Home / Narasi Islam / Dakwah / Istiqamahlah Saudaraku…

Istiqamahlah Saudaraku…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – “Kak, kenapa semangat beribadahku lebih terasa meningkat saat berkumpul dengan kawan-kawan yang fokus di masjid daripada dengan para aktivis dakwah kampus, ya?”

“Kalau kumpul di majelis mereka, Aku semangat menuntut ilmu, Kak. Tapi kalau di sini, Aku lebih semangat untuk berdakwah. Jadi, sebaiknya mana yang harus aku pilih?”

Beberapa kali pertanyaan itu dan pertanyaan lain yang serupa muncul dari adik-adik yang aktif di dakwah kampus. Pertanyaan itu acap kali ditujukan kepadaku, selaku senior di salah satu kampus kedinasan di Jakarta. Meskipun senior dalam level perkuliahan, namun Aku tak cukup senior dalam dunia dakwah di kampusku. Namun, sepertinya ada perasaan ganjil menyelimuti hatiku mendengar curahan hati adik-adikku tersebut. Di sisi lain, Aku sangat bangga dengan semangat mereka yang menggebu-gebu untuk mencari hidayah Allah. Dan Aku pun sangat yakin, mereka Insya Allah akan mendapatkannya selama tidak pernah putus asa, sebagaimana jaminan Allah, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, maka akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Sebenarnya pertanyaan seperti itu pun pernah muncul di benakku saat awal-awal semangat melibatkan diri di dunia dakwah. Dan pertanyaan seperti ini harus segera dijawab karena jika dibiarkan akan berakibat fatal, yakni mundurnya kader dari jalan dakwah. Hal ini pun dapat merebak kepada kader-kader lainnya, layaknya jamur di musim penghujan.

Saudara-saudaraku yang Aku cintai karena Allah, mengapa harus ada sekat antara ilmu, amal dan dakwah? Apakah seorang aktivis dakwah hanya cukup dengan mengajak saudaranya namun membiarkan dirinya kekeringan ruhiyah? Lantas, kepada siapa engkau akan mengajak? Atau hanya mencukupkan dirinya memperkaya fikriyah dan ibadah mahdhah dengan melalaikan tugas berdakwah? Jika demikian, apa gunanya Nabi dan Rasul diutus Allah?

Sebagai orang yang terlanjur dicap sebagai aktivis dakwah, tentu kita harus memfokuskan upaya dan kemampuan kita untuk berdakwah. Namun, tak lepas dari bekal wajib yang perlu kita persiapkan. Ibarat pengelana, kita telah menetapkan tujuan pengembaraan kita, tidak ada tujuan yang lain kecuali meraih ridha Allah. Dan juga kita telah memilih jalan yang tidak semudah membalikkan telapak tangan, yaitu jalan juang para Nabi dan Rasul. Di jalan yang panjang, berliku dan penuh aral rintangan ini tentu kita tidak boleh membiarkan diri kita terjatuh di tengah jalan karena kekurangan bekal. Bahkan kita menyiapkan bekal yang lebih baik dari pengembara pada umumnya. Bekal tersebut adalah kekuatan pemahaman dan ruhiyah.

Bekal pemahaman dan ruhiyah dapat diuraikan menjadi tiga hal, yaitu pemahaman terhadap prinsip-prinsip Islam, kekuatan ma’nawiyah, dan pemahaman terhadap dakwah dan jamaah dakwah.

Pertama, pemahaman terhadap prinsip-prinsip Islam meliputi bagaimana seorang kader dakwah mampu memahami aqidah Islam, tata cara ibadah, dan muamalah secara bijak dan kaffah. Seorang kader dakwah seharusnya memahami alasan memilih Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, Rasulullah sebagai suri teladan, dan Al-Quran sebagai pedoman hidup. Termasuk di dalamnya juga pemahaman terhadap rukun Islam dan rukun iman. Dan seorang kader dakwah pun seharusnya mengerti bagaimana beribadah dengan benar, bagaimana berinteraksi dengan sesama muslim maupun kafir, dan bagaimana penerapan hukum-hukum dalam Islam.

Seorang kader dakwah yang belum memahami hal ini cenderung akan mudah menyerah karena merasa tidak pantas apalagi jika berhadapan dengan mad’u yang lebih paham. Atau bisa jadi malah dapat menjatuhkan dakwah jika kader tersebut menampilkan sesuatu yang bertentangan dengan aturan Islam.

Kedua, kekuatan ma’nawiyah atau bagaimana seorang kader dakwah dapat merasakan kedekatan Allah dan selalu merasa diawasi oleh Allah. Kekuatan ini dapat diperoleh melalui amalan yaumiah-nya, baik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah, yang wajib maupun yang sunnah. Di antaranya kualitas tilawah baik bacaan maupun pemahaman ayatnya, hafalannya, shalat berjamaahnya, shalat malamnya, puasa sunnahnya, dan sebagainya.

Jika seorang kader dakwah tidak memilikinya maka akan mengalami kehampaan hati dan kekeringan jiwa. Lebih lanjut dapat terjebak ke hal-hal yang tidak bermanfaat seperti berlebihan dalam hal yang mubah, bahkan maksiat. Atau niat yang melenceng, tidak murni karena Allah. Karena seorang akhwat, misalnya. Apa jadinya jika kader dakwah seperti ini?

Ketiga, pemahaman terhadap dakwah dan jamaah dakwah adalah seberapa jauh seorang kader dakwah memahami urgensi berdakwah, perannya dalam dakwah, kepada siapa harus berdakwah, sarana dakwah dan bagaimana cara berdakwah. Dan hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana memilih jamaah dakwah untuk dapat istiqamah di jalan dakwah, karena dengan adanya jamaah maka beban dakwah kita menjadi lebih ringan dengan adanya amal jama’i serta lebih terarah dengan adanya sistem yang baik. Allah pun menyukai hal ini, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya layaknya bangunan yang kokoh.” (QS. As-Shaff: 4)

Kurangnya pemahaman seorang kader terhadap dakwah menyebabkan lemahnya azzam untuk berdakwah serta menjadi manja dan mudah mengeluh. Terlebih lagi jika tidak memahami dan memilih jamaah dakwah untuk memudahkan geraknya, maka akan mudah terombang-ambing dalam menghadapi fitnah dari musuh-musuh dakwah.

Ketiga hal di atas merupakan bekal yang wajib dimiliki oleh setiap kader dakwah. Meskipun demikian, bekal tersebut bukanlah hal yang instan, melainkan sebuah proses. Oleh karena itu, seorang aktivis dakwah harus sabar untuk mengumpulkan bekal tersebut sekaligus tetap bergerak dalam medan dakwah. Carilah bekal tersebut di manapun engkau menemuinya karena mutiara akan tetap mutiara, meskipun berada di tempat yang hina asalkan engkau memiliki kemampuan untuk memurnikannya kembali. Tapi jika engkau belum memiliki kemampuan untuk menyaringnya, maka carilah di tempat yang engkau percaya.

Jika kemampuan pemahaman dan ma’nawiyah (ruhiyah) telah melekat pada diri seorang kader dakwah, diterpa badai dan topan pun dia tetap tegar di jalannya dengan izin Allah. Meskipun media tidak berpihak, kader dakwah tidak akan pernah bertolak karena tujuannya adalah penilaian Allah, bukan penilaian manusia. Jika musuh-musuh dakwah memfitnah, dia tak akan pernah goyah karena cita-citanya adalah Jannah. Demikianlah seharusnya kader dakwah.

Pembaca yang dirahmati Allah, Jika kondisi ini terjadi pula pada wasilah dakwah yang Anda alami maka cobalah mengevaluasi kembali apakah sistem yang telah diterapkan telah memenuhi kebutuhan fikriyah dan ruhiyah kadernya? Bisa jadi, amanah yang diemban para kader terasa lebih besar dibandingkan sarana pemompa ruhiyah mereka. Atau sarana yang telah ada ternyata belum optimal dimanfaatkan para aktivis dakwah. Jika mentoring saja belum cukup, masih banyak sarana dakwah lain yang dapat kita terapkan, seperti tatsqif, ma’had, dan yang lainnya. Sesungguhnya yang kita alami bukanlah kelemahan kader dakwah, tapi tidak meratanya kemampuan kader dakwah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 6,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswa kampus kedinasan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta Timur angkatan 2008 yang berasal dari Sulawesi Tengah. Belum lama ini, mahasiswa yang sering disapa Khoir ini mulai tertarik dunia tulis-menulis dengan mengawali membuat tulisan ringan berupa artikel ataupun cerpen bermuatan religi. Semoga tulisan ini dapat menjadi sarana untuk saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran sehingga bernilai ibadah di Sisi-Nya. Aamiin.

Lihat Juga

Kajian Core Competence Dakwah Kampus