Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Jundullah; Mengenal Intelektualitas dan Akhlak Tentara Allah

Jundullah; Mengenal Intelektualitas dan Akhlak Tentara Allah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul Asli: Jundullah Tsaqafan wa Akhlaqan
Judul Buku: Jundullah; Mengenal Intelektualitas dan Akhlak Tentara Allah
Penulis: Said Hawwa
Penerbit: Gema Insani Press – Jakarta
Tebal: 485 Halaman; xii x 24 cm
ISBN: 979-561-755-9

Cover buku "Jundullah; Mengenal Intelektualitas dan Akhlak Tentara Allah".
Cover buku “Jundullah; Mengenal Intelektualitas dan Akhlak Tentara Allah”.

dakwatuna.comKebangkitan Islam bukanlah mimpi. Melainkan janji Suci dari Allah yang menguasai semesta alam. Meskipun kebangkitan tersebut pasti terjadi, harus ada upaya sistematis dari kaum muslimin untuk menjadikan kebangkitan Islam itu menjadi nyata. Harus ada upaya sungguh-sungguh agar Islam kembali menyejahterakan kehidupan semesta dengan rahmatnya.

Oleh karena itu, diperlukan adanya sosok-sosok Jundullah (tentara Allah) yang sungguh-sungguh dalam mengamalkan Islam. Dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa hingga taraf internasional (Ustadziyatul Alam). Sehingga, dalam tataran ini, niat dan kemauan untuk mewujudkan pemerintahan global secara Islami harus tertanam kuat dalam diri setiap Jundullah.

Untuk mencapai tahap itu, diperlukan sosok-sosok jundullah yang tidak hanya bersemangat, tetapi juga memiliki akhlak yang sesuai dengan Islam, berketepatan dengan apa yang diajarkan dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah. Karena Islam mustahil tertegak dalam tataran negara atau internasional jika ia belum tertegak dalam masing-masing individu jundullah itu sendiri.

Secara fundamental, etika jundullah meliputi : Cinta Kepada Allah, Bersikap Pengasih kepada Kaum Muslimin, Bersikap Tegas terhadap Kaum Kafir, Jihad dan Memerdekakan Loyalitas.

Kemudian, para jundullah itu tergabung dalam harakah-harakah sebagi tempat menyuburkan idealisme dan memudahkan langkahnya dalam mewujudkan cita-cita besar kaum Muslimin. Dalam tahapan ini, Jundullah-jundullah itu tidak mengenal ashabiyah apalagi fanatik buta terhadap harakahnya. Karena dalam benak mereka, perbedaan adalah sebuah kekayaan. Mereka lebih menjunjung tinggi kesamaan cita-cita kaum muslimin internasional, ketimbang mempermasalahkan ‘baju’ yang berbeda warnanya. Karena sesungguhnya, aktivitas dakwah ke jalan Islam yang benar –apapun sarana yang digunakan- merupakan salah satu jembatan yang digunakan oleh umat manusia untuk menyeberang dari alam jahiliyah ke alam islamiyah. (Hal 47)

Harakah-harakah inilah yang kelak bisa mencetak sosok-sosok jundullah yang memiliki kriteria sebagai sosok yang memiliki motivasi untuk mati bertautan erat dengan motivasi untuk menang; kemampuan untuk bergerak dalam bidang politik bertautan dengan kemampuan untuk berjihad; sikap pengasih terhadap kaum mukminin bertautan erat dengan sikap tegas terhadap orang kafir; kecintaan kepada Allah bertautan erat dengan sikap berupaya untuk memerdekakan loyalitas. (Halaman 40)

Selanjutnya, jundullah-jundullah itu bergerak menyeruak ke berbagai lini kehidupan, dengan atau tanpa instruksi dari harakah. Karena mereka menyadari dengan benar, bahwa tanggungjawab memuslimkan keluarga, wilayah dan negara juga internasional, adalah perintah Allah, bukan perintah selain-Nya.

Sehingga, mereka dengan kesadaran penuh mengupgrade diri untuk terus menerus mempelajari ilmu-ilmu agama sebagai bekal bagi mereka untuk berjuang. Adapun ilmu-ilmu yang menjadi menu wajib mereka meliputi: Ilmu Ushuluts Tsalatsah (Allah, Rasulullah dan Islam), Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an –Ilmu Nasikh-Mansyukh, Ilmu Asbab Nuzul dan Amkinah Nuzul, Ilmu Gharibil-Qur’an, Ilmu Rasm Utsmani, Ilmu Tafsir al-Qur’an- as-Sunnah, Ilmu Ushul Fiqih, Ilmu Islam yang bersifat Teoritis dan Praktis –Ilmu Aqaid, Ilmu Akhlak dan Ilmu Fikih-, Sejarah Umat Islam dan Kekiniannya, Disiplin Ilmu Bahasa Arab, Beberapa Tantangan dan Konspirasi, Kajian Islam Kontemporer, Pemahaman Dakwah dan Prakteknya.

Selain tsaqafah, jundullah-jundullah itu juga memiliki karakteristik lain. Yaitu baiknya perangai mereka. Karena mereka menyadari betul, bahwa misi utama Rasulullah diutus ke muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dari jahiliyah menjadi menuju akhlak Islami.

Akhlak pertama yang harus dipelajari dan dipraktekkan betul oleh seorang jundullah adalah Loyalitas hanya kepada Allah, Rasulullah dan Orang Mukmin. Kedua, Mahabbah, Cinta Kepada Allah. Akhlak ini merupakan pengaruh alami yang timbul dari rasa syukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Untuk menuju kepada Mahabbatullah, diperlukan 3 langkah yaitu Cinta Karena Allah, Saling Mengunjungi Karena Allah, dan memberi Harta karena Allah. (Hal 285). Ketiga, Sifat Lemah Lembut Terhadap Orang-orang Mukmin. Karakter ketiga ini meliputi : memaafkan dan memohonkan ampun, rendah hati, menghilangkan hal-hal yang bisa menyakiti orang mukmin, berjumpa dengan senyum berseri dan berbicara dengan perkataan yang baik, meringankan kesulitan, menghilangkan kesusahan, dan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan, ramah, senang melakukan sesuatu yang disenangi saudara mukmin dalam kebaikan, menegakkan hak-hak mereka, tidak mengintimidasi, tidak merasa gembira jika saudaranya tertimpa musibah, memperhatikan urusan dan masalah orang-orang mukmin, dan seterusnya.

Karakter keempat, Keras terhadap Orang-orang Kafir. Kelima, Berjihad di Jalan Allah tanpa Merasa Gentar. Meliputi Jihad dengan Lisan, Jihad Pendidikan, Jihad dengan Tangan dan Jiwa, Jihad Politik dan Jihad Harta (Hal 423).

Menyelami ke dalam Ilmu dan Pengalaman Penulis melalui buku ini, membuat diri semakin merasa bodoh dan semakin menebalnya keyakinan juga kerinduan akan tegaknya Islam di muka bumi. Karena, ketika Islam tegak, maka mereka yang beragama lain, akan ikut merasakan kedamaian dan kesejahteraan Islam. Sementara itu, ketika umat lain yang berkuasa, seperti kita alami saat ini, kau muslimin justru tertindas. Di segala bidang, di semua tempat.

Meskipun, kita tetap yakin, bahwa kelak, Islam akan kembali berjaya. Segera! Dengan atau tanpa kita. Sehingga, satu hal yang perlu kita pastikan, seberapa besarkah kontribusi yang sudah kita berikan untuk Islam yang kita cintai?

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pirman
Penulis, Pedagang dan Pembelajar

Lihat Juga

Berilmu Hanya Usaha Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT