Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ditempatkan dengan Unik, Kisah Nabi Yusuf AS dalam Al-Quran

Ditempatkan dengan Unik, Kisah Nabi Yusuf AS dalam Al-Quran

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Setiap perputaran tilawah kita memasuki Surat Yusuf, ada sesuatu yang kurang bila kandungan surat tersebut terlewatkan begitu saja.  Sebuah untaian kisah yang indah dan memberikan kesan lebih mendalam di dalamnya. Maka cobalah untuk menikmati keindahannya dengan mempelajarinya atau setidaknya menyempatkan membaca terjemah surat tersebut dengan seksama.

Diawali dengan sebuah mimpi seorang Yusuf kecil yang mengabarkan suatu ketetapan Allah yang akan terjadi atas dirinya, berupa karunia dan kemuliaan yang besar. Namun kemudian yang terjadi adalah aral cobaan silih berganti menimpanya. Berbagai kedengkian dan tipu daya menghadangnya, tetapi semua itu setapak demi setapak justru menghantarkan pada terwujudnya ketetapan tersebut.

Kisah Nabi Yusuf AS menjadi lebih unik dan terasa berbeda, di mana kisah yang terjadi dari awal hingga akhir disajikan dalam sebuah alur yang panjang dan berurutan. Tidak ada kisah lain yang disajikan sedemikian runtutnya.

Keunikan lain, kisah Nabi Yusuf AS terkumpul secara lengkap peristiwa demi peristiwanya pada satu tempat. Kisah lain dalam Al Quran pada umumnya disajikan dengan terpisah-pisah, tersebar dalam beberapa surat yang berbeda.

Selanjutnya, kita tidak menjumpai kisah Nabi Yusuf AS di tempat lain dalam Al Quran kecuali pada surat tersebut, sehingga kesan yang dirasakan lebih mendalam.

Dari beberapa keunikan ini, memunculkan berbagai pelajaran atau ibrah yang tiada habisnya. Namun satu yang khas dari kisah ini adalah proses demi proses yang berakhir pada kemenangan sempurna. Mungkin bagi sebagian besar orang-orang beriman, kemenangan sempurna baru bisa di dapat di akhirat kelak. Kehidupannya di dunia ini masih penuh dengan berbagai cobaan. Adakalanya ajal telah menjemput tatkala kemenangan belum tiba.

Lebih istimewa lagi, kemenangan yang akhirnya diraih Nabi Yusuf AS tidak terjadi melalui keajaiban atas dasar mukjizat semata. Pertolongan Allah kepadanya tidak diberikan dalam bentuk sulap kemenangan berupa banjir, angin topan, letusan gunung atau gempa bumi yang membuat musuh-musuhnya binasa tanpa ampun. Jalan menuju kemenangan menjadi lebih indah untuk dinikmati karena melalui peristiwa demi peristiwa yang seolah-olah nature. Satu per satu persoalan yang menimpa Nabi Yusuf diselesaikannya secara apik.

Sebagaimana halnya proses kemenangan yang dijalani Nabi Muhammad SAW, tidak dengan azab yang secepat kilat membinasakan para penentangnya begitu saja, melainkan dengan proses demi proses yang penuh dengan strategi, kesabaran dan pengorbanan yang indah untuk disajikan sebagai pelajaran kepada kita. Hanya jika perjuangan Nabi Muhammad adalah sebuah potret perjuangan jama’i, pada Nabi Yusuf di dapat sebuah potret perjuangan individu. Seorang diri yang menghadapi satu per satu persoalan yang menimpanya. Berbekal hikmah dan ilmu yang dikaruniakan Allah, seorang terlunta-lunta yang akhirnya menaklukkan sebuah negara besar.

Tidak dengan bertarung untuk mengalahkan satu per satu dari mereka, namun hanya menempatkan diri pada posisi mengambil hati-hati itu. Menaklukkan berbagai tipu daya tidak dengan menghinakan mereka, melainkan merengkuh mereka bersama-sama dalam suatu kemenangan. Tipu daya Allah membuat suatu kemenangan yang seolah mustahil, ternyata begitu mudah terwujud.

Maka kisah ini layak dijuluki sebagai ahsanul qashash (kisah yang terbaik), serta membuat kita terhanyut dalam keharuan happy endingnya, di kala kita juga tengah merindukan sebuah kemenangan sempurna untuk umat ini.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,82 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Ilustrasi-Alquran (inet)

Khutbah Jum’at: Di Bawah Naungan Al-Quran