Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Kecil-Kecil Jago Nulis

Kecil-Kecil Jago Nulis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul: Kecil-Kecil Jago Nulis
Penulis: Nurhayati Pujiastuti, dkk.
Penerbit: Lintang
Cetakan: Pertama, Maret 2013
Tebal: 152 halaman
ISBN: 978-602-8277-84-6 

Cover buku "Kecil-Kecil Jago Nulis".
Cover buku “Kecil-Kecil Jago Nulis”.

Panduan Membimbing Anak Agar Terampil Menulis

dakwatuna.com Menulis merupakan keterampilan yang dapat dipelajari, sehingga sangat keliru jika ada yang beranggapan bahwa kemampuan menulis adalah bakat istimewa yang diperoleh dari Tuhan dan hanya orang berbakatlah yang dapat menghasilkan tulisan bagus serta layak baca. Karena menulis adalah keterampilan yang dapat dipelajari, maka semua orang yang mau belajar serta rela menekuninya pasti dapat menghasilkan tulisan yang bermutu.

Sebagai jenis keterampilan yang menjadi salah satu ciri orang terpelajar, kegiatan menulis akan sangat baik bila dipelajari sejak muda. Dan untuk mengajari anak-anak agar pandai menulis sejak usia muda, dibutuhkan tips dan trik jitu yang dapat dijadikan panduan.

Buku yang disusun secara keroyokan oleh tiga perempuan penulis Indonesia ini, dapat dijadikan panduan bagi orang tua yang menginginkan anak-anak mereka terampil menulis.

Sebelum itu, patut diketahui alasan untuk menulis—tentu saja agar dorongan untuk menulis semakin kuat. Menurut Nurhayati Pujiati ada banyak alasan yang membuat orang harus pandai menulis. Antara lain; pertama, dengan menulis maka orang dapat membagikan ilmu yang bermanfaat pada orang lain—dan hal ini termasuk amal jariyah. Kedua, dengan menulis, berarti belahan otak kanan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal; karena umumnya orang lebih banyak menggunakan belahan otak kiri—yang lebih berfungsi untuk belajar ilmu pengetahuan dan hitung- menghitung. (halaman 24-25). Di samping itu, menurut Deasylawati Prasetya, dengan menulis orang dapat memiliki banyak teman, dikenal banyak orang, semakin pintar karena otaknya selalu diasah, tidak mudah pikun, semakin sehat, menghasilkan uang dari honorarium tulisan yang dimuat, dan yang utama: dengan menulis hal-hal bermanfaat, maka dapat membuahkan pahala yang banyak; yang pada akhirnya dapat menyebabkan masuk surga. (halaman 85-92).

Tapi agar dapat menulis dengan baik, tentu saja ada hal-hal penting yang harus dijadikan kebiasaan. Pertama ialah suka membaca, karena untuk dapat menulis hal-hal yang menarik dan bermanfaat maka harus mengetahui banyak ilmu terlebih dahulu. Dan untuk memperoleh ilmu itu, di antaranya dapat diperoleh dari kegiatan membaca. Kedua, tidak mudah bosan untuk belajar mengenai banyak hal. Ketiga, harus sering bergaul dengan banyak orang. Tujuannya agar banyak yang bisa dilihat dan ditulis. Keempat, harus tekun dan tidak mudah menyerah, karena belajar menulis seperti belajar berenang atau belajar naik sepeda. Awal-awalnya mungkin susah dan tidak lancar. Tapi bila semakin sering dilatih, pasti lambat-laun akan semakin terampil dan mudah. (halaman 26-28). Dalam hal ini, orang tua harus telaten dan memberi teladan bagi anak agar kebiasaan-kebiasaan semakin terbangun dengan baik.

Untuk awal-awal bagi anak yang belajar menulis, tentu bingung mau menulis apa. Orang tua tidak perlu bimbang akan hal ini. Anak-anak dapat diajak untuk mulai menulis di buku harian atau buku catatan. Hal-hal yang dapat dituliskan dalam buku itu adalah cerita tentang pengalaman diri sendiri. Tentang perasaan sedih, senang, kecewa, marah, dan lain-lainnya. Apabila sudah lancar, maka secara bertahap anak dapat dibimbing untuk menulis tentang orang lain. Bisa dari orang yang paling dekat seperti orang tua dan saudara atau teman-teman akrab di sekolah. Dapat pula dilanjutkan untuk menulis mengenai binatang-binatang kesayangan.

Apabila tahap-tahap di atas agak sulit dilakukan, maka orang tua dapat membuat pembelajaran menulis sekreatif mungkin. Misalnya dengan teknik melanjutkan cerita. Orang tua dapat menyiapkan kalimat-kalimat menarik yang sengaja tidak diselesaikan. Biarkan saja anak yang melanjutkannya sendiri. Contohnya: Aku senang sayur buatan Ibu karena ………., Waktu Ibu marah aku takut soalnya ………. Titik-titik tersebut harus diisi sendiri oleh anak sesuai kemauan mereka. (halaman 38).

Bila tahap di atas sudah dapat dilalui dengan baik, orang tua dapat membimbing anak untuk membuat daftar kata yang beraneka macam, bisa mengenai benda, kata sifat, maupun kata kerja. Dari daftar kata-kata itu, orang tua dan anak bermain untuk membuat cerita dari kata-kata yang tersedia. (halaman 55).

Agar anak tidak bosan, orang tua sangat disarankan untuk sering membuat selingan. Misalnya dengan mengganti suasana atau tempat belajar menulis, mengajak jalan-jalan sambil berburu ide, atau menjelajah toko buku; melihat-lihat buku, majalah, tabloid, atau koran yang isinya menarik.

Apabila hal-hal demikian diusahakan orang tua secara konsisten dan telaten, niscaya anak akan dapat menulis dengan lancar dan hasilnya bagus. Barangkali saja, tulisan yang bagus itu pantas diterbitkan di media massa atau dalam bentuk buku, karena sekarang ini cukup banyak penerbitan yang mencari karya-karya penulis yang berusia anak-anak. (Pirman)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Thomas Utomo
Guru SD UMP. Menulis di Serambi Ummah, Potret, Koran Jakarta, Story, Suara Muhammadiyah, Sang Guru, Annida, Radar Banyumas, dan sebagainya.
  • jetix

    di Gramedia ad gak buku ini?

  • jetix

    di Gramedia ad gak buku ini?

Lihat Juga

Pesan Ibu untuk Sang Anak, Ikut Aksi 4 November