Home / Berita / Internasional / Eropa / Perempuan Turki Protes Kebijakan Jilbab di Parlemen

Perempuan Turki Protes Kebijakan Jilbab di Parlemen

Perempuan  Mengenakan Jilbab di Parlemen Turki (Foto: bbc.co.uk)
Perempuan Mengenakan Jilbab di Parlemen Turki (Foto: bbc.co.uk)

dakwatuna.com – Istanbul. Ratusan perempuan Turki menggelar protes di Istanbul, Ankara dan Izmir guna menentang kebijakan paling akhir pemerintah Partai AKP untuk mencampuri gaya hidup kaum muda di negeri tersebut. Demonstrasi tersebut diselenggarakan oleh Partai Pekerja dan beberapa organisasi perempuan. Mereka membawa slogan “Wahai perempuan bangkit lah! Bersama kaum lelaki!”

Sekretaris Jenderal Partai Pekerja Urusan Perempuan Pinar Gul mengatakan pemerintah menyelesaikan perhitungannya dengan Republik Turki.

“Dan kami tentu saja takkan membiarkan mereka mewujudkan tujuan mereka,” kata Pinar Gul.

Pemrotes menyampaikan keprihatinan mereka mengenai masa depan Republik Turki dan sistem sekularisme di negeri tersebut. Itu adalah reaksi pertama masyarakat oleh kaum perempuan Turki terhadap tindakan resmi Partai Pembangunan dan Keadilan –yang berkuasa.

Menurut paket demokratisasi paling akhir yang diumumkan pada Oktober oleh Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, pemerintah mengizinkan perempuan wakil rakyat mengenakan jilbab di Parlemen Turki.

Pelaksanaan hukum baru tersebut telah menghadapi kecaman keras oleh kaum sekuler dan perempuan “Kemalist” (pengikut Mustafa Kemal Araturk), pendiri Turki modern dan sekuler) di Turki.

“Yang pertama, saya adalah prajurit Mustafa Kemal Ataturk. Parlemen Turki adalah Parlemen Tertinggi Republik Turki, bukan parlemen satu negara Islam,” kata salah seorang perempuan pemrotes, Sacide Dikkaya di Kabupaten Kadikoy di Istanbul.

Saat menyeru perempuan wakil rakyat agar tidak memakai jilbab di dalam gedung parlemen, Dikkaya berkata, “Penutup kepala mereka bukan lambang agama, itu adalah petunjuk mengenai pandangan politik khusus.”

Seorang perempuan lain –mantan anggota parlemen dari Partai Demokrat Sosial– mengecam perempuan anggota parlemen yang tak memakai jilbab dan mengizinkan yang lain memasuki parlemen.

“Kalau saja saya ada di sana, saya akan berjuang melawan mereka sampai titik darah penghabisan. Tak seorang pun berhak menggelar pertunjukan politik di Parlemen Tertinggi Turki,” ungkapnya.  (rol/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.
  • yuzarakifin

    setahu saya yang menjadi keberatan kaum sekuler saat ini bukan lagi larangan memakai jilbab di ruang-ruang publik, tetapi mereka saat ini sedang meradang karena RT Erdogan akan melakukan tindakan terhadap mahasiswa dan mahasiswi yang tinggal serumah atau seatap di asrama milik universitas atau di rumah-rumah penduduk disekitar universitas yang mereka sewa, lebih dari itu RT Erdogan meminta masyarakat agar berperan aktif apabila menemukan kasus ini dengan cara melaporkannya kepada polisi

  • Novri Bareta

    kalau tinggal serumah dan seatap tanpa nikah namanye kumpul kebo..di indonesia juga dilarang bro…

  • linda tri maiza

    waduh.. yang mengaku menjunjung kebebasan,,ternyata tidak jujur .. bebas mengenakan jilbab malah dianggap politis..

  • Dudung Sam

    aneh orang sekuler itu….orang pake bikini saja dibiarkan……pake jilbab malah diprotes

  • Rudyno Nasrial

    Orang luar terutama timur tengah tu banyak yang fanatik, fanatik terhadap ideologi yang dianutnya, entah itu sekuler liberal jadi sekuler ekstrim, ateis, ataupun islamis. Lihatlah contohnya di turki ini, sekuler ekstrim. Padahal peraturannya hanya memboleh wakil rakyat berjilbab di parlemen, tidak memaksa orang lain untuk memaksa jilbab. Kok malah dituduh mengekang kebebasan atau mendirikan negara otoritarian islam? Kalau mereka bebas ga berjilbab bahkan seperti bertelanjang, kenapa menutup aurat atau berjilbab ga boleh? Disatu sisi liberal berteriak kebebasan, tapi mengambil kebebasan orang lain.
    Bahkan sama salah satu wakil rakya turki yang ga berjilbab tapi mengizinkan wakil rakyat lain berjilbab. Lucunya lagi komentar terakhir pendemo, “Kalau saja saya ada di sana, saya akan berjuang melawan mereka sampai titik darah penghabisan. Tak seorang pun berhak menggelar pertunjukan politik di Parlemen Tertinggi Turki,” ungkapnya. Lah namanya juga parlemen, isinya politikus,kok ga boleh berpolitik. Sungguh, diperlukan pemimpin islam yang harus sabar menghadapi semua ini dan bisa bertindak adil pada semua pandangan ideologi. Semoga Allah sentiasa melindungi dan merahmati pemerintahan turki dibawah orang2 beriman dan bertakwa, semoga Allah juga mengaruniai Indonesia pemimpin2 yang beriman dan bertakwa pada Allah SWT.

Lihat Juga

Erdogan Buktikan Eropa Mendukung Teroris