Home / Berita / Opini / Koleksi Para Pejabat di Zaman Hedonisme

Koleksi Para Pejabat di Zaman Hedonisme

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (simfonikehidupan.wordpress.com)
Ilustrasi. (simfonikehidupan.wordpress.com)

dakwatuna.comBismillah…

Sejak jatuhnya orde baru, lahirnya demokrasi dan terealisasinya peraturan otonomi daerah. Banyak melahirkan pejabat baru, terlahirnya egoisme wilayah dan terbangun dinasti yang tak bisa terkalah oleh hokum bahkan tak tersentuh dengan hukum. Tidak hanya terbentuknya dinasti melainkan munculnya koleksi pejabat yang menarik dibahas, menarik dilirik, menarik dikupas dan menarik menjadi hikmah bagi kita sebagai anak muda sebagai regenerasi pejabat bangsa dan negarawan di kemudian hari. Mungkin semenarik sinetron, semenarik paradoksal dunia artis dan membuka mata dunia.

Ternyata koleksi pejabat Negara, begitu menakjubkan, membuat orang geleng-geleng kepala dan mengelus dada. Seharusnya pejabat memiliki koleksi perpustakaan seperti salah satu tokoh bangsa yang hari-hari banyak membeli buku-buku sesuai dengan profesi maupun tidak. Tapi itu jarang ditemui pada pejabat bangsa atau jangan-jangan pejabat bangsa ini juga termasuk orang tak mencintai membaca.

Pada realitasnya pejabat lebih doyan mengoleksi rumah mewah di berbagai tempat, mengoleksi mobil mewah dengan berbagai merek sangat prestisius, tak lebih heran lagi mengoleksi cewek-cewek cantik, bahkan mengoleksi dolar hingga euro, dan lebih parah lagi mengoleksi narkoba dan obat k*a*….”Jebreeettttt begitu ironi dan kontras dengan landasan Pancasila”.

Berpikir dan menganalisis apa yang menggerakkan para pejabat mengoleksi barang-barang tersebut. Atau benar kehausan dengan dunia, atau tak tahu lagi meletakkan kekayaan di mana lagi, atau sudah menjadi karakter pejabat bangsa ini. Padahal banyak masyarakat miskin membutuhkan ulur tangan dari mereka-mereka memiliki kekayaan berlimpah. Jangan-jangan menjadi keharusan sudah menjabat suatu jabatan dipersilakan untuk mengoleksi hal tersebut, atau menyadari itu hak pribadi mereka.

Padahal jika dilihat dari pendapat dengan kekayaan mereka memiliki sangat bisa dicurigai. Jangan-jangan uang diperoleh untuk mengoleksi barang wooww tersebut dari hasil Korupsi, atau dari penipuan, atau dari pencucian uang… “entahlah jadi bingung sendiri melihat perilaku pejabat bangsa ini”. Seakan-akan bangsa Indonesia miskin pejabat berkarakter tapi kaya dengan pejabat yang korupsi.

Sungguh ketagihan dunia bisa buat manusia lupa tujuan hidup dan misi selama menjabat. Padahal di luar sana banyak masyarakat di level menengah maupun level bawah belum menikmati kesejahteraan. Masih banyak baik secara kuantitatif maupun kualitas masyarakat belum mencicipi pendidikan hingga jenjang tertinggi. Merasa kesejahteraan hanya di kalangan pejabat dan dinasti berkuasa.

Betapa indah koleksi yang mewah dimiliki para pejabat digunakan kemaslahatan masyarakat seperti tercantum dalam falsafah bangsa yang saling membantu, saling bergotong royong dan saling menjinjing. Tapi itu semua jauh dari harapan yang direkomendasi oleh undang-undang.

Benar kata pepatah menduduki jabatan atau dalam lingkaran kekuasaan, membuat manusia bak serigala yang siap menyantap atau menerkam apapun disuguhi dihadapannya dengan segala cara demi kedinastian dan mengokohkan jabatannya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sholiat Alhanin
Alumni Unpad dan UGM. Berprofesi sebagai Dosen, Penulis Lepas dan Penyiar
  • Taufik Haswidi

    saya melihat perkembangan seperti itu tidak terlalu aneh. aTidak adanya kepastian hukum dan kurangnya keteladanan yang dari para pendahulunya bisa menjadi penyebabnya.

Lihat Juga

Esensi yang Terkikis oleh Zaman Saat Idul Adha 1437 H