yang Maha Pengasih, dan Dia akan tetap Maha Pengasih, sehingga seorang hamba tidak boleh berputus asa.

Benar. Ayat-ayat Allah SWT telah membuktikan bahwa segala sesuatu itu sedang dalam posisi bertasbih kepada Allah SWT. Semua makhlukNya melakukan ibadah dan sujud dengan cara yang khusus bagi mereka. Dari kenyataan ini, dapat kita ambil berbagai cara dan model berdoa kepada Allah SWT.

Di antaranya adalah doa yang keluar dari lisan yang mempunyai kemauan dan kesiapan. Seperti doanya semua jenis binatang dan tumbuhan. Atau doa yang keluar dari lisan yang mempunyai keperluan hidup yang fitri, seperti doanya setiap makhluk hidup untuk mendapatkan segala keperluannya yang berada di luar kemampuannya. Pada saat itu, makhluk-makhluk tadi akan meminta kepada Allah Yang Maha Penderma, keperluan-keperluannya untuk dapat melanjutkan kehidupan, kemudian turunlah kepada mereka apa yang dinamakan dengan rezeki.

Atau doa yang keluar dari lisan keterpaksaan, seperti doanya orang yang terpaksa, yang hanya tertuju secara sempurna kepada Allah, tidak kepada yang lainnya. Karena dalam hati mereka, hanya Allah lah yang dapat memenuhi permohonan mereka. Seperti doanya orang yang sedang terjebak dalam badai di lautan, atau doa orang yang sedang tertimpa musibah yang sangat berat. Ketiga jenis doa ini akan diterima dan dikabulkan oleh Allah SWT, jika tidak dimasuki oleh hal-hal yang menyebabkan doa dapat tidak diterima.

Jenis doa yang keempat, yaitu doa-doa yang biasa kita semua lakukan. Jenis ini pun dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah doa yang terpanjatkan melalui perbuatan dan sikap kita, dan yang kedua adalah doa yang terpanjatkan dari hati dan ucapan kita.

Misalnya, melakukan usaha dengan mencari sebab-sebab keberhasilan kita adalah termasuk doa yang bersifat perbuatan. Karena kita tahu bahwa tercapainya semua sebab-sebab tidak dimaksudkan untuk mendapatkan hasilnya. Melainkan untuk mendapatkan kondisi tertentu yang sesuai dan diridhai oleh Allah SWT, sehingga Allah SWT akan memberikan apa yang kita inginkan, ketika kita memohonnya dengan lisan dan perkataan kita. Sampai pun bercocok tanam, perbuatan ini adalah dimaksudkan untuk membuka pintu khazanah rahmat Allah SWT. Maka, karena setiap doa yang bersifat perbuatan ini ditujukan secara mutlak kepada Allah SWT, dan dialamatkan kepadaNya, maka doa-doa ini seringkali tidak akan ditolak.

Jenis doa kita yang kedua, yang dipanjatkan dari hati dan lisan kita. Yaitu memohon untuk mendapatkan tujuan yang tidak dapat kita peroleh, atau mendapatkan keperluan kita yang tidak kita dapatkan. Hal terpenting dan terindah dari doa ini adalah adanya keyakinan dalam hati manusia bahwa ada Zat yang akan mendengar keinginan hatinya, Zat yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, Zat yang akan mencukupi segala keperluan dan keinginan manusia, dan Zat yang menyayangi kefakiran dan kelemahan manusia.

Maka, wahai manusia yang sungguh sangat lemah dan fakir, janganlah engkau membuang dan meninggalkan kunci pembuka khazanah rahmat Allah SWT yang sangat luas, dan sumber kekuatan yang sangat besar. Kunci itu adalah doa. Peganglah kuat-kuat, karena dengannya engkau akan mencapai tingginya derajat kemanusiaan. Dan jadikanlah doa-doa semesta alam adalah bagian dari doamu. Dan jadikanlah dirimu seorang hamba yang utuh, yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah, dengan begitu engkau benar-benar akan menjadi makhluk yang terbaik. (msa/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,40 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir
  • sri

    Doa masing-masing kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata, “Saya sudah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan. (HR. Bukhari)

Lihat Juga

Sidang Paripurna

Ini Pengakuan Muhammad Syafi’i, Pembaca Doa Penutup Sidang Paripurna