Home / Pemuda / Essay / Ketika Mereka “Keluar”

Ketika Mereka “Keluar”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Beberapa hari ini saya teringat dengan seorang teman kampus, seorang teman seperjuangan di kampus yang kini dia sudah “keluar “dari jalan ini. Saya hampir tidak bisa percaya melihat foto yang ia pasang sebagai foto profil di jejaring sosialnya, sudah tidak ada lagi jilbab besar yang menutupinya, sekarang lekukan-lekukan kakinya terlihat jelas karena sekarang dia memakai celana jeans. Masih sangat teringat jelas dulu bagaimana ia berjalan dengan roknya yang lebar, jilbab yang besar, berjalan dengan gaya tomboynya. Hatiku ingin menangis melihat dia yang seperti itu walaupun saya sadar bahwa walaupun dia dalam kondisi seperti itu, mungkin saja dia tetap lebih baik dari saya pribadi. Tapi tetap saja saya merasa sedih melihat dia yang seperti itu sekarang. Masih sangat jelas dalam memori saya bagaimana dia dan seorang senior di kampus memfardiyahi saya. Mereka bersama-sama selalu ada ketika saya membutuhkan. Mereka selalu mengajak saya dalam aktivitas-aktivitas mereka. Memberikan motivasi-motivasi belajar, memberikan gambaran bahwa orang kuliah itu tidak sekadar hanya “kuliah”, tidak sekadar menyelesaikan SKS yang ada tapi yang lebih penting adalah pengembangan pribadi. Ya, lewat fulanah itulah Allah menjadikan saya bagian dari “jalan dakwah” ini dan bersama fulanah itu jugalah saya melewati kehidupan kampus yang Subhanallah, begitu banyak nikmat di perjalanan itu. Dan melihat dia yang seperti itu membuat saya sangat sedih.

Mohon maaf sebelumnya karena sedikit curhat. Tapi mungkin ada sebagian dari pembaca pernah merasakan hal yang sama. Ketika ada ikhwah kita yang keluar dari jalan ini. Ketika kita hanya bisa bertasbih, bertahmid, bertakbir dan beristighfar melihat mereka. Tapi “hidup” harus tetap berjalan. “Perjuangan” akan tetap berlanjut walaupun tanpa “mereka” yang kini keluar karena hal itu adalah janji Allah. Bahkan “perjuangan ini akan selalu berjalan walaupun mungkin suatu saat nanti “kita” yang masih di sini juga akan di “depak” oleh Allah karena kita sudah tidak “pantas” untuk mengemban amanah dakwah ini. Seperti dalam firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Maaidah ayat 54:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ﴿٥٤﴾

“Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (Al-Maaidah: 54)

Mari kita merenung sebentar ikhwah, membaca ayat Allah tersebut dan mendalami maksud dari ayat tersebut. Ketika kita mungkin sedang malas-malasnya beraktivitas, atau mungkin kita pernah acuh tak acuh dengan amanah yang diberikan, ketika aktivitas duniawi menguasai hari-hari kita. Maka ingatlah selalu dengan maksud dari ayat ini. Ingatlah bahwa bukan jalan ini yang membutuhkan kita karena walaupun kita bermalas-malasan, bahkan ketika kita keluar, jalan ini akan tetap berlanjut. Kitalah yang membutuhkan jalan ini. Kita butuhkan sebagai sarana untuk mendapat Ridha Allah SWT. Dan kita juga harus selalu ingat dengan Firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Ankabut ayat 2-3:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ﴿٢﴾ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ ﴿٣﴾

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 2-3)

Jadi, jangan pernah berfikir bahwa “jalan” ini mudah. Jalan ini “sulit”, penuh lika-liku. Seperti dalam Nasyidnya “Saujana” yang berjudul “Suci Sekeping Hati”.  Akan ada ujian di setiap langkah, hal itu untuk menguji keimanan kita. Maka hanya orang-orang “pilihan”lah yang akan bertahan.

Kembali pada mereka yang saat ini sudah “keluar “dari jalan ini. Mungkin terkadang kita berfikir dan bertanya pada diri kita sendiri. ”Kok bisa ya seperti itu? Apakah dia sudah tidak merasakan ghirah perjuangan itu, merasakan nikmatnya ukhuwah di antara saudara-saudari muslim karena Allah? Di mana perasaan perjuangan itu?”. Mungkin sempat pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul di benak pembaca ketika melihat ikhwah kita tersebut. Dan memang seperti itulah ikhwah, ketika “hidayah” itu “dicabut” maka perasaan-perasaan yang pernah dirasakan saat dapat “hidayah” akan hilang tanpa jejak. Nikmatnya shalat malam, nikmatnya ïman” itu tidak akan pernah teringat sama sekali. Kita akan sibuk dengan kehidupan kita saat itu dan lupa dengan yang sebelumnya.

Kita bisa baca dalam Firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-An’am ayat 46:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَارَكُمْ وَخَتَمَ عَلَىٰ قُلُوبِكُم مَّنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُم بِهِ ۗ انظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ ﴿٤٦﴾

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah Tuhan selain Allah yang Kuasa mengembalikannya kepadamu?” perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga).” (Al-An’am: 46)

Kenapa penulis bisa mengatakan hal tersebut karena penulis sudah pernah merasakannya.  Pernah keluar dari “tarbiyah” dan berniat tidak ingin kembali sampai ternyata Allah memberikan “Rahmat-Nya” melalui ukhti tersebut. Karena itulah penulis menulis artikel ini, berharap bisa jadi pengingat untuk ikhwah sekalian terkhusus untuk Ana pribadi.

Semua yang terjadi di dunia ini memiliki hikmah termasuk yang terjadi pada saudara-saudari kita tersebut. Kita hanya bisa mendoakan mereka dan Jadikan hal itu sebagai “Pengingat” untuk kita bahwa kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok, kita tidak akan pernah tahu bahwa apakah kita akan tetap berada di “jalan” ini, pengingat bahwa suatu saat nanti mungkin saja kita akan menjadi bagian dari mereka karena memang kita sudah termasuk generasi yang tergantikan. Na’udzubillah….Semoga kita tetap berada dalam generasi yang menggantikan, bukan generasi yang digantikan Aamiin. Jadi mari kita perbaiki amalan-amalan kita dan memperbaiki niat kita. Karena sekali lagi, semuanya tergantung dari niat kita. Wallahu’alam. Semoga bermanfaat dan maaf jika ada salah kata.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 8,90 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Bekerja di Bank Syariah. Aktif di Iqro' Club di salah satu kota Jawa Timur.
  • elvi syafitri

    assalamualaikum
    boleh share ukhti

    • Aisyah

      Tafaddol ukhty…….Semoga bisa bermanfaat…..^_^

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers