Home / Narasi Islam / Sosial / Permusuhan: Dari Mana Bermula?

Permusuhan: Dari Mana Bermula?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (dreamstime.com)
Ilustrasi. (dreamstime.com)

dakwatuna.comBerawal dari pertanyaan sederhana, bagaimana bisa mereka yang saling mencinta akhirnya menjadi musuh yang paling setia. Apa pemicunya?

Bukankah waktu kita akan habis untuk sesuatu yang hanya membuat batin kita meringis? Membuat hati kita lelah? Memperebutkan sesuatu yang sejatinya hanya dimiliki oleh Sang Maha Kaya? Bukankah Tuhan menciptakan segala beda untuk menjadi rahmat—untuk menyempurnakan dengan kasih sayang-Nya? Apa yang sebenarnya terjadi?

Selalu ada jawaban untuk setiap tanya.

Tentang Ghibah

Dan jawaban ini bermula dari pemicu godaan syaitan yang sederhana, yang sering kali kita mudah untuk abaikan. Yaitu, ghibah—membicarakan orang lain. Semoga kita terlindung darinya.

Nasihat seorang bijak, al-Fudhail bin ‘Iyadh, berkata

“Barangsiapa yang ingin selamat dari ghibah (menggunjing), hendaklah ia menutup pintu prasangka. Barangsiapa selamat dari prasangka, maka ia akan selamat dari tajassus (mencari-cari kesalahan orang lain). Barangsiapa selamat dari tajassus, maka ia akan selamat dari ghibah.”

Bermula dari prasangka. Bukankah Allah swt meminta kita untuk selalu berprasangka baik pada-Nya? Dan, begitu pula pada makhluk ciptaan-Nya? Maka ketika prasangka baik yang kita pelihara, kehidupan yang baik pula yang akan tercipta.

Lalu, berlanjut pada mencari-cari kesalahan orang lain. Bukankah manusia adalah sejatinya pembuat kesalahan? Tapi, karena kebaikan dari-Nya lah, Ia tutup segala kesalahan & keburukan kita. Dan, Ia tunjukkan kebaikan & kelebihan kita? Bukankah kesempurnaan hanya milik Allah? Lalu, mengapa kita terus mencari kesalahan saudara kita? Mungkin, kita yang belum menyadari bahwa hadirnya kita adalah untuk menyempurnakan saudara kita, bukan sekadar untuk menuntutnya menjadi sempurna.

Pada akhirnya, kita bincangkan kesalahan orang lain tanpa rasa takut sedikitpun. Di sinilah, ternyata akar permusuhan bermula. Dunia ini akan terus menjadi ladang perkelahian yang merugikan jika manusia di dalamnya terus memelihara ghibah—sibuk membincangkan kesalahan dan keburukan yang sejatinya adalah keniscayaan. Mengapa kita harus disibukkan dengan memakan daging saudara kita sendiri dan lupa untuk makan buah-buahan, daging hewan ternak, dan banyak hal lainnya yang telah Allah karuniakan untuk kita?

Permusuhan membuat kita lupa akan hakikat penciptaan yang sebenarnya. Bukankah musuh sejati adalah ada nafsu yang ada di dalam diri—yang bersumber dari godaan syaitan yang begitu halus? Kita perlu hati yang bersih, jiwa yang suci untuk benar-benar mendengar suara langit.

Permusuhan yang menjadi puncak dari ghibah ini membuat seorang al-Fudhail menggambarkan sebuah perumpamaan,

“Apabila ghibah sudah muncul, maka hilanglah rasa ukhuwah fillah (persaudaraan). Perumpamaan kamu pada zaman seperti itu adalah laksana sesuatu yang dipoles emas dan perak. Bagian dalamnya kayu, sedangkan di luarnya saja terlihat baik.”

Laksana sesuatu yang terlihat indah dipandang mata dari pesona luarnya karena berpoleskan emas dan perak. Namun, sejatinya ia rapuh karena hanya dari sebatang kayu yang dipoleskan.

Tentang Hawa Nafsu dan Egoisme

Layaknya ghibah yang menjadi awalan timbulnya permusuhan. Titik tolak lainnya yang membuat permusuhan bersemayam di hati adalah pemeliharaan akan hawa nafsu dan egoisme hati.

Adalah seorang sufi bernama Abu Bakar al-Hakim, al-Warraq, berkata,

“Apabila hawa nafsu sudah dominan, maka hati akan gelap. Jika hati telah gelap, maka dada akan menyempit. Apabila dada telah menyempit, maka akhlak akan menjadi buruk. Apabila akhlak telah menjadi buruk, maka manusia akan membencinya. “

Bahwa dengan segala ketidaksempurnaan yang dimiliki manusia, tak boleh pernah lupa bahwa kita juga perlu berjuang mengendalikan hawa nafsu kita, bukan justru dikendalikan olehnya. Yang pada akhirnya, menjadi awalan benci dari manusia lainnya.

Tanpa adanya perjuangan melawan hawa nafsu akan membuat kita terkungkung dalam egoisme buta yang hanya akan mengantarkan kita pada kekalahan yang sempurna. Seperti apa yang dikatakan al-Hudhaibi dalam bukunya

“Tampaknya bila rasa egois telah mendesak jiwa manusia, walaupun dengan jalan yang tidak benar, maka ia tidak akan berfikir tentang orang lain. Sekalipun berbagai sarananya yang licik itu telah menyebabkannya kalah berulang kali, hingga mencapai kekalahan yang sempurna.”

**

Bukan hal mudah memang meniadakan permusuhan yang sejatinya adalah keniscayaan. Namun, bukan tidak mungkin untuk menjadikan sebisa mungkin lisan dan pendengaran kita terhindar dari ghibah dan hati kita tidak terbelenggu oleh hawa nafsu yang akhirnya memelihara egoisme yang mengakar. Pada akhirnya, semua hati yang suci dan jernih berlandaskan cinta-Nya yang akan mengikat kembali persaudaraan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 5,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi tingkat akhir Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Aktif di Lembaga Eksekutif Universitas dan menggeluti aktivitas sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Lihat Juga

Kebesaran Hati Keluarga Korban Chapel Hill: “Semoga Kematian Anakku Menjadi Jalan Menuju Kehidupan Penuh Cinta”