Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pelajaran dari Kehidupan Seekor Anak Bebek

Pelajaran dari Kehidupan Seekor Anak Bebek

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (hqwallbase.com)
Ilustrasi. (hqwallbase.com)

dakwatuna.com Dari individu-individu yang masing-masing merasa memiliki ketidaksempurnaan, terlahir kebutuhan untuk saling melengkapi, membentuk suatu kolaborasi yang menjadikan dakwah ini lebih kokoh dalam amal-amal jama’i. Kelebihan dan kekurangan masing-masing individunya menjadikan kolaborasi ini lebih erat, saling mengait, saling menopang, berbagi tugas. Terhindar dari perasaan merasa super yang menimbulkan sikap egois dan individual.

Masih kuingat cerita yang kudengar di waktu kecil, peristiwa yang membuat seorang pemburu monyet tersentuh hatinya, membuatnya insyaf.

Ia telah mengarahkan bidikannya, di hadapannya seekor anak monyet bersama sepasang induknya. Namun induk monyet itu tidak lari. Ia melindungi anaknya dalam dekapan. Ketika peluru telah menembus tubuhnya ia serahkan si kecil itu kepada induk jantan, baru ia menjatuhkan dirinya.

Anak bebek, jika engkau saat itu berada di sana mungkin kamu merasa sangat iri. Kerinduanmu akan kasih sempurna yang tak kau dapatkan.

Saat aku masih kecil, kulihat ibu membeli beberapa telur bebek. Telur-telur itu ditaruh di sarang tempat bertelurnya ayam.

“Bebek tidak mengeram, kalau mau menetaskan telurnya dititipkan sama ayam atau menthok,” kata ibu.

“Kalau begitu bebek bertelur terus, tak pernah istirahat?” tanyaku.

Aku pikir menguntungkan sekali si bebek ini, hanya bertelur dan bertelur tak kenal henti, tak seperti ayam yang setelah bertelur beberapa saat mesti berhenti dan menunjukkan tanda-tanda akan mengeram. Apalagi ketika ia kebingungan ke sana kemari mencari telurnya yang telah diambil, kasihan juga. Yang kulihat, mengerami telur itu suatu pekerjaan yang menyiksa baginya, hanya sesekali beranjak untuk makan dan membuang kotoran, tubuhnya menjadi kurus. Tapi aku paham sekali kalau ia ikhlas menjalani kodrat ini.

Yang aku tak mengerti, lantas bagaimana keberlangsungan kehidupan bebek-bebek itu sebelum manusia menitipkan telur-telurnya kepada ayam, atau menetaskannya dalam mesin-mesin penetas.

Saat itu aku terlalu kecil untuk bertanya tentang saat-saat ia melewati masa sulit di zaman es selama ribuan tahun, kemusnahan massal kehidupan di bumi akibat hantaman komet atau letusan Toba yang dahsyat. Hanya takdir Allah yang telah menetapkan spesies ini tetap lestari, memberi manfaat bagi kehidupan manusia.

Bahwasanya Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Ketika di satu sisi ada suatu kelebihan, di sisi lain kita mungkin mendapati kekurangan yang serupa. Hingga bagaimana dalam kebersamaan ini kita bisa saling melengkapi, saling meringankan.

Manusia, bebek dan ayam, dari kelebihan dan kekurangannya masing-masing menghasilkan suatu kolaborasi indah. Andai manusia memiliki kemampuan bertelur, bebek mampu mengeram, atau ayam memiliki akal pikir yang sempurna, niscaya kolaborasi ini tidak lagi diperlukan.

Anak bebek, jangan engkau keluhkan takdir tentang indukmu yang tak mampu mengeramimu, tak punya sayap lebar untuk menaungi anak-anaknya, tapi ingat pula takdir kemandirianmu dari saat engkau baru saja menetas, engkau telah diberi kemampuan untuk mengurus kehidupanmu. Selemah inikah kita manusia, ketika keluh kesah atas kekurangan dan kelemahan masih menghiasi hari-hari kita.

Manusia hanya senang dengan produktifitasmu, mendapatimu bertelur tanpa henti. Namun apakah mereka berpikir bahwa di balik itu ada sebuah ketidaksempurnaan, kepiluan dari telur-telur yang ditelantarkan begitu saja.

Juga tentang kenikmatan Islam, yang saat ini kita nikmati, di balik itu ada jerih payah para perintis dakwah yang mendahului kita. Jika kita terkagum-kagum atas pengorbanan dan keteguhan mereka, sebenarnya di balik itu ada pengorbanan dari keluarga-keluarga yang ditelantarkan, anak-anak yang ditinggalkan, kepentingan pribadi yang dikesampingkan, untuk sebuah kepedulian menyampaikan risalah agar manusia-manusia lain menikmatinya.

Mereka yang telah berbuat meski kondisi mereka sendiri dalam keadaan kekurangan, azam yang mereka miliki membuat mereka mampu menyiasati keterbatasan, dari kesulitan-kesulitan itu apa yang mereka lakukan menjadi lebih bernilai.

Meski buah-buah dari pengorbanan itu terkadang telah datang dari arah yang tak dimengerti, waktu dan materi yang dikorbankan diganti dengan rizki atau pertolongan dalam berbagai bentuknya. Keluarga dan anak yang ditelantarkan mendapatkan kemudahan atau anugerah dalam bentuk lain. Sebagian dari pahala yang telah bisa dinikmati sebelum pahala yang sesungguhnya di akhirat kelak.

Menikmati buah dari pohon yang ditanam para pendahulu tentunya menjadi kebahagiaan bagi kita. Namun yang semestinya lebih membahagiakan, manakala kita mampu menanam agar buahnya dinikmati generasi sesudah kita.

Semestinya kita juga tidak hanya menikmati buah-buah dari apa yang telah diusahakan para pendahulu kita. Tapi bagaimana kita melakukan pengorbanan serupa untuk keberlangsungan dakwah ini di masa datang. Buah-buah pengorbanan itu pada hakikatnya akan kembali kepada kita jua.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (18 votes, average: 9,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

gadget

Anak-Anak di Era Digital dan Media Sosial