Home / Dasar-Dasar Islam / Fiqih Islam / Fiqih Ahkam / Kemuliaan Para Sahabat Nabi dan Hukum Mencela Mereka (Bagian ke-2)

Kemuliaan Para Sahabat Nabi dan Hukum Mencela Mereka (Bagian ke-2)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

Pujian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam Terhadap Para Sahabat secara Global

dakwatuna.com Pertama. Hadits ‘Sebaik-baiknya manusia adalah zamanku …’

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah zamanku, dan kemudian setelahnya, dan kemudian setelahnya.” (HR. Bukhari No. 2509, 3451, 6065, 6282. Muslim No. 2533. At Tirmidzi No. 2320, dari Imran bin Al Hushain)

Manusia zaman nabi tentunya adalah para sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Imam An Nawawi Rahimahullah menerangkan:

الصحيح أن قرنه صلى الله عليه وسلم والصحابة، والثاني التابعون، والثالث تابعوهم

“Yang benar adalah bahwa manusia terbaik adalah zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabat, kedua tabi’in, ketiga adalah orang-orang yang mengikuti mereka.” (Syarh Shahih Muslim, Bab Fadhlush Shahabah, No. 4603. Mausu’ah Syuruh Al Hadits)

Berkata Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri:

قوله: “خير الناس قرني” أي أهل قرني. قال الحافظ والمراد بقرن النبي صلى الله عليه وسلم في هذا الحديث الصحابة

“Sabdanya: Sebaik-baik manusia adalah zamanku, yaitu yang hidup pada zamanku. Berkata Al Hafizh (Ibnu Hajar), yang dimaksud pada zaman Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits ini adalah sahabat nabi.” (Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 6/469. Al Maktabah As Salafiyah. Madinah Al Munawarah)

Kedua. Hadits ‘Jangan cela para sahabatku …’

Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Jangan kalian cela para sahabatku, seandainya salah seorang kalian menginfakkan emas sebesar Uhud itu tidak akan bisa menyamai satu mud-nya mereka bahkan setengahnya.” (HR. Bukhari No. 3470. Muslim No. 2540. At Tirmidzi No. 3952)

Imam Al Baidhawi mengatakan:

مَعْنَى الْحَدِيث لَا يَنَال أَحَدكُمْ بِإِنْفَاقِ مِثْل أُحُد ذَهَبًا مِنْ الْفَضْل وَالْأَجْر مَا يَنَال أَحَدهمْ بِإِنْفَاقِ مُدّ طَعَام أَوْ نَصِيفه

“Makna hadits adalah tidaklah infakkan kalian walau emas sebesar gunung Uhud mampu menyamai keutamaan dan pahala yang sudah diraih oleh salah seorang mereka (para sahabat) yang sebesar satu mud makanan atau setengahnya saja.” (Al Hafizh Ibnu Hajar, Fathul Bari, 7/34. Darul Fikr)

Demikian keras larangan mencela para sahabat nabi, namun kaum Syi’ah mencela mereka, dan hal itu sama juga telah mencela orang-orang yang dicintainya.

Ketiga. Keutamaan Ahli Badr, ‘Lakukan apa saja Allah Telah mengampuni kalian  …’

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اعملوا ما شئتم فقد غفرت لكم

“Lakukan apa saja oleh kalian, kalian telah diampuni.” (HR. Bukhari No. 2845, 4025, 4608. At Tirmidzi No. 3360, Ibnu Abi Syaibah No. 51, 74. Al Hakim No. 6968, dari jalur Abu Hurairah, katanya: shahih. Ibnu Hibban No. 4798, juga dari jalur Abu Hurairah)

Keempat. Keutamaan para Peserta Bai’atur Ridhwan, ‘Tidak akan masuk neraka orang yang ikut bai’at di bawah pohon  …’

Dalam Al Quran, Allah ‘Azza wa Jalla telah memuji mereka. Berikut adalah pujian dari Rasulullah untuk mereka.

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لا يدخل النار ممن بايع تحت الشجرة

“Tidak akan masuk neraka orang-orang yang berbaiat di bawah pohon.” (HR. Abu Daud No. 4653. At Tirmidzi No. 3795, katanya: hasan shahih. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahihul Jami’ No. 7980)

Dari Jabir juga, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مَنْ بَايَعَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ إِلَّا صَاحِبَ الْجَمَلِ الْأَحْمَرِ

“Benar-benar akan masuk surga orang-orang yang berbaiat di bawah pohon, kecuali pemilik Unta Merah.” (HR. At Tirmidzi No. 3955, katanya: hasan gharib. Al Haitsami mengatakan, hadits ini juga diriwayatkan oleh Al Bazar dari Ibnu Abbas, rijalnya shahih kecuali Hidasy bin ‘Iyasy, dia tsiqah, Majma’ Az Zawaid, 9/161)

Al Qadhi ‘Iyadh menjelaskan tentang maksud ‘Pemilik Unta Merah.’ Katanya:

قيل: هو الجد بن قيس المنافق

“Dikatakan: dia adalah Al Jadd bin Qais seorang munafiq.” (Al Qadhi ‘Iyadh, Ikmalul Mu’allim Syarh Shahih Muslim, 8/157. Maktabah Al Misykat)

Kelima. Menyakiti para sahabat adalah sama dengan menyakiti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dari Abdullah bin Mughaffal Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي لَا تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا بَعْدِي فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّي أَحَبَّهُمْ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ وَمَنْ آذَاهُمْ فَقَدْ آذَانِي وَمَنْ آذَانِي فَقَدْ آذَى اللَّهَ وَمَنْ آذَى اللَّهَ يُوشِكُ أَنْ يَأْخُذَهُ

“Bertaqwa-lah kalian kepada Allah terhadap hak-hak sahabatku, jangan jadikan mereka sasaran kata-kata keji setelah aku wafat. Barangsiapa yang mencintai mereka (para sahabat) maka dengan kecintaanku, aku akan mencintai mereka (orang yang mencintai sahabat), dan barangsiapa yang membenci mereka, maka dengan kebencianku, aku akan membenci mereka (orang yang membenci sahabat), dan barangsiapa yang menyakiti mereka maka dia telah menyakiti aku, dan barangsiapa yang telah menyakiti aku, maka dia telah menyakiti Allah, dan barangsiapa yang menyakiti Allah, maka Dia akan memberinya azab.” (HR. At Tirmidzi No. 3954, katanya: hasan gharib. Ahmad No. 19641)

— Bersambung…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 7,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Farid Nu'man Hasan
Lahir di Jakarta, Juni 1978. Alumni S1 Sastra Arab UI Depok (1996 - 2000). Pengajar di Bimbingan Konsultasi Belajar Nurul Fikri sejak tahun 1999, dan seorang muballigh. Juga pengisi majelis ta'lim di beberapa masjid, dan perkantoran. Pernah juga tugas dakwah di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, selama dua tahun. Tinggal di Depok, Jawa Barat.
  • BramSonata

    Mengapa Umat Islam masa kini harus bahkan diwajibkan untuk SEBELUM jauh memasuki halaman terdalam Islam, “menyapa dan bertemu ” dengan para sahabat Rasulallah SAW, terutama para sahabat yg sepuluh yg diberitakan surga? karena, mereka ini umat Islam yg 100% murni akidahnya, tinggi keilmuannya tentang Islam, pada masa masa awal lahirnya Islam untuk disebarkan keseluruh permukaan bumi dimanapun berada. Dan mereka inilah yg saya sebut berada di RING ke 1 Rasulallah SAW.

    Kalau umat Islam melalaikan bahkan menyepelekan para sahabat –terutama yg sepuluh dengan berita surganya– bagaimana mungkin mampu mendalami lebih jauh tentang diri Rasulallah SAW?

    Apa sebab(nya) dan apa yg melatar belakangi segala sesuatu yg berkaitan erat dengan peristiwa peristiwa penting Islam dan sekaligus ajaran induk Islam, sudah barang tentu bagian yg tidak terpisahkan untuk dipahami, sebelum munculnya generasi Islam yg mampu bersetara dengan generasi Islam awal.

    Umat Islam, dengan mudah mendengar apalagi membacanya, mengapa ini dilarang, itu membahayakan, tetapi tanpa memahami apa sebabnya dan apa yg melatarbelakanginya,
    akirnya pemahamannya hanya sebatas sampai pada mata dan tenggorokannya.

    Sabda Rasulallah SAW, bahwa sebaik-baiknya maanusia(baca:Umat Islam) pada zamanku, jangan ditangkap/diartikan manusia (baca umat Islam) zaman sekarang lebih rendah daripada umat masa Rasulallah SAW., Umat Islam masa kini, mampu menjadi umat Islam yg sekualitas umat Islam diawal Islam lahir(para sahabat), syarat pertama adalah : dia harus steril dari segala bentuk dan manifestasi kemusrikan, mentaati perintah dasar(wajib) rasulallah SAW.(rukun Islam), dan berani –harus didasari akal sehat dan ilmu– menegakan supremasi Islam dalam segala bentuk tantangannya dan halangannya.
    Menjadi Umat Islam yg bersetara dengan para sahabat, seperti datang tidak digubris, pergi tidak dikenang. dia tidak BUTUH pujian-pujian, tidak BUTUH omong besar ini itu, tidak BUTUH uang harta dan kekuasaan, justru harta bendanya HABIS kuras untuk membiayai perjoangannya dalam menegakan supremasi Islam,misalnya seperti memberikan santunan manusia yg sedang menderita kesengsaraan, peperangan, wabah penyakit, ketertinggalan dalam ilmu(sekolah), RELA lapar dan haus dan kesakitan, dan lain sebagainya, sesuai dengan jalur bakatnya ( si pejoang ini), Sehingga siapa saja akan kesulitan menemukan model umat Islam yg baik, SEBAIK bahkan SETARA dengan umat masa Kenabian Rasulallah SAW.

    Berita surga bagi sepuluh sahabat, merupakan isyarat penting bagi semua umat, bahwa semua umat berhak atas SURGANYA, dengan jalan dan cara, salah satunya, contohlah dan tauladani para sahabat yg sepuluh, sesuai dengan bakat dan kemampuan yg dimilki masing-masing umat. Sederhana menjadi umat yg baik tetapi sangat (ke)sulit(an) menjadi umat yg baik, mengapa ? sebab banyak umat Islam yg jarang memohon CAHAYA Tuhan, sehingga dalam perjalanannnya, KEGELAPAN pekat menyelimutinya,

Lihat Juga

Sahabat Akhirat