Home / Berita / Opini / Geert Wilders dan Wajah Ambigu Imperialis Eropa

Geert Wilders dan Wajah Ambigu Imperialis Eropa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Geert Wilders. (rnw.nl/ANP)
Geert Wilders. (rnw.nl/ANP)

dakwatuna.com Geert Wilders yang selama ini dikenal sebagai politisi Anti-Islam menjalin aliansi dengan rekannya dari Prancis Marine Le Pen pada (13/11) di Den Haag. Poros baru yang dibentuk menghadapi pemilu Parlemen Eropa tahun depan. Di samping memperjuangkan agenda Eurosceptic (anti-integrasi Eropa), juga agenda yang selama ini mereka usung tentang memerangi Islam dan imigran yang dianggap sebagai beban bagi Eropa, bahkan berpotensi menghancurkan nilai-nilai Eropa.

Apakah Benua Eropa terlalu suci bersahabat dengan ras dan nilai-nilai lain? Sisa-sisa imperialisme Eropa masih membekas di seantero dunia pada abad ini. Koloni Bangsa Kulit putih mencengkeram dunia selama berabad-abad. Bahkan hampir memusnahkan ras penduduk asli di benua Amerika dan Australia. Ketika mereka sudah tidak mampu mempertahankan kolonialisme fisik, kemerdekaan di negara-negara dunia ke-tiga memang diberikan, namun cengkeraman politik, ekonomi dan kebudayaan tak dilepaskan begitu saja. Dari monopoli sistem keuangan, eksploitasi sumber daya alam, berbagai produk budaya pop dan masih banyak lagi instrumen yang sebenarnya melanggengkan penjajahan dalam bentuk baru.

Ketika kolonialisme membawa konsekuensi adanya interaksi antara negara yang terjajah dengan koloninya, di antaranya berupa arus imigran baik dengan motif ekonomi maupun pendidikan, kemudian mereka merasa kedatangan unsur-unsur asing tersebut membahayakan eksistensi mereka, apakah mereka tidak siap untuk berkompetensi secara sehat?

Apakah jika Benua mereka tertutup rapat bagi para imigran, bagaimana jika seluruh ras kulit putih di Benua Amerika, Australia dan berbagai penjuru dunia yang lain diusir dan disuruh pulang ke tempat asalnya? Jika Islam mengajarkan berbagai suku bangsa yang berbeda untuk saling mengenal (ta’aruf), tanpa merendahkan satu sama lain, apakah mereka pantas memandang rendah terhadap nilai-nilai Islam sehingga menjadi sama sekali tidak boleh memasuki Eropa?

Mereka mengajarkan sosok Malcolm X tentang kebencian suatu ras atas ras yang lain. Sementara Islam menyadarkannya tentang persaudaraan seluruh umat manusia.

Tentang Islam yang mereka khawatirkan, seberapa bar-barkah nilai-nilai Islam dibandingkan dengan yang mereka miliki? Tidakkah mereka mengetahui, ketika Islam menaklukkan suatu wilayah termasuk sebagian Eropa, yang terjadi bukanlah genosida, penjajahan atau eksploitasi sumber-sumber alam, melainkan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi? Islam datang di Andalus menjadikannya sebagai puncak peradaban yang pada akhirnya juga membawa Eropa secara keseluruhan keluar dari masa kebodohan dan kegelapannya. Islam telah datang ke Benua Amerika sebelum Columbus, bukan untuk memusnahkan penduduk asli, melainkan membawa transfer ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Islam menaklukkan wilayah Nusantara, sementara penduduknya tidak merasa dijajah dan dieksploitasi oleh Islam.

Ketika kezhaliman dan penindasan yang bertubi-tubi menimpa Muslim di berbagai penjuru dunia, kemudian pada sebagian kecil dari orang yang tertindas secara semena-mena itu tumbuh reaksi berlebihan yang dipandang sebagai radikalisme, terorisme atau fundamentalisme, maka mengapa mereka lebih mempersalahkan orang-orang tak berdaya yang tertimpa penindasan secara kelewat batas dari pada para tiran dunia yang leluasa melakukan kesewenang-wenangan?

Ketika Eropa dilanda berbagai krisis, tidakkah mereka sedikit membuka mata tentang Islam yang mungkin bisa menjadi solusi atas permasalahan mereka? Dimulai dari hal terkecil dalam kehidupan pribadi dan keluarga, lihatlah sosok-sosok Muslim di tengah-tengah mereka yang hidup secara halalan-thayyiban, sedang mereka terjerumus ke dalam pola hidup yang berantakan, free sex, alkohol, kehancuran keluarga dan sebagainya.

Akhirnya bagi Muslim, tantangan yang mereka hadapi hendaklah disikapi dengan dewasa, berbekal keyakinan kita akan keunggulan Islam itu sendiri. Tidak reaktif dan emosional tapi berupaya memberi solusi. Jangan sampai kebaikan Islam tertutup oleh perilaku pemeluknya yang tidak baik.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.
  • Fadhli Erlanda Arlan

    Islam mengajarkan kebaikan dan menganggap semua manusia itu sama tak peduli gender, kedudukan, status sosial dan etnisnya. soal orang bule (kulit putih ato kaukasia), gak semua dari mereka yang datang ke Asia, Amerika dan Afrika dulu adalah orang jahat tentunya, bahkan ada yang malah mengkhianati penjajahan negrinya pada negri dunia ketiga dulu contoh Douwis Dekker di Indonesia dulu. baik penguasa Eropa dan khilafah dulu juga punya catatan buruk, contoh Raja Ferdinand di Spanyol dulu yang mengusir dan membunuh orang Yahudi dan Muslim karena gak mau seiman dengan mereka, khilafah juga pernah jahat pada Yunani dan membantai orang Armenia. orang bule pun juga pernah saling memerangi, contoh perang dunia dan perang dingin dulu, hanya saja ada orang dari benua Asia dan Amerika yang terlibat di perang itu, gak cuma bule doang

Lihat Juga

Erdogan Nan Membahayakan