Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kerikil Kecil yang Berarti

Kerikil Kecil yang Berarti

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Berada di sini bukanlah kebetulan semata bukan juga karena tidak disengaja, ini sudah menjadi bagian dari skenario-Nya.

Bertemu denganmu di sini sebuah kemestian, bersama denganmu beserta dakwah ini adalah suatu keharusan, tidaklah mudah menempuh perjalanan panjang jika hanya seorang diri, jika perjalanan yang akan dilalui penuh dengan tantangan yang tidak pernah akan ada habisnya, perjalanan panjang yang tidak semua orang menghendakinya, yang tidak semua orang menyukainya, perjalanan panjang yang tidak semua orang mau berada di sana dan perjalanan panjang yang tidak semua orang diizinkan berada di sana.

Dakwah ini tidak kenal henti, dengan atau tanpa kita, dakwah ini akan terus berjalan hingga muaranya.

Dakwah ini akan terasa amat sangat berat jika dijalani seorang diri, dakwah ini akan terasa menjadi beban berat ketika dipikul sendiri… oleh karena itu kita dipertemukan disini, untuk saling menguatkan, saling mengokohkan, kita berada disini menyertai orang-orang yang lebih dulu berada disini, kita disini menjadi salah satu yang ikut serta membawa batu bata untuk bangunan dakwah ini, harusnya kita menjadikan dakwah ini menjadi semakin kuat dengan keberadaan kita disini, harusnya kita menjadi salah satu dari sedikit orang yang akan bersedih jika dakwah ini berhenti disini, sekarang, saat ini juga, mestinya kita menjadi salah satu dari sedikit orang yang akan ikut meyumbangkan tenaga, pikiran, keringat, bahkan harta dan jiwa dijalan ini tidak lain hanya untuk kemenangan dakwah ini.

Tidak inginkah kita ikut menjadi orang yang akan tersenyum bangga ketika dakwah ini Berjaya di muka bumi?

Iya…

Tepat sekali jawaban yang selalu terucap dengan ringannya dari lisan kita, namun beginilah fenomena saat ini kebanyakan kita memang sadar namun kurang menyadari, peran kita di sini, saat ini.

Ketika yang kita harapkan adalah pujian dari manusia semata, maka saat ini juga silakan menepi dan cukup jadi penonton, yang hanya bisa berkomentar saja, tanpa ia sadari betapa meruginya ia.

Betapa manisnya jika perjalanan ini dibalut dengan ukhuwah yang mantab, ukhuwah yang kokoh hingga mengakar dalam jiwa, subhanallah jika membayangkan saja sudah sangat menyejukkan, namun terkembali pada realita yang ada kita cenderung selalu menyalahkan selalu mempertanyakan ukhuwah itu sendiri?

Hallow ada apa?

Mengapa harus ukhuwah itu yang kita pertanyakan? Harusnya yang berukhuwah itu yang dipahamkan…

Ketika kita berani berukhuwah, harusnya kita sudah paham resiko yang akan dihadapi, harusnya kita mengerti konsekuensi yang akan datang menguji ukhuwah itu sendiri.

Dalam berukhuwah pahamilah bahwa saat ini kita sedang belajar, belajar banyak hal yang tidak kita dapatkan ketika kita tidak berukhuwah.

Jangan jadikan amanah sebagai alasan kita mempertanyakan ukhuwah, jangan jadikan ego kita sebagai tolak ukur keberadaan ukhuwah, jangan jadikan kelemahan dan kekurangan saudara kita sebagai alasan kita menilai ukhuwah.

Akhirnya nanti sudah mulai terlihat, akankah kita mundur saat ini?

Hidup penuh dengan pilihan,  sekarang pilihan ada di tangan kita, memilih atau tidak juga sebuah pilihan, dan yang pasti kita akan selalu dihadapkan dengan pilihan, pilihan dan pilihan, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka kita tetap harus memilih ketika kita tidak menentukan pilihan maka orang lain yang akan menentukan pilihan kita.

Wallahualam…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Hubungan Baik Dakwah Sekolah dan Kampus