Home / Pemuda / Cerpen / Aktivis, yang Merasa Jangan Manyun

Aktivis, yang Merasa Jangan Manyun

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Ini kisah indah saya saat di kampus dulu. Betapa pentingnya memperhatikan diri, sekaligus memberikan perhatian kepada saudara-saudara kita. Atas nama ukhuwah, sejatinya tidak ada kata sungkan untuk saling menasihati. Saling membantu berbenah diri, agar menjadi aktivis sejati. Tentu tetap menjaga etika tingkat tinggi. Selamat menikmati…

Kutarik lembut tangannya, agar jauh dari keramaian. Aku hanya ingin bicara empat mata saja. Ada hal pribadi yang hendak disampaikan.

“Akh, Antum sudah kenal lama dengan ane kan?” tanyaku mengawali.

“Ya bang…” jawabnya cepat, meski wajahnya masih tampak bingung.

“Ane pun telah lama kenal dengan Antum. Kita bersaudara karena Allah,” balasku dengan wajah sumringah. Ia pun memberikan senyumannya.

“Antum kan kenal dengan karakter ane yang ‘to the point’. Kalau hendak menyampaikan sesuatu, agak kurang pandai menahannya lama-lama. Nah, kali ini ane mau sampaikan sesuatu ke Antum, boleh kan?” tanyaku lagi.

“Hehe, boleh lah bang. Kalau soal karakter yang satu itu, kita ’11-12′ lah,” jawabnya lagi.

“Gini lho akh. Kita ini kan sama-sama belajar jadi aktivis. Kegiatannya agak lebih banyak dibanding yang lain. Pagi-pagi, sebelum jam 07.00 kita awali dengan rapat sebelum kuliah. Menjelang siang ada saja kegiatan yang dilakukan di sela-sela jadwal kuliah dan praktikum. Sore pun terkadang kita tutup dengan kegiatan yang tak kalah menguras tenaga. Ya kan?” ungkapku.

“Ya bang, bahkan malam pun juga ada untuk agenda lingkaran peradaban,” sambutnya.

“Nah, itu dia akh. Dengan kegiatan kita yang seperti itu, kita harus tetap jaga performa. Karena begitu banyak waktu kita yang mengharuskan berhadapan dan berinteraksi dengan orang banyak. Bahkan, dengan jarak yang teramat dekat, karena kita begitu ramah dan bersahabat,” ujarku.

Selanjutnya, aku pun mengisahkan sebuah cerita yang dialami waktu kecil hingga usia remaja di rumah. Bahwa, terkait performa, emak-ku yang paling nyinyir mengingatkan anak-anaknya. Dengan logat khas Medannya, beliau berkata, kepada kami, ‘Kalian memang tak sering kubelikan baju mahal-mahal, tapi sangat layak. Jangan sampai kalian pakai baju tidak rapi. Kalau mandi gosok pakai kain. Gosok gigi juga harus tuntas, jangan asal-asalan. Kalau sempat kalian ‘bauk-bauk’ di depan orang, yang malu itu aku. Orang akan tanya, Siapa emaknya?’ (zzzingg…zziiing…ahh, emak, emak :D)

Awalnya, nasihat seperti itu, selalu bikin berat hati. Ya, namanya kita yang ABG, maunya berpikir praktis (kalau praktis tapi tuntas, gak papa sehh…tapi ini kan tidak…hihi). Sering juga melanggar nasihat yang amat berharga itu. Alhasil?? Tahu sendiri deh kalau menjelang siang…rada-rada gimana gitu?

Tapi, itulah orangtua, kagak ada matinyee kalau mengingatkan anak-anaknya. Hingga akhirnya, terkait penjagaan performa telah menjadi budaya. Bahkan, kami bersaudara sudah bisa saling mengingatkan terkait hal ini.

“Nah, kita kan bersaudara neh akh. Sudah saling kenal satu sama lain. Tentu kita kan juga harus saling mengingatkan satu sama lain dalam kebaikan, apalagi kita sama-sama belajar jadi aktivis. Termasuk juga terkait performa, yang akan banyak hubungannya dengan orang banyak. Boleh kan?” tanyaku.

“Boleh donk bang, dengan senang hati,” jawabnya dengan senyum mengembang.

“Seep, baiklah. Afwan ya sebelumnya, sepertinya Antum memiliki bau badan yang agak ‘khas’ deh akh…,” kataku.

“Ahh, masak seh bang. Bau ya?? Perasaan ane biasa-biasa aja deh baunya,” ujarnya, sembari mengangkat kedua tangannya bergantian, sekaligus berusaha untuk… (hehe, gak usah dilanjutkan yaa, dah pada tahu kelanjutannya kan? LOL :D ).

“Nah, itu dia akh, persis. Seperti itulah jawab ane sewaktu emak mengingatkan terkait bau badan. Ane bilang ke emak, bahwa tak ada yang aneh dengan bau badan. Tapi, waktu itu emak bilang, ‘Iyalah…bau keringat kau sendiri tentulah dah biasa. Tapi, orang lain yang menciumnya gimana?’… gitu akh, kata beliau,” terangku.

“Terus, gimana donk bang…apa ane harus pake parfum setiap hari?” tanggapnya.

“Wah, parfum bukan solusi utama. Itu diletakkan pada urutan akhir dari beberapa langkah yang harus kita tempuh. Karena, ini terkait aktivitas kita yang akan terus menghasilkan keringat lebih banyak dibanding yang lain. Keringat tempat ternyaman bagi bakteri untuk berkembang, hingga baunya pun dahsyat,” jelasku.

Kemudian, aku pun menjelaskan bahwa, sifat parfum makin lama akan semakin pudar wanginya karena menguap. Sedangkan bakteri, semakin lama, semakin berkembang. Hingga akhirnya, berubahlah ‘atmosfir’ seketika… :).

“Jadi ane harus gimana dunk bang?” tanyanya lagi.

“Ya, itu tadi akh. Kita kalau mandi, harus digosok pake kain, terutama daerah lipatan. Kalau gosok gigi harus tuntas, jangan asal-asalan. Terus, kalau nyampo, sebaiknya pake yang jenis ‘daily’, supaya nyamponya bisa tiap hari. Nah, karena kita belajar jadi aktivis, ada tambahannya lagi neh…”

“Apa tu bang?” tanggapnya.

“Pake bedak BB H*r*m S*r*, modalnya sederhana, paling mahal Rp.1.500. Atau kalau keuangan kita oke, bisa pake C*l*dine cair, biar praktis. Insya Allah tahan seharian. Kemudian, pakaian yang sudah dipakai seharian full dari pagi hingga sore, besoknya jangan pernah dipakai lagi, harus dicuci. Apalagi dalemannya…jangan deh, jangan!! Bukan saja menimbulkan bau, tapi mengundang penyakit kulit” terangku.

“Itulah makanya,” lanjutku, “Celana kita itu seakan ‘dibudayakan’ dengan berbahan dasar, iya kan? Itu bukan bertujuan agar tampak berwibawa seperti ‘kebapakan'(wkwkwk). Tapi, agar mudah sering mencucinya dan cepat kering. Coba kalau bahan jeans, belum kena air aja dah berrat buanget tuh celana, apalagi pas nyucinya. Makanya, bawaannya malaasss dan dipakailah berhari-hari,” jelasku.

“Oke bang, syukran Jazakallah atas masukannya. Ke depannya ane kalau mandi akan digosok deh sampai mengkilat…hehe,” ujarnya.

“Seep, afwan waiyyakum. Muantabh akh, kita akan terus seperti ini ya, saling mengingatkan dalam kebaikan. Apalagi ini terkait Sunnah Rasulullah, ‘Kebersihan bagian dari Iman’. Para Sahabat pun mengikutinya, sebagaimana Ibnu Mas’ud RA pernah berkata mengingatkan agar menjaga performa, ‘Hendaklah kalian menjadi sumber-sumber ilmu, lampu-lampu hidayah, peralatan rumah tangga, pelita-pelita pada malam hari, hati yang baru dan pakaian yang tidak usang. Diketahui oleh penghuni langit dan tersembunyi dari penghuni bumi,'”

“Wah, Subhanallah…jadi bukan hanya sekadar kecakapan ilmu saja, tapi penampilan juga harus diperhatikan,” katanya.

“Yup Akhi…dan satu lagi hal yang perlu kita perhatikan bersama dan ane ada pantunnya neh…”

‘Para aktivis berjejer rapi
Paling Bangga dengan jacket organisasi

Cinta banget setengah mati
Jacket pun dipakai berhari-hari

Berrat hati untuk Mencuci…
Hingga baunya Allahu Rabbi…’

“Hahahaha…” kami pun tertawa bersama, sembari menuju gedung kuliah.

Saudaraku, yang merasa jangan manyun yaa. Mari kita berbenah. Jangan ada ‘Bau Badan’ di antara kita. Karena kita adalah aktivis. (^_^)V

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (18 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Akmal Ahmad
Sarjana Sains (S.Si) di bidang Fisika, FMIPA Universitas Andalas, kini aktif di bidang Social Entrepreneure.
  • Abdullah Mujahid Hamdan

    mantap

Lihat Juga

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mengisi sesi Leadership Talk saat Rakornas PKS, Depok, Jawa Barat, Senin (12/1/2016). (ist)

Prabowo: Aktivis Islam Harus Warnai Politik