Home / Berita / Internasional / Afrika / Tragedi Ibu Meninggal di Penjara, Ini Komentar Dunia Maya

Tragedi Ibu Meninggal di Penjara, Ini Komentar Dunia Maya

Hisyam Mutawalli yang baru kehilangan ibunya, dan kini terbaring di rumah sakit (egyptionpeople)
Hisyam Mutawalli yang baru kehilangan ibunya, dan kini terbaring di rumah sakit (egyptionpeople)

dakwatuna.com – Kairo. Baru saja ibu Hisyam Mutawalli dikuburkan, hari ini Jumat (15/11/2013). Seorang ibu yang mewakili pilunya kehidupan rakyat Mesir di bawah penindasan penguasa kudeta. Anaknya, Hisyam adalah seorang tahanan yang dipenjara penguasa kudeta sejak 6 Oktober yang lalu dalam sebuah demonstrasi menentang kudeta.

Beliau datang ke penjara untuk melihat anaknya, setelah sebulan lebih berpisah. Namun ternyata di tempat itulah Allah swt. memanggilnya. Seakan beliau merasa sudah dekatnya ajal tiba, sehingga ingin menghempuskan nafas terakhirnya di dekat putra kesayangannya.

Penjara Burj Arab menjadi saksi kekejaman penguasa kudeta. Bukan hanya kisah sedih meninggalnya seorang ibu saat menunggu diperbolehkan bertemu anaknya. Anaknya pun, setelah mendengar ibunya meninggal, merasa sangat terpukul. Hisyam roboh dan mengalami gangguan syaraf. Kini dia harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan serius, di saat ibunya dikuburkan.

Dunia maya pun ikut ramai mengomentari peristiwa tragis ini. Aisyah Kherat Syathir misalnya menulis dalam akun facebooknya, “Seorang ibu meninggal hari ini saat mengunjungi anaknya di penjara Burj Arab. Apakah ini hak asasi manusia yang selalu mereka koar-koarkan? Seorang ibu yang tidak tahu kenapa ia harus menerima derita seperti itu.

Seorang ibu renta yang berjuang penuh kesusahan hanya demi bertemu dengan buah hatinya. Mungkin dia merasa ajalnya telah dekat sehingga ingin menghembuskan nafas terakhirnya di dekat orang yang paling berharga baginya, di dekapan anaknya, untuk berpisah.

Sebuah perpisahan yang sangat memilukan. Bagi ibu, bagi anaknya, dan semua orang yang menyaksikan peristiwa tersebut. Bahkan bagi anaknya, melepas kepergian terakhirpun tidak bisa.”

Haitsam Abu Khalil, direktur pusat hak asasi manusia “Dhahaya” mengomentari peristiwa tersebut hanya dengan menulis, “Hasbunallahu wa Ni’mal Wakil.” Mengadukan semua kekejaman kudeta itu kepada Allah swt.

Sedangkan Musthafa Nubi menulis, “Ibunya sekarang terbaring di kuburnya, sedangkan anaknya terbaring di rumah sakit. Bisakah kisah ini menggerakkan hati orang-orang yang biasa fasih melagukan hak asasi manusia?” (msa/dakwatuna/rassd)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 9,31 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

Ilustrasi. (Foto: wordpress.com)

Bercermin Pada Hajar: Sudahkah Kita Menaklukkan Ego Kita?

Organization