Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menjadi Guru Sebenarnya

Menjadi Guru Sebenarnya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (padang-today.com)
Ilustrasi (padang-today.com)

dakwatuna.comBerbicara tentang kreativitas memang takkan habis karena tak pernah ada takaran yang mematok bahwa seseorang sudah cukup kreatif atau belum dalam melakukan sesuatu. Pasti ada saja ragam ide yang muncul dalam mengkreasikan sesuatu, baik berupa benda (fisik) ataupun cara. Keragaman yang muncul setiap waktunya membuktikan bahwa kreativitas itu memang tak akan pernah mati sampai kapanpun. “Kreativitas itu mengasyikkan dan yang pasti disukai banyak orang”, ungkap salah seorang guru yang mengajar di pelosok negeri. Banyak keuntungan yang dapat kita peroleh dari pola hidup kreatif. Dinilai intelek, kaya akan wawasan, banyak relasi, mendapatkan penghasilan yang tak biasa, disegani dan disenangi banyak orang, serta hidup pun menjadi lebih berwarna. Maka tak heran, banyak orang yang berbondong-bondong datang untuk menjadi sosok yang demikian dengan 1 alasan yakni ingin tampil beda di antara yang lainnya. Menemukan kekhasan diri sebagai bentuk pencirian dan identitas diri menjadi insan yang tidak biasa-biasa saja.

Itu pulalah yang kami alami sekarang. Mencoba untuk menjadi sosok kreatif dalam mencerdaskan anak bangsa. Para Sarjana Muda yang bergabung melalui Sekolah Guru Indonesia sengaja digodok dalam karantina untuk mencetak calon guru sejati yang hakikinya menjadi sosok yang banyak menginspirasi guru lainnya juga. Mengajar dengan cara yang tak biasa membuat kami begitu tertantang dalam menciptakan santapan menarik bagi siswa dahsyat dari berbagai pelosok Indonesia.

Dari sinilah kami belajar menjadi guru sebenarnya. Guru yang notabennya dianggap sebagian besar orang sebagai profesi yang berada pada jalur aman dan santai. Tinggal datang ke sekolah, mengajar dan pulang ke rumah lagi, maka tugaspun selesai. Mengajar dilakukan dengan cara yang sangat praktis. Masuk kelas dengan wajah masam jika sedang ada masalah, atau datang dengan membawa Samurai bak pendekar yang ingin membantai musuh yang belum ditemukannya. Pada akhirnya, siswa menjadi sasaran empuk yang dianggap sebagai musuh oleh guru seperti ini.  Bahkan ada yang melakukannya dengan cara yang lebih sederhana lagi. Tinggal masuk kelas, tanpa berkata apa-apa, hanya menuliskan angka halaman buku, meminta siswa mengerjakannya. Sementara si Guru sibuk dengan kegiatan yang tidak jelasnya di kantor. Berhahaha….hihihi…..yang bisa didengar oleh siswa dari balik dinding kelasnya. Ironis memang, mengetahui peranan guru yang tadinya sebagai pemegang ujung tombak kemajuan bangsa melakukan hal demikian.

Tak bisa dipungkiri, itulah yang tengah terjadi di kehidupan bangsa kita. Tawuran pelajar sudah menjadi menu berita harian. “Peka???”, sudah tidak. Berita ini terlalu biasa untuk dipermasalahkan bagi penduduk negeri. Maka, tak salah juga para pemimpin negeri begitu buas melakukan tindak korupsi di lembaga terkait. Hukuman yang dibentuk pun tak menimbulkan efek jera. Sempurnalah peliknya permasalahan negeri ini tanpa kejelasan dalam penyelesaiannya. Jika kita kerucutkan kembali penyebab dari semua rangkaian kejadian yang tidak mengenakkan ini akibat terjadinya kecelakaan pendidikan di masa lampau. Andai kita sadar wahai Guru, sebenarnya kitalah yang mengajarkan bangsa ini menjadi seperti ini. Efek dari ketidak bertanggung jawaban kita menimbulkan akibat luar biasa terhadap bangsa ini. Tepat sekali pepatah yang mengatakan “Jika Guru sudah kencing berdiri, maka muridpun akan kencing berlari”.

Perlu kesadaran tinggi jika sudah memutuskan untuk menjadi seorang Guru. Karena tugas seorang Guru takkan pernah selesai sampai kapanpun. “Guru Sebenarnya” akan merasa gagal dan malu jika tahu siswa yang pernah diajarnya melakukan tindakan yang merugikan orang lain, apalagi sampai merusak bangsa. Pertanyaan mendasar yang harus menjadi bahan renungan kita adalah “Sudahkah kita menjadi Guru sebenarnya???”. Silakan teriakkan jawabannya di hati kecil masing-masing.

Menjadi guru memang tak mudah. Guru merupakan sosok yang sangat dihormati oleh semua orang. Dianggap multi talented bisa melakukan semua hal, tempat bertanya bagi orang yang tidak tahu. Menjadi sosok yang digugu dan ditiru oleh para siswa kita, baik yang berada di sekolah maupun di masyarakat. Oleh karena itu selayaknya sebagai seorang guru kita harus bisa memaksimalkan potensi siswa. Tidak hanya di bidang akademik, tapi juga kemampuan yang lainnya. Motto ”Setiap anak adalah Juara” adalah hal mutlak yang harus ditanamkan dalam diri seorang guru. Tak ada anak yang bodoh, karena mereka sejatinya dilahirkan dengan kemampuan yang berbeda. Tugas kita sebagai seorang guru lah yang harus menemukan potensi dan mengembangkannya menjadi seseorang yang percaya diri serta bersemangat dalam menghadapi tantangan hidup nantinya. Membekalinya dengan cara-cara yang menyenangkan, yang membuat mereka tumbuh dan berkembang secara melejit. Di mana sosok kita selalu dinantikan setiap waktunya. Sosok yang bisa membuat mereka bersedih jika kita tak ada. Sosok yang bisa menjadi teman berbagi dalam hidup. Sosok dengan pribadi teladan yang patut mereka tiru. Sosok yang membuat mereka malu jika melakukan perbuatan tidak baik karena tak mau mengecewakan kita, idolanya. Ya, itulah Guru Sejati. Semoga kita ada salah satu di antara ribuan pejuang pendidikan yang dirindukan anak bangsa.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Asnita Putri
Asnita Putri Dewi, S.Pd, lahir di Padang tahun 1987. Penulis merupakan Anak bungsu dari 4 orang bersaudara yang bercita cita menjadi Guru profesional dan Motivator Indonesia tahun 2013. Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Lb. Alung ini menyatakan siap untuk mengabdi pada dunia pendidikan secara profesional semenjak bergabung dengan sekolah guru Indonesia (SGI). Bagi penulis dengan mengajar membuat eksistensinya sebagai manusia terasa lebih berarti. Mengajar di pedalaman dan mengenal budaya Indonesia secara lebih dekat adalah salah satu impian penulis sejak masih di bangku kuliah. Perempuan berdarah Minangkabau ini aktif diberbagai organisasi dan perlombaan semenjak SMK sampai di perguruan tinggi, diantaranya pernah aktif di National University English Debate Contest (NUEDC) tahun 2010-2011. Menjadi juara I English Debate Contest tingkat SMK se-Sumbar tahun 2005. Menjadi utusan Tim Nasional NUEDC di Pekanbaru tahun 2010. Juara I NUEDC se- kota Padang tahun 2011. Mahasiswa terbaik ke-2 jurusan Bahasa Inggris di kampusnya tahun 2011. Menjabat sebagai, Tim inti English Debate Championship tahun 2004-2005, Sekretaris utama Forum Ukhuwah Remaja Islam 2008-2012, Koordinator Debate Bahasa Inggris, HIMA Kampus 2010-2011, Anggota LDK Kampus 2010-2011.Menjadi Guru Pembaharu, Menebarkan Semangat Impian Kepada Semua Siswa itulah Motto hidup yang ia pegang selama ini. Sekarang sedang berkarya dan mengabdi di SDN 1 Girimukti, Lebak, Banten.
  • Nur Sila

    sangat menginspirasi saya yang sedang merencanakan menjadi seorang pengajar yang di idolakan murid untuk memotivasi hidup mereka dimasa depan .

  • Makrifat Sabil Haq

    Subhanallah, saya bercita-cita menjadi Guru nih (Dosen aja sih kata ibu saya), mohon didoakan

Lihat Juga

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid.
(fraksipks.or.id)

Hidayat: Guru yang Menegakkan Disiplin Tidak Dapat Dipidanakan