Home / Pemuda / Cerpen / Hidupku Hidup!! (Bagian ke-1)

Hidupku Hidup!! (Bagian ke-1)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Penghujung senja, bilik 1 instalasi rawat jalan paviliun garuda RSUP DR Kariadi. Dalam teka-teki retoris yang menghujam, di antara kesadaran dan pemahaman diri tentang intonasi hidup yang syahdu, tentang rasa, pada ketangguhan hati menapak tantangan kerapuhan jasad. Tenggelam dalam penantian jawab terbaik atas segala keputusan, mengokohkan hati dan terus mengalirkan energi positif dalam diri.

“Opname ya dik,” kata dokter setelah kembali duduk di kursinya.

“Kenapa dok?” tanyaku datar, tanpa ekspresi, biasa saja karena memang beberapa kali dokter memintaku opname dalam setiap check rutin 2 pekanan.

“Agar pengobatan maksimal dan harus cek lab UBT, kemungkinan juga perlu mengambil sampel jaringan untuk evaluasi histologi pada barret esofagus dan gaster untuk mendeteksi sel ganas, karena ini sudah bukan kronik lagi, tapi akut.”

Senyum, mencari ide agar bisa lolos dari ancaman opname.

“Bisa tidak misal cek lab UBT saja dok?”

“Begini dik, cek lab UBT itu lambung harus bebas sucralfate dan protom pump inhibitor jadi kamu harus berhenti dulu minum inpepsa dan pariet selama 3 hari. Itu berarti harus menahan sakit selama 3 hari sebelum cek lab UBT, makanya lebih baik opname. Terkait pengambilan sampel jaringan, berdasar history sakitmu itu untuk deteksi dini resiko kanker di kerongkongan dan lambung,” kata dokter menjelaskan panjang lebar.

“Rhen kuat dok, tidak mungkin sampai ada sel kanker. Rhen sudah terbiasa beraktivitas dengan rasa sakit, Rhen bisa. Jangan opname ya, faktor eksternal tidak memungkinkan. Terapi obat dulu saja sampai minggu ke-8,” pintaku.

Sebuah permintaan konyol yang selalu kuajukan, permintaan yang hanya fokus pada satu dimensi, tentang kondisiku yang berjuang sendiri, yang selalu terbentur persoalan finansial setiap akan melangkah ke proses pengobatan selanjutnya, juga berat hati terus merepotkan teman-teman. Masih tertoreh jelas, pengorbanan teman-teman mengurus opname-ku waktu itu, kelelahan mereka, melintas jalanan malam di antara hujan, menguras uang tabungan yang nominalnya tak kecil dan amanah organisasi yang tergadai akibat mengurusku. Terlalu zhalim jika aku membiarkan itu terulang.

“Obat saja tidak cukup dik, dengan kondisimu yang seperti ini harus ada pemeriksaan lanjut agar penanganan tepat.”

“Saya pertimbangkan dulu ya dok, sabtu sore saya konfirmasi via sms.”

“Masih saja bandel. Baiklah, pertimbangkan baik-baik dik, kasihan tubuhmu. Ini saya kasih pariet dan frisium saja, agar tidak terlalu habis banyak. Makan dan pola hidup benar-benar dijaga ya.”

“Iya dok. Terima kasih. Kalau begitu saya pamit ya,” tersenyum penuh kemenangan.

Aku keluar bersama suster yang menemani di dalam, dia menyerahkan resep obatku.

“Rhen”, dokter Dwi memanggilku.

“Iya dok?” jawabku yang sudah berjalan mendekati pintu.

“Terus memohon dan dekatkan diri sama Allah ya, minta kesembuhan dan keikhlasan agar keberkahan dari sakit tidak hilang.”

“Iya dok, insya Allah” jawabku tersenyum penuh semangat.

***

Sendiri, duduk bersandar di teritis masjid asy-syifa’, bercakap dengan semilir angin malam di antara gerimis kecil. Menikmati, sentuhan Cinta-Nya yang tersirat dalam riuh gaduh gemuruh, datang pergi secara fluktuatif penuhi celah ruang hati. Diam menatap, memandangi bangunan megah di depan masjid yang baru saja diresmikan, membisik bertutur, “Rhen tak akan pernah menempati salah satu kamar di bangunan itu, Rhen sehat, Rhen Kuat, Rhen Tangguh!”

Nampak jelas air muka keriput penuh uban yang begitu mencintaiku, mengorbankan segenap hidup untuk masa depan dan keutuhan hatiku, tak akan kubiarkan aku melukainya hanya karena aku sakit. Simbah … Rhen tidak sakit. Rhen Sehat dan ingin segera bertemu simbah untuk shalat malam bersama di kamar simbah.

”Dek, sama siapa di sini?” tanya mbak tita, kakak angkatan di fakultasku yang kebetulan juga habis shalat Maghrib.

“Eh embak. Rhen sendiri,” jawabku sambil bersalaman dan cipika-cipiki.

“Check up ya? Astaghfirullah tangan sama mukamu panas banget dek, ayo pulang bareng nanti motor mbak biar dibawa teman yang tadi bonceng mbak,”

”iya. Gak papa, paling karena dari tadi siang di ruang ber-AC makanya tubuhku jadi panas. Mbak duluan aja, Rhen mau nunggu shalat ‘Isya habis itu ke apotek buat beli obat.”

“Mbak temani ya, kebetulan mbak juga sudah gak ada agenda, mbak khawatir tubuhmu panas gitu.”

“Gak usah mbak, Rhen beneran gak papa kok. Sendiri aja.”

“Yakin kamu gak papa? Ya udah ni jaket mbak kamu pakai biar gak dingin dijalan.”

“Makasih mbak, gak usah, Rhen gak suka pakai jaket. Hehe.”

“Kalau gitu mbak pulang dulu ya, kalau ada apa-apa SMS mbak aja. Beneran gak mau ditemani?” tanya mbak tita kembali meyakinkan.

“Iya mbak, beneran gak papa.”

Kubiarkan mbak tita pergi, mendahuluiku. Bukan ku menolak, hanya tak ingin menambah deretan orang yang kurepotkan. Aku tau, saat ini ulu hatiku sangat nyeri, aku sadar badanku sangat panas dan kepalaku pening, namun aku juga tau kalau tubuhku masih kuat dan tak akan mungkin tumbang, jadi aku ingin berjuang sendiri menyisir jalanan malam untuk mendapatkan butiran obatku, agar lebih bermakna, agar aku lebih bersyukur.

Bukan aku mengabaikan, bukan aku membiarkan dan menggerogoti tubuh dengan egoku. Aku hanya ingin menikmati hidupku layaknya manusia normal. Bukan menjadikan sakit sebagai jerat yang menyekap aktivitasku.

Aku sadar, aku mengerti dan aku tau diri, aku memang sakit, jasadku rapuh. Tapi aku jauh jauh lebih memahami bahwa ada Sang Pengendali episode hidupku. Dia Allah yang tak pernah membiarkanku tersungkur. Menakar proporsi yang seimbang hingga tercipta keselarasan yang indah.

Aku tau, pundi-pundi keuanganku tak akan cukup untuk bekal perjuanganku menggapai kesembuhan, namun itu hanya logika yang dangkal, karena Allah selalu menjamin rizki setiap makhluk-Nya. Lagi lagi aku tak punya alasan untuk berhenti berjuang.

Dan aku yakin, aku pasti sembuh. Pasti!! Karena setiap penyakit pasti ada obatnya. Aku cukup berikhtiar, berdoa, memohon yang terbaik dari-Nya. Menjauhkan lisan dari keluh dan terus menikmati setiap fase perjuangan. Sungguh, tangisku diteritis asy-Syifa ini refleks karena nyeri, bukan ratapan atas penyakitku.

Segera kuambil handphone di tas, menarikan jemari di atas screen Hp, mengetik satu SMS untuk dokter Dwi,

Dok, Rhen pasti sembuh sebelum tiba waktu pengambilan sampel jaringan. Rhen sehat dan Rhen tangguh!!

Tersenyum, menyatu dengan kumandang adzan ‘Isya di Masjid Asyifa. Bersiap menyapa-Nya dalam sujud panjang shalat ‘Isya sebelum menyisir Semarang untuk temukan si imut pariet dan frisium.

~dalam bingkai perjuangan, April 2013~

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 7,63 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sosok biasa yang terus belajar untuk menjadi luar biasa, karena-Nya ...

Lihat Juga

Ilustrasi (123rf.com / Tjui Tjioe)

Sumber Kehidupanku