Home / Dasar-Dasar Islam / Fiqih Islam / Fiqih Ahkam / Kemuliaan Para Sahabat Nabi dan Hukum Mencela Mereka (Bagian ke-3)

Kemuliaan Para Sahabat Nabi dan Hukum Mencela Mereka (Bagian ke-3)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

Pujian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam Kepada Para Sahabat Secara Personal

dakwatuna.com Ingin sekali saya memaparkan berbagai keutamaan personal para sahabat, namun karena keterbatasan waktu dan ruang, saya hanya paparkan keutamaan para sahabat yang diserang oleh kaum Syi’ah, yakni Abu Bakar, Umar, Utsman, ‘Aisyah, Abdurrahman bin ‘Auf, dan Mu’awiyah. Ini pun hanya sebagian nama-nama saja, sebenarnya lebih banyak lagi para sahabat yang dicela oleh kaum Syi’ah.

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

وَاتَّفَقَ أَهْل السُّنَّة عَلَى أَنَّ أَفْضَلهمْ أَبُو بَكْر ، ثُمَّ عُمَر . قَالَ جُمْهُورهمْ: ثُمَّ عُثْمَان ، ثُمَّ عَلِيّ . وَقَالَ بَعْض أَهْل السُّنَّة مِنْ أَهْل الْكُوفَة بِتَقْدِيمِ عَلِيّ عَلَى عُثْمَان ، وَالصَّحِيح الْمَشْهُور تَقْدِيم عُثْمَان . قَالَ أَبُو مَنْصُور الْبَغْدَادِيّ: أَصْحَابنَا مُجْمِعُونَ عَلَى أَنَّ أَفْضَلهمْ الْخُلَفَاء الْأَرْبَعَة عَلَى التَّرْتِيب الْمَذْكُورَة ثُمَّ تَمَام الْعَشَرَة ، ثُمَّ أَهْل بَدْر ، ثُمَّ أُحُد ، ثُمَّ بَيْعَة الرِّضْوَان ، وَمِمَّنْ لَهُ مَزِيَّة أَهْل الْعَقَبَتَيْنِ مِنْ الْأَنْصَار ، وَكَذَلِكَ السَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ ، وَهُمْ مَنْ صَلَّى إِلَى الْقِبْلَتَيْنِ فِي قَوْل اِبْن الْمُسَيِّب وَطَائِفَة ، وَفِي قَوْل الشَّعْبِيّ أَهْل بَيْعَة الرِّضْوَان ، وَفِي قَوْل عَطَاء وَمُحَمَّد بْن كَعْب أَهْل بَدْر

“Ahlus Sunnah telah sepakat bahwa sahabat yang paling utama adalah Abu Bakar, kemudian Umar. Lalu mayoritas mengatakan: Utsman, kemudian Ali. Sebagian Ahlus Sunnah mengatakan dari Penduduk Kufah lebih mengutamakan Ali dibanding Utsman, yang shahih adalah mengutamakan Utsman. Abu Manshur Al Baghdadi berkata: ‘Sahabat-sahabat kami telah ijma’ bahwa para sahabat yang paling utama adalah khalifah yang empat sesuai urutan yang telah disebutkan, kemudian sepuluh orang (yang dijamin masuk surga), kemudian Ahli Badr, kemudian Uhud, kemudian Bai’atur Ridhwan, dan orang-orang mulia yang ikut serta dalam dua kali Bai’at ‘Aqabah dari kalangan Anshar, demikian juga as sabiqunal awwalun, mereka adalah orang yang pernah mengenyam dua buah kiblat menurut Said bin Al Musayyib, dan menurut Asy Sya’bi mereka adalah pengikut Bai’atur Ridhwan, ada pun menurut Atha’, Muhammad bin Ka’ab, mereka adalah Ahli Badr. (Syarh Shahih Muslim, Muqadimah Bab Fadhailush Shahabah, Mausu’ah Syuruh Al Hadits)

Tentang urutan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, memiliki dasar shahih sebagai berikut:

Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhu, berkata:

كُنَّا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا نَعْدِلُ بِأَبِي بَكْرٍ أَحَدًا ثُمَّ عُمَرَ ثُمَّ عُثْمَانَ ثُمَّ نَتْرُكُ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا نُفَاضِلُ بَيْنَهُمْ

“Dahulu kami pada zaman Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidaklah membandingkan Abu Bakar dengan siapa pun, kemudian Umar, kemudian Utsman, barulah kami membiarkan sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kami tidak mengutamakan satu sama lain di antara mereka.” (HR. Bukhari No. 3455, 3494)

Keutamaan Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ وَلَكِنْ أَخِي وَصَاحِبِي

“Seandainya saya mengambil kekasih dari kalangan umatku, maka aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasihku, tetapi dia adalah saudaraku dan sahabatku.” (HR. Bukhari No. 3456)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. At Taubah (9): 40)

Imam Bukhari meriwayatkan tentang ayat ini:

قالت عائشة وأبو سعيد وابن عباس رضي الله عنهم: وكان أبو بكر مع النبي صلى الله عليه وسلم في الغار

Berkata ‘Aisyah, Abu Said, dan Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhum: adalah Abu Bakar bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam gua. (HR. Bukhari No. 3692)

Ini juga diceritakan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq sendiri, katanya:

قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، وَأَنَا فِي الْغَارِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ تَحْتَ قَدَمَيْهِ لأَبْصَرَنَا فَقَالَ: مَا ظَنُّكَ، يَا أَبَا بَكْرٍ بِاثْنَيْنِ اللهُ ثَالِثُهُمَا

“Aku berkata kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan saat itu aku sedang di gua: ‘Seandainya salah seorang mereka melihat ke bawah kakinya niscaya kita akan terlihat.” Rasulullah bersabda: “Tidakkah engkau kira wahai Abu Bakar dengan dua orang, Allah-lah yang ketiganya.” (HR. Bukhari No. 3453, 4386, 3707)

Gelar Ash Shiddiq adalah pemberian Allah ‘Azza wa Jalla kepadanya, setelah peristiwa Isra’ Mi’raj. Abu Yahya berkata, aku mendengar Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu bersumpah:

أن الله أنزل اسم أبي بكر من السماء الصديق

“Sesungguhnya Allah menurunkan nama dari langit bagi Abu Bakar dengan Ash Shiddiq.” (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, No. 14. Ibnu Abi ‘Ashim, Al Ahad wal Matsani, No. 6, Abu Nu’aim, Ma’rifatu Ash Shahabah, No. 56)

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar: rijalnya tsiqat (kredibel) (Fathul Bari, 7/9. Darul Fikr. Lihat juga Tuhfah Al Ahwadzi, 10/138. Al Maktabah As Salafiyah) begitu juga kata Imam Al Haitsami (Majma’ Az Zawaid, 9/41. Darul Kutub Al ‘Ilmiah) sedangkan Imam As Suyuthi mengatakan jayyid shahih (Tarikhul Khulafa’, Hal. 11)

Ucapan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu ini menjadi penegas dustanya kaum Syi’ah. Abu Bakar yang mereka sebut dengan ‘Fir’aun’ justru Ali telah membelanya.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أما إنك يا أبا بكر أول من يدخل الجنة من أمتي

“Ada pun engkau wahai Abu Bakar, adalah orang pertama dari umatku yang akan masuk surga.” (HR. Abu Daud, No. 4652. Ath Thabrani, Al Mu’jam Al Kabir, No. 538. Dishahihkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 4444, katanya shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, disepakati keshahihannya oleh Imam Adz Dzahabi. Lalu Tarikhul Khulafa’ Hal. 20. Tetapi Syaikh Al Albani mendhaifkan dalam berbagai kitabnya, seperti As Silsilah Adh Dhaifah, Al Misykah Al Mashabih, dll)

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah ridha bahwa Abu Bakar adalah penggantinya. Diriwayatkan oleh Jubeir bin Mut’im, dari ayahnya:

أَتَتْ امْرَأَةٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَهَا أَنْ تَرْجِعَ إِلَيْهِ قَالَتْ أَرَأَيْتَ إِنْ جِئْتُ وَلَمْ أَجِدْكَ كَأَنَّهَا تَقُولُ الْمَوْتَ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ لَمْ تَجِدِينِي فَأْتِي أَبَا بَكْرٍ

“Datang seorang wanita kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka nabi memerintahkannya untuk kembali lagi kepadanya. Wanita itu berkata: ‘Apa pendapatmu jika aku datang tetapi tidak berjumpa lagi denganmu?’ Seakan wanita itu mengatakan: Sudah wafat. Beliau bersabda: ‘Jika engkau tidak menemui aku, maka datanglah kepada Abu Bakar.” (HR. Bukhari No. 3459, 6927, 6794. Muslim No.2386. At Tirmidzi No. 3758)

Imam As Suyuthi telah menulis demikian:

وفي حديث ابن زمعة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمرهم بالصلاة وكان أبو بكر غائباً فتقدم عمر فصلى فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” لا لا لا يأبى الله والمسلمون إلا أبا بكر. يصلي بالناس أبو بكر ” . وفي حديث ابن عمر ” كبر عمر فسمع رسول الله صلى الله عليه وسلم تكبير فأطلع رأسه مغضباً فقال أين ابن أبي قحافة ” .

قال العلماء: في هذا الحديث أوضح دلالة على أن الصديق أفضل الصحابة على الإطلاق وأحقهم بالخلافة وأولاهم بالإمامة

“Dalam hadits Ibnu Zam’ah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan mereka shalat berjamaah dan saat itu Abu Bakar sedang tidak ada, maka majulah Umar ke depan untuk jadi imam, Nabi bersabda: “Tidak, tidak, tidak, Allah dan kaum muslimin akan menolak kecuali Abu Bakar, maka Abu Bakar pun shalat (jadi Imam) bersama manusia.”

Dalam riwayat Ibnu Umar: “Umar bin Al Khathab takbir (memimpin shalat berjamaah), maka Rasulullah mendengar takbirnya Umar, lalu dia menolehkan kepalanya sambil marah dan berkata: “Di mana Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar)?”

Berkata para ulama: “Ini merupakan dalil yang jelas bahwa Abu Bakar merupakan sahabat paling utama secara mutlak, yang berhak dengan khilafah, dan paling utama dalam imamah.” (Tarikhul Khulafa’ Hal. 24)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam bersabda kepada Abu Bakar:

أنت صاحبي على الحوض، وصاحبي في الغار

“Engkau adalah sahabatku di haudh (telaga) dan sahabatku di gua.” (HR. At Tirmidzi No. 3752, katanya: hasan shahih gharib. Alauddin Al Muttaqi A l Hindi, Kanzul ‘Ummal, No. 32559. Al Fadhl Sayyid Abul Ma’athi An Nuri, Al Musnad Al Jami’ No. 8183. Syaikh Al Albani juga mendhaifkannya.)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam bersabda kepada Abu Bakar:

 مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapakah di antara kalian yang berpuasa pagi ini?”, Abu Bakar menjawab: “Saya.” Beliau bersabda lagi: “Siapa di antara kalian yang ikut mengiringi jenazah hari ini?”, Abu Bakar menjawab: “Saya.” Beliau bersabda lagi: “Siapa di antara kalian yang memberi makan orang miskin hari ini?”, Abu Bakar menjawab: “Saya.” Beliau bersabda lagi: “Siapa di antara kalian yang sudah menjenguk orang sakit hari ini?”, Abu Bakar menjawab: “Saya.” Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidaklah semuanya terkumpul pada seseorang melainkan dia akan masuk surga.” (HR. Muslim No. 1028)

Keutamaan Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam bersabda:

لَقَدْ كَانَ فِيمَا قَبْلَكُمْ مِنْ الْأُمَمِ مُحَدَّثُونَ فَإِنْ يَكُن فِي أُمَّتِي أَحَدٌ فَإِنَّهُ عُمَرُ

“Telah ada pada zaman sebelum kalian umat manusia yang muhaddatsun, jika ada umatku yang seperti itu, maka Umar-lah orangnya.” (HR. Bukhari No. 3486. At Tirmidzi No. 3776)

Imam An Nawawi menyebutkan, bahwa Muhaddatsun menurut Ibnu Wahab adalah orang yang mendapatkan ilham. Ulama lain: yang zhan (prasangka)nya benar. Ulama lain: diajak bicara oleh malaikat. Imam Bukhari: orang yang selalu berbicara benar, dan merupakan kepastian karamah bagi para wali. (Syarh Shahih Muslim, No. 4411. Mausu’ah Syuruh Al Hadits)

Dari Buraidah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَخَافُ مِنْكَ يَا عُمَرُ

“Sesungguhnya setan benar-benar takut kepadamu wahai Umar.” (HR. At Tirmidzi No. 3773, katanya: hasan shahih gharib)

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِيهًا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا قَطُّ إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ

“Wahai Ibnul Khathab, demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah setan bertemu denganmu di sebuah jalan sedikit pun, melainkan dia akan menempuh jalan lain selain jalanmu.” (HR. Bukhari No. 3120, 3480. Muslim No. 2396)

Berkata Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu:

ما زلنا أعزة منذ أسلم عمر.

“Kami senantiasa memiliki ‘izzah semenjak keislaman Umar.” (HR. Bukhari No. 3481)

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu:

أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه وسلم عن الساعة، فقال: متى الساعة؟ قال: (وماذا أعددت لها). قال: لا شيء، إلا أني أحب الله ورسوله صلى الله عليه وسلم، فقال: (أنت مع من أحببت). قال أنس: فما فرحنا بشيء فرحنا بقول النبي صلى الله عليه وسلم: (أنت مع من أحببت). قال أنس: فأنا أحب النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر، وأرجو أن أكون معهم بحبي إياهم، وإن لم أعمل بمثل أعمالهم.

“Bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kiamat, dia bertanya: “Kapankah kiamat?” Beliau bersabda: “Apa yang kau telah persiapkan?” Laki-laki itu menjawab: “Tidak ada, kecuali aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Maka Nabi bersabda: “Engkau akan hidup bersama orang yang engkau cintai.” Anas berkata: “Tidaklah ada kebahagiaanku terhadap sesuatu seperti kebahagiaanku dengan ucapan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Engkau akan hidup bersama orang yang engkau cintai.” Berkata Anas: “Saya mencintai Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar, aku berharap bisa bersama mereka dengan kehidupan seperti mereka, walau pun amalku tidaklah sebanding dengan amal mereka.” (HR. Bukhari No. 3485, 5815, 5819, 6734)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan kebenaran atas lisan dan hati Umar.” (HR. At Tirmidzi No. 3765, katanya: hasan shahih gharib. Imam Al Hakim menshahihkan, Al Mutadrak No. 4476)

Dari ‘Uqbah bin Amir, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لو كان نبي بعدي لكان عمر بن الخطاب

“Seandainya ada nabi setelah aku, maka Umar bin Al Khathab orangnya.” (HR. At Tirmidzi No. 3769, katanya: hasan gharib. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 4495, katanya: shahih. Disepakati oleh Adz Dzahabi. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, No. 13911. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah No. 327)

Dalam beberapa riwayat nama Abu Bakar dan Umar senantiasa digandengkan, di antaranya:

Dari Hudzaifah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ

“Ikutilah oleh kalian dua orang setelahku, Abu Bakar dan Umar.” (HR. At Tirmidzi No. 3742, katanya: hasan. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah No. 97. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan hadits ini didhaifkan oleh Al Bazzar dan Ibnu Hazm, lantaran Abdul Malik pelayan Rib’iy adalah seorang yang majhul (tidak dikenal). Al Hakim telah meriwayatkan pula penguatnya dari jalur Ibnu Mas’ud, namun sanadnya terdapat Yahya bin Salamah bin Kuhail seorang yang dhaif. Lihat Talkhish Al Habir, No. 2592. Namun menurut Imam Al Munawi hadits ini bisa dikuatkan oleh riwayat dari Ibnu Mas’ud tersebut, lihat Faidhul Qadir No. 1318-1319. Syaikh Al Albani pun menshahihkan riwayat dari Ibnu Mas’ud. Lihat Shahihul Jami’ No. 1144)

Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri mengatakan, bahwa hadits ini menunjukkan bagusnya perjalanan hidup mereka berdua dan isyarat terhadap urusan kekhilafahan mereka berdua, sebagaimana dikatakan oleh Al Munawi. (Tuhfah Al Ahwadzi, 10/147. Al Maktabah As Salafiyah)

Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا لَهُ وَزِيرَانِ مِنْ أَهْلِ السَّمَاءِ وَوَزِيرَانِ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ فَأَمَّا وَزِيرَايَ مِنْ أَهْلِ السَّمَاءِ فَجِبْرِيلُ وَمِيكَائِيلُ وَأَمَّا وَزِيرَايَ مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ فَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ

“Tidaklah seorang nabi melainkan dia memiliki dua asisten dari penduduk langit, dan dua asisten dari penduduk dunia. Ada pun asistenku dari penduduk langit adalah Jibril dan Mikail, sedangkan asistenku dari penduduk dunia adalah Abu Bakar dan Umar.” (HR. At Tirmidzi No. 3761, katanya: hasan gharib. Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri mengatakan hadits ini juga dikeluarkan oleh Al Hakim, dia menshahihkannya. Lihat Tuhfah Al Ahwadzi, 10/166)

Keutamaan Utsman bin ‘Affan Radhiallahu ‘Anhu

Dari Abu Amr, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ جَهَّزَ جَيْشَ الْعُسْرَةِ فَلَهُ الْجَنَّةُ فَجَهَّزَهُ عُثْمَانُ

“Barangsiapa yang membantu persiapan Jaisyul ‘Usrah, maka baginya surga.” Maka Utsman memberikan bantuan. (HR. Bukhari No. 2626)

‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata:

دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ فَجَلَسْتَ وَسَوَّيْتَ ثِيَابَكَ فَقَالَ أَلَا أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ

“Abu Bakar masuk kau tidak rapi-rapi untuknya dan tidak peduli. Kemudian Umar masuk kau tidak rapi-rapi untuknya dan tidak peduli. Kemudian masuk Utsman, kau duduk dan merapikan pakaianmu.” Maka Rasulullah bersabda: “Apakah aku tidak malu kepada laki-laki yang malaikat saja malu kepadanya?” (HR. Muslim No. 2401)

Keutamaan Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu

Dari Abu Al Hasan Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أنت مني وأنا منك

“Engkau adalah bagian dariku, dan Aku pun bagian darimu.” (HR. Bukhari No. 4005)

Umar bin Al Khathab mengatakan ketika Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggal, beliau dalam keadaan ridha terhadap Ali bin Abi Thalib Radhialllahu ‘Anhu. (HR. Bukhari No. 3497)

Dari Saad bin Abi Waqqash Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Ali:

أنت مني بمنزلة هارون من موسى. إلا أنه لا نبي بعدي

“Kedudukanmu terhadapku, sama halnya kedudukan Harun terhadap Musa, hanya saja tidak ada lagi Nabi setelah aku.” (HR. Muslim No. 2404)

Keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu ‘Anhu

Berkata Ibnu Abi Malikah:

أَوْتَرَ مُعَاوِيَةُ بَعْدَ الْعِشَاءِ بِرَكْعَةٍ وَعِنْدَهُ مَوْلًى لِابْنِ عَبَّاسٍ فَأَتَى ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ دَعْهُ فَإِنَّهُ قَدْ صَحِبَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Mu’awaiyah shalat witir dengan satu rakaat setelah ‘Isya, dan di sisinya ada pelayan, lalu pelayan itu mendatangi Ibnu Abbas, berkatalah Ibnu Abbas: Biarkanlah dia, dia adalah sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Bukhari No. 3553)

Dari Ibnu Abi Malikah, dia berkata:

قيل لابن عباس: هل لك في أمير المؤمنين معاوية، فإنه ما أوتر إلا بواحدة؟ قال: أصاب، إنه فقيه.

Ditanyakan kepada Ibnu Abbas: apakah engkau tahu tentang amirul mu’minin Mu’awiyah, bahwa dia tidaklah witir kecuali satu rakaat?, Ibnu Abbas berkata: “Dia benar, dia itu seorang faqih (paham agama).” (HR. Bukhari No. 3554)

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar:

وَقَوْله: ” دَعْهُ ” أَيْ اُتْرُكْ الْقَوْل فِيهِ وَالْإِنْكَار عَلَيْهِ ” فَإِنَّهُ قَدْ صَحَّتْ ” أَيْ فَلَمْ يَفْعَل شَيْئًا إِلَّا بِمُسْتَنَدٍ

Ucapan Ibnu Abbas (tinggalkan dia) artinya biarkan dia. Ucapan ini di dalamnya terdapat pengingkaran atas pelayan tersebut, sesungguhnya Mu’awiyah telah benar, artinya tidaklah dia melakukan sesuatu melainkan memiliki sandaran. (Fathul Bari, 7/104)

Keutamaan ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha

‘Aisyah berkata, “Suatu hari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadaku:

يا عائش، هذا جبريل يقرئك السلام). فقلت: وعليه السلام ورحمة الله وبركاته، ترى ما لا أرى. تريد رسول الله صلى الله عليه وسلم.

“Wahai ‘Aisyah, ini Jibril kirim salam buatmu.” Aku menjawab: “’Alaihissalam wa Rahmatullah wa Barakatuh, kau melihat apa yang aku tidak lihat.” Yang dimaksud adalah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. (HR. Bukhari No. 3557, 3045)

Berkata Abu Musa Al Asy’ari, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ

“Keutamaan ‘Aisyah dibanding para wanita adalah seperti keutamaan At Tsarid di atas semua makanan.” (HR. Bukhari No. 3230, 3558)

Ats Tsarid adalah roti yang dibubuhi daging, dan makanan paling bergengsi saat itu.

Dari ‘Amr bin Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أي الناس أحب إليك؟ قال: (عائشة). فقلت: من الرجال؟ فقال: (أبوها). قلت: ثم من؟ قال: (عمر بن الخطاب).

“Siapakah manusia yang paling kau cintai?” Nabi menjawab: “‘Aisyah.” Aku berkata: “Dari kaum laki-laki?” beliau menjawab; “Ayahnya.” Aku bertanya: “lalu siapa?” Beliau menjawab: “Umar bin Al Khathab.” (HR. Bukhari No. 3462)

Diceritakan bahwa Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

هذه زوجتك في الدنيا والآخرة

“Ini adalah istrimu di dunia dan akhirat.” (HR. At Tirmidzi No. 3880, katanya: hasan gharib. Ibnu Hibban No. 7094, Musnad Ishaq No. 1237. Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. Misykah Al Mashabih No. 6182)

Demikianlah. Pandangan Al Quran dan As Sunnah terhadap ara sahabat secara global dan khusus. Tentunya Al Quran dan As Sunnah yang kita ikuti, bukan mulut-mulut kotor kaum rafidhah. Sebenarnya masih sangat banyak, namun ini sudah cukup mewakili sikap Ahlus Sunnah terhadap para sahabat nabi, yakni menyikapi mereka sebagaimana Allah dan Rasul-Nya bersikap.

— Bersambung…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Farid Nu'man Hasan
Lahir di Jakarta, Juni 1978. Alumni S1 Sastra Arab UI Depok (1996 - 2000). Pengajar di Bimbingan Konsultasi Belajar Nurul Fikri sejak tahun 1999, dan seorang muballigh. Juga pengisi majelis ta'lim di beberapa masjid, dan perkantoran. Pernah juga tugas dakwah di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, selama dua tahun. Tinggal di Depok, Jawa Barat.

Lihat Juga

Sahabat Akhirat