Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ukhuwah Hitam Pekat

Ukhuwah Hitam Pekat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (ustadchandra.wordpress.com)
Ilustrasi. (ustadchandra.wordpress.com)

dakwatuna.comDunia terlalu cepat menambah usia, ku perhatikan mereka semakin dewasa semenjak perpisahan itu. Ya, sejak perpisahan yang haru tanpa air mata.

Mereka yang mendengarkanku membaca ayat suci Al-Qur’an
Di tengah kesibukan lain yang mencuri perhatian
Mereka yang memberikanku senyuman tulus saat aku mengakhirinya
Lalu menyatukan satu lututnya pada satu lututku
Saat itu matanya beradu dan tertutup, hitam

Aku masih ingat ketika lingkaran cahaya itu dibentuk pertama kali akibat kecelakaan yang direncanakan. Allah menjodohkan kami dengan cara yang unik, dengan pandangan yang tidak kasat, dan dengan ujian yang menghantam iman kami.

Jumlah kami tak banyak, ada 9 kurcaci shalihah dan 1 Ibu Bidadari. Aku termasuk orang yang sulit mengingat dalam jangka panjang. Saat ku tatap satu per satu wajah mereka, aku khawatir akan lupa di masa depan. Namun saat itu aku berhenti di wajah seseorang yang tak pernah berhenti tersenyum, sejak saat itulah aku paham bahwa aku bisa mengingat mereka karena perbedaan yang tulus dipancarkan.

Semakin hari, aku merasa kami semakin mirip macam anak kandung dalam satu ibu dan ayah. Aku mudah berkaca tentang diriku pada wujud mereka. Beberapa kali aku terkejut tentang banyak makna sebuah persaudaraan. Bahkan rasa bosan, benci, kesal, prasangka buruk, dendam, dan lain halnya tak pernah aku rasakan. Bahkan ketika rasa itu hampir muncul, aku selalu membunuhnya sampai akar, lalu melupakannya seperti orang yang hilang ingatan.

Terlihat ada yang mendominasi, wajar. Terlihat ada yang cari sensasi, wajar. Terlihat ada yang tak ambil pusing, wajar.

Aku mulai paham tentang pentingnya sebuah peran. Bahwa aku ada di mana dan untuk apa. Kami menulis banyak hal di kenangan yang sama. Kami bercerita seolah dunia hanya milik kami. Indah. Wangi. Berjuta rasa!

Lidahku kelu untuk mengatakan bahwa aku mulai mencintai mereka. Bukan karena aku sulit dalam bicara. Hanya saja, kupikir, tunas-tunas harapan di sana sebanding dengan buntalan kekecewaan....Hampir setiap orang terlalu senang dalam setiap pertemuan, perjumpaan, perkenalan, dan hal yang serupa. Tapi mereka lupa terhadap risiko yang kemungkinan terjadi dan tidak ada jaminan yang membayar itu semua secara pasti kecuali izin Allah. Kebanyakan dari mereka akan trauma karena terjadinya sebuah perpisahan.

1 tahun berjalan, seperti hubungan pada umumnya, mulai banyak pemikiran-pemikiran ekspektasi yang terlalu jauh. Positifnya, kami mempunyai mimpi yang beralur dan janji konyol yang terpaksa disepakati. Negatifnya, kami terlalu banyak beralasan untuk tidak terlalu jauh dalam mencintai satu sama lain.

Setiap kesalahan akan terlunasi dengan ucapan minta maaf, penyesalan, dan janji tidak akan mengulangi. Walau aku yakin kesalahan yang ku buat tidak akan bisa terhapus dari memori mereka, tapi yang sangat kuhargai adalah mereka bisa menerima itu sebagai tolak ukur tingkat pekatnya persaudaraan kami.

Maksiat yang menenggelamkanku pada lamunan maya
Memaksaku untuk melontarkan kalimat yang sederhana
Tapi berakibat penyesalan tak kurang dari waktunya
Karena apa?
Karena ketulusan itu tidak pernah bisa berpura-pura
Karena satu kebaikan itu akan jadi pintu kebaikan yang lain
Karena adanya persaudaraan yang didasari cinta itu

3 tahun berjalan adalah fase tersulit dalam masa perkembangan kami. Kami dihadapi dengan pilihan yang tidak bisa terhindar dari rasa egois yang menguasai jiwa. Tidak sampai pada melayangnya nyawa, tapi beberapa dari kami, jadi hilang hati.

Gelap pekat dalam balut gumpalan air pembekuan
Percikan kekuningan yang indah di pelupuk mata
Semilir angin menyekat bongkahan kesibukan duniawi
Hening, sekejap semuanya hening

Cahaya yang selama ini menerangi mataku untuk bersemayam di sisi mereka, kini mulai memudar. Tersisa bayangan, yang juga perlahan mengikuti si empunya. Mereka bukan orang yang egois, aku percaya. Mereka semua orang baik. Mereka pergi untuk kembali, percayalah…

Ku paksa untuk bisa melambaikan tangan, tanda mengizinkan mereka pergi. Satu per satu. Menikmati rasa yang tak karuan, termasuk khawatir terhadap diriku yang ternyata hilang akan sandaran punggung. Aku tersenyum dengan yakin bahwa jarak bukanlah alasan untuk kami berhenti bersaudara…

Tersisa 5, termasuk aku. Ibu Bidadari masih selalu menemani walau dengan wujud yang berbeda. Aku mulai fokus pada peradaban baru. Semangat baru, tujuan baru, pandangan baru, pengalaman baru, dan lain yang juga serba baru menjadi alasan kami untuk terus menyempurnakan lingkaran cahaya. Kami tidak akan membiarkan lingkaran besar kemarin menjadi setengah lingkaran. Tidak. Kami akan membuat lingkaran kecil, tapi tetap utuh. Utuh.

Kadang, ada kalanya kami dituntut dewasa oleh Ibu Bidadari. Entah itu mencari “makan” sendiri. Entah itu menyelesaikan “benang kusut” sendiri. Juga, entah itu memutuskan “perjanjian” sendiri. Kata orang, bersama kita bisa. Kata orang juga, together to be better. Semua itu benar!

Hanya, ternyata tak semua orang memiliki tafsiran yang sama mengenai kebersamaan. Aku sedikit menghela napas ketika salah satu dari kami mulai murung. Mulai mencari “makan”, menyelesaikan “benang kusut”, dan memutuskan “perjanjian” dengan tangannya sendiri. Tidak lagi dengan tangan kami.

Tidak salah. Aku tau itu. Mungkin aku yang salah tafsir perkataan Ibu Bidadari. Aku yang terlalu percaya diri tentang maksud sendiri. Ku pikir sendiri di sini adalah bersama kurcaci shalihah. Namun yang ku lihat duluan dari yang lain adalah benar-benar perorangan. Setelah itu aku jadi merasa tertantang untuk menunaikan tuntutan Ibu Bidadari.

Saya harap implikasi dari makna dewasa yang aku ragu itu bukan mematahkan satu lidi dari ikatan sapu lidi, melainkan bersemangat dan selalu bergerak bersama lidi yang lain agar terus bermanfaat, sekalipun lidi itu tidak bertuan…

Bahagia itu banyak rasa. Sungguh, aku bahagia bersama kalian, sampai detik ini. Aku bersyukur telah mengenal kalian dengan perbedaan-perbedaan itu. Aku semakin yakin bahwa Allah telah menyiapkan surga sebagai tempat kita reuni yang tak bertepi…

Kesalahan kita setiap hari adalah makanan lezat kita sebagai pupuk yang akan menumbuhkan cinta di surga kecil kita. Aku mencintaimu beserta jajaran kesalahanmu…

Ada hal yang masih ingin terus aku lakukan demi surga kita kelak. Cara memperkuat persaudaraan kita yang terpisah jarak namun tetap dirasakan kehadirannya, yaitu dengan membayangkan wajah-wajah shalihah saat membaca doa rabithah dan memberi hadiah, baik berupa fisik maupun non-fisik untuk kalian.

Ukhuwah hitam pekat. Karena tak selamanya hitam itu buruk, hanya saja ia sederhana dalam kegelapan, setia oleh kebersamaan, dan sangat menghargai sebuah cahaya. Ini warnaku di penghujung tulisanku. Kenangan itu akan terus berjalan, takkan pernah ku jual.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan aktivitas remaja muslimah pada umumnya.
  • Ardy Randanan

    iya Hitam…warna hitam aku suka warna hitam karena hanya dia yang serupa dengan bayangannya sendiri dia tidak menyerupai siapa_siapa….dia tetap pada pendiriannya, dan dia wujud dari perubahan

  • Saya suka gaya tulisannya :) Berharap 6 kurcaci sholehah bersama Ibu Bidadarinya tetap istiqomah dan semakin pekat dalam hitamnya ukhuwah. Jazakillah untuk ceritanya :) Izin share yah :)

Lihat Juga

Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawwarah (gattours.com)

Menghidupkan Makna Hijrah