Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Para Penakluk Kemustahilan

Para Penakluk Kemustahilan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comBerhadapan dengan kemustahilan? Antara pilihan menyerah, atau nekad untuk sekadar tidak dikatakan sebagai pengecut, meski keduanya sama-sama berakhir dengan kebinasaan.

Di antara benteng kemustahilan yang tegak kukuh, hanya sedikit orang yang mampu membuka celah sempit untuk menembusnya. Mereka inilah nama-nama yang ditakdirkan Allah tertulis di dalam sejarah peradaban umat manusia.

Kekuatan adi daya sebesar apapun bukanlah Tuhan, keruntuhannya bisa berawal dari seorang yang hanya berbekal suatu ide. Banyak ide brilian yang muncul tatkala berhadapan dengan kesulitan yang tampaknya tak mungkin dipecahkan atau menyiasati kekuatan yang tak seimbang. Mari kita tengok sedikit dari mereka.

1. Umpan dan Jebakan

Untuk sebuah kemenangan besar, kadang diperlukan suatu pengorbanan yang tepat. Umpan bisa menjadi sebuah strategi membuat lawan terpedaya.

Sebuah pelajaran dari Bukit Uhud, tatkala kemenangan telah di depan mata, keadaan menjadi berbalik karena banyak pasukan meninggalkan posisi mereka tergiur oleh harta yang ditinggalkan musuh.

Saat Napoleon menjadi kekuatan yang tak tertandingi, bahkan tengah mengerahkan kekuatan besarnya untuk menaklukkan Rusia dengan 650.000 pasukan, sangat berat untuk dihadapi sebagaimana perang biasa. Dengan strategi  membiarkan  pasukan Napoleon memasuki Moskow namun dalam keadaan kota itu di bumi hanguskan dan kosong, tanpa ada makanan, maka besarnya pasukan Napoleon menjadi bumerang bagi mereka, akhirnya luluh lantak berhadapan dengan dingin dan kelaparan.

Strategi ini sebelumnya dipakai jenderal Vietnam, Tran Hung Dao ketika menghadapi serbuan Mongol pada invasi tahun 1285. Pasukan Mongol memasuki ibukota dalam keadaan telah di bumi hanguskan, tanpa ada makanan dan tempat berteduh. Sepanjang yang mereka temui hanyalah kampung dan sawah yang telah dibakar, juga ditambah berhadapan dengan ganasnya belantara tropis Vietnam. Dalam keadaan lemah, lebih mudah untuk menghadapi musuh.

2. Memanfaatkan Kelemahan dan Kelengahan Musuh

Betapa pun kekuatan musuh, pasti ada sisi-sisi kelemahan yang bisa dimanfaatkan untuk melemahkannya. Juga pasti ada hal-hal yang bisa membuatnya lengah, untuk menurunkan kewaspadaannya.

Tak mungkin bagi seorang Raden Wijaya menghadapi serbuan pasukan Mongol. Malah ia ikut bersama pasukan Mongol menaklukkan negerinya. Dan ketika pasukan Mongol meraih kemenangan dengan mudah, mereka merasa tugasnya telah selesai. Momen itulah yang dimanfaatkan Raden Wijaya untuk berbalik menyerang secara tiba-tiba, saat mereka lengah.

Besarnya kekuatan bisa jadi membuat hilang kewaspadaan, seperti yang terjadi di Hunain. Jika sebelumnya Kaum Muslimin selalu berada pada posisi sulit melawan kekuatan yang lebih besar, kali ini mereka menuju Hunain dengan perasaan terkagum-kagum atas banyaknya jumlah mereka. Namun semua itu tidak berguna sedikit pun ketika serangan mendadak membuat mereka tercerai berai, hingga Allah menurunkan pertolongan-Nya.

3. Cerdik dan Licik

Terkadang sulit untuk menentukan batas-batas antara cerdik dan licik, sekaligus menjadi tantangan bagi para pembela kebenaran ketika berhadapan dengan pihak yang menghalalkan segala cara.

Seperti apa yang terjadi pada perang Shiffin, kepolosan Abu Musa Al Asy’ary ketika berhadapan dengan kepiawaian Amr bin Ash menyebabkan kemenangan di depan mata pihak Ali menjadi perpecahan yang melemahkan.

Sedang di Troya, penyusup berhasil membuka benteng yang terlalu kukuh untuk ditembus dari luar.

Juga tentang ketulusan, Shalahuddin Al Ayubi membantu pengobatan musuh besarnya, Richard The Lion Heart, dan tindakan ini mempermudah jalan kemenangannya.

4. Kearifan Lokal

Menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar, pemanfaatan kondisi alam yang ekstrim bisa menjadi penyeimbangnya. Pengetahuan tentang medan sulit, cuaca, angin, ombak dan pasang membantu menghadapi kekuatan yang tak seimbang.

Di Ain Jalut, hanya sebagian kecil pasukan dimunculkan menghadapi Tatar, yang sebenarnya hanya untuk menjebak mereka pada suatu lembah sempit, setelah itu baru kekuatan penuh dikerahkan.

Pada invasi Mongol ke Vietnam ketiga, kapal-kapal besar Mongol terpancing masuk ke perairan dangkal yang telah penuh dengan jebakan, dan ketika air surut kapal-kapal besar itu telah terjebak dan begitu mudah dibakar.

Menghadapi kekuatan asing yang lebih besar, kekuatan kecil yang lebih menguasai medan bisa mencari taktik yang efektif, taktik gerilya, pukul dan lari, memutus suplai makanan dan sebagainya.

5. Permainan Belakang

Kepiawaian dalam memainkan spionase, penyusupan dan pengkhianatan bisa menyederhanakan suatu kemenangan. Kekuatan besar yang telah terbangun bisa menjadi tak berarti sama sekali, yaitu tentang membaca, menguasai dan mengendalikan lawan.

Malam sebelum Perang 1967, para perwira militer Mesir dijamu habis-habisan hingga mabuk. Hingga serangan meluluh lantakkan mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka dalam keadaan tidak mengerti apa yang terjadi.

6. Penguasaan Teknologi dan Penemuan Baru

Baru sedikit rahasia alam semesta yang terungkap oleh umat manusia. Dari yang sedikit itu, berbagai penemuan telah menjadi sarana untuk menguasai puncak-puncak peradaban manusia.

Serangan terhadap Konstantinopel selalu mengalami kegagalan. Kota itu memiliki senjata rahasia yang hanya dikeluarkan dalam keadaan terdesak, semburan api yang menyala di permukaan air laut, membakar setiap kapal yang hendak menyerang. Keberadaan senjata ini hilang dalam huru-hara dengan Romawi Barat semasa Perang Salib, dan beberapa abad kemudian kota ini bisa ditaklukkan.

Sebuah ide yang tak masuk akal ketika pasukan Muhammad Al Fatih menjalankan kapal-kapal mereka melalui daratan menggunakan balok, untuk menuju titik lemah pertahanan Konstantinopel. Sesuatu yang tak pernah diperhitungkan oleh lawan.

Pada pertempuran Ain Jalut, pasukan Qutuz membunyikan meriam untuk menakut-nakuti kuda pasukan Tatar. Selain itu juga menggunakan membunyikan gendang dengan irama tertentu yang hanya dimengerti oleh pasukannya untuk memandu pergerakan pasukan.

Seorang Jalut yang perkasa kalah oleh Daud kecil, di mana ia dikaruniai kelebihan dengan kemahiran menggunakan ketapelnya.

Penggunaan bom atom pada Perang Dunia kedua mengakhiri perang tersebut dengan lebih sedikit waktu, biaya dan korban jiwa yang menjadi korban.

Sebuah penemuan mekanisme yang mampu menghentikan seluruh aktivitas mesin pada masa Mussolini mungkin akan merubah arah sejarah dunia, namun sang penemu memilih bunuh diri daripada penemuannya dimanfaatkan oleh Sang Diktator. Memang kebenaran dan keberadaannya masih menjadi misteri, tapi memberikan sebuah pelajaran berharga tentang menjaga keberlangsungan sebuah ide di antara takdir Allah.

Betapapun hebatnya suatu ide, ia tetap membutuhkan orang-orang yang memiliki keberanian dan mau berkorban untuk mewujudkan ide tersebut. Ide manusia tikus Vietcong mengorbankan 3 juta manusia untuk terwujudnya sebuah kemenangan. Pengorbanan dan kesabaran yang tak habis hingga sebuah cita terwujud dengan sempurna, yang terkadang teramat panjang dan berliku.

Betapapun kemustahilan yang dihadapi, pasti ada sisi-sisi kelemahan yang semestinya membuat orang-orang yang memiliki jiwa penakluk tak begitu saja berputus asa menghadapinya, menyerah begitu saja, tak tahu apa yang harus dikerjakan, atau sekadar menghadapi dengan keberanian yang buta. Bukankah prestasi yang membanggakan lahir dari kemampuan untuk memecahkan kesulitan yang pelik? Betapa banyak pasukan kecil yang mengalahkan pasukan besar dengan izin Allah?

Dan kini di antara babak baru pertarungan opini, segala sesuatunya menjadi amat cair, hingga saat-saat yang menentukan sebuah kemenangan dihadapi dengan keletihan dan keinginan untuk istirahat. Kemenangan yang tinggal selangkah menjadi pupus, kuda-kuda hitam bermain cantik hingga keadaan berbalik pada saat-saat akhir. Menjadi suatu tantangan di era baru ini untuk mentransformasikan berbagai taktik dan strategi dari pertarungan fisik ke pertarungan pemikiran.

Silih berganti berbagai peradaban besar menghiasi sejarah peradaban manusia. Kejayaan mereka tidak serta merta menjadikan mereka kekal. Berbagai ibrah yang tersisa dari kisah dan sisa-sisa keruntuhan mereka.

Di antara kemenangan dan kekalahan yang dipergilirkan silih berganti, kemenangan sejati para pembela kebenaran adalah keteguhan untuk senantiasa berpegang dengannya, sekalipun posisi yang sedang dijalaninya sedang menempati takdir kekalahan. Apapun yang diperoleh, nilai keteguhan dan kesabaran menentukan seberapa besar kemenangan di akhirat kelak.

Harap diketahui segenap para musuh pembela kebenaran, cita yang ingin diraih bukanlah menundukkan manusia-manusia lain atau menegakkan hegemoni segolongan manusia atas manusia lain, namun sebuah cita yang tulus untuk bersama-sama mewujudkan kesempurnaan hidup dalam penghambaan kepada Sang Pencipta, untuk kedamaian hidup di dunia dan kebahagiaan hakiki di akhirat.

Termasuk peradaban yang kini menguasai dunia ini, yang mengerahkan segenap sarana untuk melanggengkan eksistensi mereka, ketika harus berhadapan dengan sunnatullah. Dengan kemampuan nuklir mereka, apakah mereka bisa menjamin bahwa tidak akan ada mekanisme yang membuat teknologi nuklir yang mereka miliki tak berfungsi?

Dan tentang kita, di antara pertempuran ini apakah akan menjadi salah satu dari pilar-pilar penyangga kebangkitan Islam, menjadi debu di jalan Allah, atau sekadar menjadi penonton.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,18 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Ilustrasi. (modifikasi dari foto di: win4000.com)

Dakwah Kampus Sebagai Titik Tolak Kebangkitan Islam di Indonesia