Home / Pemuda / Essay / Teko Berisi Teh Mengeluarkan Kopi?

Teko Berisi Teh Mengeluarkan Kopi?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comDakwah, kata yang tidak asing di telinga kita. Dakwah pada umumnya memiliki arti menyeru, mengajak orang kepada jalan yang benar. Dakwah bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan namun itupun bukanlah hal yang sulit, sebagian orang mengatakan sulit karena mereka takut dan khawatir. Banyak hal yang mengiringi kekhawatiran mereka, mulai dari khawatir dianggap aneh karena menyebarkan Islam di lingkungan yang sudah mulai hedon atau kekhawatiran karena dia memiliki ilmu yang sedikit tentang agama ini terlebih saat orang tersebut diingatkan akan firman Allah QS. Ash-Shaff: 2-3 “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Sesungguhnya setiap orang adalah da’i sebelum ia menjadi apa pun, lantas mengapa banyak orang yang takut untuk berdakwah? Siapa yang salah? Tentunya tak penting kita mencari tahu siapa yang salah tapi kita harus mengetahui mengapa ini bisa terjadi. Fenomena ini harus kita pecahkan bersama. Selain itu masih banyak permasalahan dalam dakwah ini, ada beberapa kader yang berguguran dengan mudahnya dari jalan yang panjang ini, memang sudah menjadi sunnatullah tatkala ada malam pasti ada siang begitupun dengan dakwah jika ada yang bertahan pasti ada yang berguguran namun itu tidak pantas kita jadikan alasan untuk membiarkan saudara seperjuangan pergi menjauh bahkan lenyap dari jalan ini. Maka hal yang harus kita lakukan adalah memupuk pemahaman kita tentang dakwah ini dan terus memperbaharuinya dengan saling mengingatkan.

Al-fahmu “Anda yakin bahwa fikrah (pandangan) kami adalah fikrah islamiyah yang solid dan tangguh, serta Anda memahami Islam seperti apa yang kami pahami” (Hasan Al-Banna). Tidak ada masalah yang tak memiliki solusi begitupun dengan permasalahan kita, baik orang yang khawatir untuk berdakwah atau kader dakwah yang pergi meninggalkan jalan yang selama ini ia tempuh. Tak ada jalan lain yang dapat kita lakukan selain memberikan pemahaman yang tepat. Mengapa pemahaman menjadi sangat penting? Jelas sekali pemahaman seseorang tentang sesuatu akan memberikan efek yang berbeda pada setiap pergerakannya, tengok saja orang yang tidak mau berdakwah karena khawatir akan apa yang mereka katakana sedang mereka tidak melakukannya, maka mereka tidak akan berani menyampaikan apapun meski ilmu mereka segudang. Sedangkan orang yang pemahaman nya baik ia akan berusaha menyikapi ayat tersebut dengan benar, ayat tersebut tidak menjadi penghalang untuk tidak menyampaikan apa yang telah dia ketahui tetapi dia jadikan sebagai motivasi untuk melakukan apa yang telah mereka katakana agar mereka tidak termasuk orang yang dimurkai Allah SWT.

Begitupun dengan phenomena dakwah kampus yang setiap harinya ada saja kader yang berguguran. Banyak alasan yang menyertai kemunduran mereka, baik alasan personal yang merasa tidak penting dalam arena dakwah ini atau karena sakit hati dengan sikap salah seorang sahabatnya bahkan kekecewaan yang timbul pada jamaah.

Apa pun alasan yang hadir akan teratasi jika setiap individu memiliki pemahaman yang utuh. Seseorang yang mundur karena merasa dirinya tidak penting akan terhindar dari kemunduran dan tidak akan meninggalkan dakwah ini jika ia memiliki pemahaman yang tepat “ seandainya ia mengetahui bahwa setiap elemen dalam dakwah ini bagaikan rantai sepeda yang jika putus salah satu nya membuat sepeda itu tidak akan berfungsi (hal ini bukan berarti dakwah akan terhenti saat kita terhenti karena dakwah akan selalu ada meski kita tidak ada) tetapi pengertian rantai di sini adalah setiap orang memiliki kontribusi yang sama besar dalam dakwah apapun amanahnya”. Bukankah orang yang terbaik dalam dakwah ini adalah mereka yang dapat memberikan apa yang orang lain berikan untuk dakwah dan dia pun mampu memberikan apa yang tidak dapat orang lain berikan untuk dakwah ini? Lantas tak ada alasan untuk kita merasa cemburu pada saudara kita yang diberikan amanah lebih serta tak ada alasan untuk kita merasa lebih dari orang lain karena memiliki amanah lebih banyak atau lebih tinggi, karena kita adalah rantai sepeda yang sama bentuk dan ukurannya serta bersama-sama menjadi alasan untuk memajukan setiap langkahnya.

Jika pemahaman dapat dijadikan alasan agar orang bersedia untuk menyampaikan ilmu yang dia miliki serta menjadikan mereka merasa sama penting dan terhindar untuk menjadi orang yang meninggalkan dakwah ini karena sakit hati pada sahabatnya, maka pemahaman pun akan membantu kita agar terus istiqamah di jalan ini dan menepis semua keraguan. Serta kita pun akan terhindar dari pengkultusan, jika kita di sini karena doktrin (bukan pemahaman) maka mudah saja bagi kita untuk meninggalkan jalan ini saat ada orang yang memberikan sejuta alasan untuk kita tidak di sini, tidak dipungkiri bahkan boleh jadi kita dapat berbalik menjadi orang yang antipati pada dakwah. Saat kita hadir di sini karena ‘karbitan’ boleh jadi kita akan membenarkan sahabat seperjuangan kita yang melakukan kesalahan, kita menutup mata akan kebenaran, dan menyalahkan orang lain yang karena mereka tak sama dengan kita. Padahal rasa percaya dan cinta bukanlah kita tunjukkan dengan membenarkan apa yang salah pada sahabat kita, tetapi mengingatkannya dan meluruskannya serta kita jadikan sebagai pelajaran. Bukannya membabi buta menyalah kan orang lain tanpa mentabayuni sebelum bertindak.

Sungguh penting arti pemahaman, baik atau buruk yang kita lakukan merupakan imbas dari apa yang kita pahami. Bukankah teko itu mengeluarkan apa yang ada di dalamnya?! Jika teko itu berisi teh maka teko itu akan mengeluarkan teh dan mustahil teko yang berisi teh untuk mengeluarkan kopi; begitupun dengan pemahaman kita.

Wallahu’alam bishawab

Referensi:

Abdullah, Rahmat. 2004. Untukmu kader dakwah. Jakarta: Pustaka Da’watuna.
Rosyidi, Muhammad. 2010. Menjadi Murabbi Itu Mudah. Surakarta: Era Adicita Intermedia.
Syamil al-Qur’an

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ima Muti
Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris UIN BDG.

Lihat Juga

Asep dan Segelas Kopi