Home / Konsultasi / Konsultasi Hukum / Bagaimana Status Keponakan Saya yang Nikah Siri Lalu Cerai dan Ingin Menikah Lagi?

Bagaimana Status Keponakan Saya yang Nikah Siri Lalu Cerai dan Ingin Menikah Lagi?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Buku Nikah. (inet)
Ilustrasi – Buku Nikah. (inet)

dakwatuna.com

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb.

Bapak Zairin Noor yang kami hormati, saya ingin menanyakan persoalan hukum kepada Bapak, yaitu mengenai keponakan saya yang akan melangsungkan pernikahan.

Keponakan saya ini, seorang perempuan, yang sebelumnya pernah kawin secara siri, tidak tercatat di KUA karena suatu alasanlah. Perkawinannya ini sempat berlangsung selama beberapa tahun, yang kemudian berakhir dengan perceraian. Karena perkawinan siri, maka perceraiannya pun secara siri. Dalam perkawinan ini keponakan saya itu membuahkan seorang anak laki-laki yang sekarang usianya hampir satu tahun. Setelah perceraian dengan suaminya, ada seorang perjaka yang ingin mengawininya secara resmi di KUA, dan calon suaminya ini bisa menerima keadaan keponakan saya itu apa adanya.

Saya sebagai seorang paman, yang juga ikut bertanggung jawab terhadap keponakan saya ini, ingin bertanya bagaimana statusnya nanti ketika melangsungkan pernikahan.

Ahmad – Bekasi

Jawaban:

Alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah semoga Bapak Ahmad bersama keponakannya dalam lindungan Allah dan selalu mendapat hidayah-Nya. Persoalan yang Bapak tanyakan bisa jadi merupakan persoalan yang sama dari netters dakwatuna.com yang lainnya. Berkaitan dengan perkawinan siri atau istilah lainnya ‘kawin bawah tangan’.

Perkawinan siri, seperti diakui sendiri oleh Bapak dilangsungkan karena ada latar belakang, ada ‘sesuatu’ dalam tanda petik. Tentunya kita tidak mempersoalkan yang sudah berlalu, yang penting bagaimana ke depannya.

Dalam hukum Islam yang berlaku di Indonesia, di mana hukum Islam diakui keberadaannya sebagai salah satu sistem hukum yang ada di Indonesia terkait dengan hukum keluarga. Di samping juga dalam persoalan keluarga, ada hukum adat dan hukum Barat/Eropa yang berlaku untuk golongannya masing-masing.

Untuk umat Islam ada pijakan hukum yang dapat kita lihat, yaitu pada Kompilasi Hukum Islam (KHI). KHI adalah hasil ijma/kesepakatan alim ulama Indonesia yang kemudian menjadi hukum positif diberlakukan untuk umat Islam di Indonesia. Pasal 3 KHI menyebutkan, bahwa perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Pasal 5 ayat (1) KHI berbunyi “Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatat”.

Kemudian keterangan selanjutnya yang harus diperhatikan adalah Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) yang menyatakan bahwa: untuk memenuhi ketentuan dalam Pasal 5, setiap perkawinan harus dilangsungkan di hadapan dan di bawah pengawasan Pegawai Pencatat Nikah (PPN/KUA), kemudian terhadap perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan PPN/KUA tidak mempunyai kekuatan hukum.

Jadi terhadap keponakan Bapak tadi, kalau ingin melangsungkan perkawinan tidak ada halangan apapun dari sudut hukum yang berarti hukum dimaksud adalah hukum Islam, hukum yang bersumber dari nilai suci ajaran Islam. Itu untuk sementara yang dapat saya berikan jawabannya,

Wallahualam,

Wassalamu’alaikum wrwb

Pertanyaan seputar dunia hukum dapat di kirim ke: [email protected]

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Drs. Zairin Noor, SH. MHum.
Praktisi hukum. Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Attahiriyah Jakarta (FH-UNIAT), Fakultas Agama Islam UNIAT, Sekolah Tinggi Agama Islam Azziyadah, dan Fakultas Hukum Universitas Suryadarma Jakarta. Menjabat Dekan FH-UNIAT: 1995-1998 dan 1998-2002. Email: [email protected]
  • Satrio Panji

    Yang ditanyakan sesuai judulnya adalah status hukum anaknya dari pernikahan siri yang terdahulu. Bukan status hukum perkawinan wanita yang akan menikah.
    Jawabannya tidak sesuai dengan pertanyaannya.

    • muslihyunus

      apa ngk kebalik mas SATRIO PANJI. yang di tanyakan status pernikahan ibunya bukan status anaknya yang lahir dari pernikahan siri itu. jadi jawaban dan pertanyaannya uda benar . coba di baca lagi mas mungkin saya yang keliru.

      • Adhyaksa

        benar kata pak muslihyunus, kebalik itu sprti yg dinyatakan pak Satrio Panji, yg tepat adalah seperti yg dikatakan pak Usman Senong, ponakan pak ahmad seblm menikah lg baiknya mengajukan permohonan isbat ke PA spy dia (ponakan pak ahmad) bersama anknya mendapat kepastian n kekuatan hukum, kelak akn menikah lg sesuai ketentuan UU No.1/1974 sdh berstatus janda. hal itulah yg paling tepat dilakukan, sekian moga bermanfaat, wassalam

  • Raisya Lagare

    Assalamu alaikum… mnrt saya jawaban sdh sesuai dgn pertanyaan yg tdk sesuai adalah judul artikel dgn pertanyaan

  • BramSonata

    Yg ditanyakan STATUS anak hasil perkawinan SIri ( entah cerai atau tidak). ini agar dijelaskan oleh Drs. Zairin Noor,SH.MHum.

  • BramSonata

    Singkatnya komentar : Laki perempuan yg menikah secara SIRI /agama Islam, dihadapan Tuhan anak itu SYAH, kecuali anak terlahir dari hubungan tanpa diikat bentuk pernikahan apapun atau hubungan kawin liar/gelap(berzina), atau yg dikenal dengan sebutan anak jadah.
    Bedakan arti PERKAWINAN dan PERNIKAHAN, sebelum ada perkawinan(hubungan kelamin), harus didahului Pernikahan baik siri (tidak ada surat nikah) maupun terangan terangan (ada surat nikah dari negara/kua).

    Manusia yg terlahir dari hubungan kawin liar/gelap(berzina), merupakan sosok manusia yg terkontaminasi/terdistorsi oleh eksisstensi IBLIS/Syetan yg merupakan mahkluk terkutuk dan terhapustotal/terputus total dari rahmad Allah SWT. Dan manakala populasi manusia hasil zina sudah merupakan mayoritas penduduk bumi, saat itulah terjadi kiamat.

    Paling tidak, 100 tahun atau 200tahun kedepan dan seterusnya , hubungan kelamin perempuan/laki/ laki dengan laki/perempuan dengan perempuan/ manusia dengan binatang dapat anda saksikan dimana saja, tanpa tedeng aling aling, persis sama dengan apa yg dilakukan binatang.

    Rasulallah SAW, mewanti-wanti kepada umatnya, agar berdoa dahulu sebelum berjimak.

    • Hamba Allah

      “Bedakan arti PERKAWINAN dan PERNIKAHAN,”

      KBBI:
      Kawin:
      ka·win [1] 1 v membentuk keluarga dng lawan jenis; bersuami atau beristri; menikah: ia — dng anak kepala kampung; 2 v melakukan hubungan kelamin; berkelamin (untuk hewan); 3 v cak bersetubuh: — sudah, menikah belum; 4 n perkawinan;

      NIkah:
      ni·kah n ikatan (akad) perkawinan yg dilakukan sesuai dng ketentuan hukum dan ajaran agama: hidup sbg suami istri tanpa — merupakan pelanggaran thd agama;

      Yang saya fahami dari KBBI, bahwa:
      Kawin artinya menikah, bersetubuh.
      NIkah artinya: melakkukan akad perkawinan..

      dengan demikian, kawin dan nikah, bisa dipakai dalam satu makna..hanya saja kata kawil lebih luas maknanya. begitu juga didalam bahasa arab, bisa dikatakan (الزواج) perkawinan dan (النكاح) pernikaha, bisa dipakai dalam satu makna..

      Mana yang benar..
      (mohon pencerahan)

  • Faris Ridwan

    judul ok kok, isi juga ok, sepupunya pak ahmad perempuan, trus dari kawin siri punya anak, lalu cerai siri..trus stlah cerai siri mau dipinang oleh perjaka..lalu menurut pak zairin hal tsb ok ok aja..mngkin perlu lebih teliti saja membacanya..

  • Usman Senong

    Assalamu alaikum wr. wb.

    Persoalan yang akan muncul kemudian dari jawaban / solusi yang bpk Zairin Noor sampaikan adalah bagaimana status anak yg terlahir dari perkawinan siri tersebut nantinya..
    Sepanjang pengetahuan saya, berdasar pada KHI pasal 7, seharusnya jalan yang ditempuh oleh keponakan Bpk Ahmad adalah mengajukan istbat nikah dalam rangka perceraian ke PA, setelah perkara diterima dan diputus oleh PA dengan sendirinya pernikahan siri dan anak yang lahir dalam pernikahan tersebut akan mendapat legalitas hukum, dan ketika keponakan Bpk Ahmad akan menikah lagi maka statusnya saat itu adalah janda.

  • Manggalini Dian Insani

    dakwatuna.com tambah lengkap isinya..

  • Manggalini Dian Insani

    dakwatuna.com tambah lengkap isinya..

  • Manggalini Dian Insani

    dakwatuna tambah lengkap..

Lihat Juga

gadget

Anak-Anak di Era Digital dan Media Sosial